Bersyukurlah

Orang orang melewatiku dengan bahagia. Menenteng tas belanjaan, ntah isinya tablet baru, laptop baru, atau sekedar asesoris blackberry.
Mereka melaluiku dengan gembira. Tampak senang sekali.
Kadang ada yang sempat menoleh ke arahku. Melihat,lalu berjalan kembali. Ada yang melirik,tetap sambil bercanda dengan teman atau pacarnya. Ada yang dahinya mengernyit. Ada yang tak peduli. Ada yang cemberut,mungkin barang limited edition yang ingin dibelinya habis. Atau kelelahan membawa begitu banyak barang.
Aku bangkit dari tempat dudukku. Meskipun tetap saja mereka lebih tinggi daripada aku yang sedang berdiri. Allah memang menciptaku dengan keterbatasan ini. Aku tidak marah. Aku takkan menggugat Tuhan. Aku tau inilah takdir,dan tugasku adalah bersabar serta tetap menjalankan kehidupan sesuai aturanNYA. Tapi.. kuamati sekitarku.. entah, aku yang lemah menghadapi dunia kapitalistik ini atau makhluk kapital dan dunialah yang terlalu kuat untuk membuat bahagia hanya mampu dibeli oleh uang.
Itukah bahagia menurut mereka? Ketika mampu membeli gadget baru? Ketika kebutuhan extra tersier itu bisa terpenuhi?
Padahal bahagia itu sederhana. Jika mereka menyadari fisik mereka yang lebih sempurna.. jika mereka sadari mampu melangkah dengan mudah.. bahkan memiliki jemari yang rapi saja.. bahkan memiliki dua buah lengan dan kaki yang normal saja..
Bersyukurlah.
Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

@ serambi sebuah pameran elektronik

Iklan

Pasir Putih dan Pesonanya

Sudah lama, sejak awal tahun 2012 saya pingin berkunjung ke salah satu pantai pasir putih di gunung kidul. Pasti, browsing dulu. salah satu pantai yang bikin saya kepincut, pantai Sundak. seperti ini foto pantainya yang saya dapat dari salah satu situs wisata yogyakarta.

Image

dan.. akhirnya, pada pertengahan Juli 2012 saya bisa menemuinya..

Image

kok beda ya? langit dan lautnya tak sebiru dan tak seindah dahulu.. cie. but, noprob lah. kite lah jaohjaoh kemarii, itu mungkin kata nafsiah.

Jadi ceritanya, kami emang pingin ngerefresh pikiran yang penat. Seperti yang pernah saya katakan, obat futur itu di antaranya ada tiga: baca buku, berinteraksi, dan tadabbur alam.

Yah, pas ngobrol2 di tempat PKL-an, ternyata  ibu bos dan mbak2nya yang disana cerita kalau mereka pernah ke pantai di Gunung Kidul pas tahun baru. hmm, ini termasuk manajemen reward buat para pegawai. Nah, mereka bilang perjalanannya hanya satu setengah jam sampe dua jam. Oke, sepulang PKL, kami langsung merancang semuanya, termasuk mengajak teman-teman yang lain. Ah, sayang mereka ngga bisa ikut, tapi kami tetap maju. Awalnya, yasudahlah, mastato’tu, semampunya aja, kalau setengah jalan udah kelenger ya pulang.

Kami berdua berangkat naik motor, sekitar pukul enam pagi. Jalanan Gunung Kidul memang sarat dengan tikungan, itulah serunya. Tak terasa pukul tujuh lebih kami sudah memasuki kota wonosari. Kami mampir toko sebentar, sambil ganti menyetir, lalu berangkat lagi. Setiap orang yang kami tanyai pasti tau dimana letak pantai. Bahkan ada bapak-bapak yang langsung berkata, “Pantai ke kiri mbak”, padahal kami baru berhenti di hadapannya belum bertanya. Ada bapak-bapak lain yang bilang, “Pantai sekitar 7 km lagi mbak”. Wah, kami semakin semangat. Anehnya, kami berjalan lebih dari 10km, tapi tak nampak Baca lebih lanjut