Karena Tabayyun

Gara-gara Tabayyun
Manusia itu satu paket dengan masalahnya. Manusia yang merasa tak punya masalah justru itulah masalahnya. Tapi ketika kamu dihadapkan dengan seseorang yang punya masalah begitu kompleks, setelah mengembalikannya pada hukum syara, tak cukup sekedar menyelesaikannya saja.
Seperti saya tadi. Awalnya saya hanya berniat tabayyun untuk memperoleh kebenaran dari berita yang simpang siur. Tapi tanpa sengaja (atau terpaksa ya?) ternyata saya tercebur dalam suatu masalah yang begitu rumit. Bukan saya yang kena masalah, tapi saya termasuk golongan orang yang terpaksa dikasih tau tentang hal yang sifatnya begitu rahasia dan penting karena masalah tadi. Penasaran ya? Tinggal menunggu waktu saja masalah itu akan benar-benar tuntas, meski kemudian para orang yang terkait di dalamnya akan menghadapi masalah baru, yang saya pikir dapat mengganggu kehidupan mereka minimal dua tahun ke depan.
Saya mau nulis nggak jelas biar masalah ini tetap bias bin kabur. Lalu apa artinya tulisan ini? Yah, tujuannya adalah agar kita ingat untuk mensyukuri segala yang Allah kasih, dan mensyukuri masalah kita tidak sepelik masalah orang lain. Sebatas itu nggak papa kan?
Tapi dari permasalahan dan proses tabayyun itu, saya mempelajari beberapa hal.
Pertama, syukur. Ternyata masalah-masalah yang selama ini saya hadapi tidak pernah sampai se-ekstrim dia. Oke, saya semakin berani menatap masa depan. Halah.
Kedua, pengklarifikasian itu bener-bener perlu en butuh.
Jangan sampai kita menjudge seseorang terlalu cepat. Asumsi asumsi itu lamat lamat akan memakan nurani kita apabila yang kita lakukan adalah ghibah dan memperbanyak orang yang tahu tentang suatu hal yang sebenarnya kita belum tahu secara pasti tentang sesuatu. Serius nih. Dari pengalaman, sering terjadi tuduh menuduh begini begitu, yang sampai jadi opini umum. Padahal berita itu belum tentu benar. Yah, kayak materi kajian kamar saya pas dapet giliran ngisi kajian asrama per-angkatan tempo hari. Tapi realitasnya ga semudah teori. Perlu banyak pembiasaan agar kita khususnya anak-anak asrama ngeh cara berfikir benar, dan ngeh tatacara tabayyun yang pas, biar tu aib ga nyebar kemana-mana, apalagi kita belum tau apakah itu bener melangga hukum syara atau nggak, jangan-jangan kita malah memfitnah. Lagi lagi ini emang yang sering menimbulkan banyak konflik. Kelupaan dalam menggunakan proses berfikir yang benar. Jadilah asumsi asumsi itu yang bermain. Ah, entahlah pusing saya mikir tulisan ini. Singkat kata menilai seseorang itu jangan pakai asumsi dulu bung en non. Apalagi asumsi buruk tentang seseorang yang tidak terlalu kita kenal. Bahaya bener.

Iklan

Lebih manis dari delima

Cerita ini terjadi pada masa tabi’in. Ada seorang budak, taruhlah namanya fulan. Majikannya memerdekakannya karena kejujuran fulan dan keluhuran budi pekertinya. Setelah itu, fulan bekerja pada seorang yang sangat kaya raya sebagai penjaga kebun delima.

Suatu hari, sang pemilik kebun memanggilnya, “Fulan, tolong petikkanlah delima yang paling manis dan masak untukku”. Fulan langsung menuruti perintah tuannya. Tapi begitu tuan memakan delima yang dipilihkan fulan, ternyata delima itu belum masak dan sama sekali tidak manis. Sang pemilik kebun marah, “Fulan,apa kamu tidak bisa membedakan delima yang manis dan delima yang masam?” “Maafkan saya tuan, saya belum pernah memakan delima, bagaimana saya bisa membedakan mana yang manis dan yang masam?”, jawab si fulan. “Apa? Kamu sudah bertahun tahun menjaga kebun ini dan kamu bilang tidak pernah memakan buah delima? Beraninya kamu berkata seperti itu.” “Demi Allah tuan, saya tidak pernah mencicipi satu buah delima sekalipun dari kebun tuan. Bukankah tuan menyuruh saya menjaga kebun, tidak untuk mencicipinya?” pemilik kebun itu diam.

Tapi sang pemilik kebun itu tidak langsung percaya, ia menanyakan kepada Baca lebih lanjut