Manusia dan hubungannya dengan sesama

Masalah selalu ada, unik pada tiap orang. Everyone has his own problem. Akhir-akhir ini saya mengindera banyak sekali masalah di sekitar saya. Sudah barang tentu sistem kapitalistik ini ujung pangkal segala problema, karena menafikkan aturan Sang Pencipta manusia yang Mahatau seluk beluk manusia.

Kalo BBM naik, harga kebutuhan mahal, miss world mengancam budaya islam di Indonesia, deskriminasi atas kaum muslimin di berbagai wilayah, rendahnya moral bangsa, krisis sosial yang akut, pergaulan masyarakat amburadul, tingginya korupsi, minimnya ketaatan dan pengetahuan agama, SDA dikuasai orang kafir, gak mutunya sinetron, peracunan pemikiran barat melalui televisi, jongkoknya pendidikan, gak terdistribusinya harta dan kesejahteraan untuk semua rakyat, dan segala masalah negeri ini gak kunjung usai, itu semua masalah politik. Ini mah masalah negara, masalah kita semua. Kenapa kita harus merasakan pahitnya penderitaan hidup seperti ini? Sudah sering dibahas bahwa ini semua adalah wajar terjadi di sistem yang tidak ideal. Yakni sistem yang gak pakai aturan Yang Maha Sempurna. Untuk keluar dari masalah ini maka kita harus berjuang agar syariah bisa diterapkan oleh khalifah dalam negara islam. Kita coba bangkit, jangka pendeknya menyelesaikan masalah kita semampunya, tawakkal, sabar, tapi juga memperjuangkan solusi jangka panjangnya, perubahan sistem.

Tapi di satu sisi, kita juga dibenturkan dengan masalah-masalah seputar hidup bersama dengan manusia lain, manusia dan hubungannya dengan sesama.

Saya mendapati orang-orang yang membenci kawannya, orang yang berasumsi buruk, orang yang tak mampu mengendalikan ego dan emosi, orang yang sulit difahamkan tentang suatu yang haram itu haram, orang yang sulit diajak berfikir politis, orang yang lebih mementingkan kenyamanan dirinya ketimbang bersusahpayah untuk berdakwah, orang yang keukeuh memegang prinsip tapi remeh temeh dan tidak berdalil, orang yang tidak patuh pada pemimpin, orang yang bekerja tapi tidak ikhlas, orang yang lemot menjalankan amanah karena tidak totalitas dan tidak yakin akan tugasnya, orang yang suka mengingatkan orang lain tapi lalai mengingatkan dirinya, orang yang melihat orang lain terlampau subyektif, orang yang suka mengkritik orang lain tapi beraninya main belakang, orang yang terlalu fanatik pada idola kafir, orang-orang alay yang banyak menghabiskan waktu untuk hal tak berguna, orang yang terlalu menggampangkan sesuatu, atau orang yang membuat segalanya jadi rumit berlebihan, orang yang enggan sekedar piket membuang sampah, orang yang malas sekedar berjalan beberapa meter ke masjid untuk shalat berjamaah dan mengaji bersama, orang yang menganggap intelektualitas itu berdasar jurnal dan karya ilmiah, orang yang melanggar janjinya tapi marah jika orang lain tidak tepat janji, orang yang menuntut orang lain agar sempurna, orang yang meremehkan hasil karya/hasil kerja orang lain, orang yang bisa marah hanya karena tidak kebagian makanan, orang yang sulit menghargai proses yang telah dijalani orang lain, orang yang suka protes terus, orang yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk nonton, orang yang masih melihat kebenaran dari siapa yang mengatakan, orang yang kata-katanya sering menyakitkan orang lain, orang yang hanya mau berteman dengan orang-orang tertentu saja, bahkan orang yang menganggap dirinya buruk dan merasa tak layak menempati posisi hari ini.

Huff. Capek sendiri memang, kalau kita memikirkan masalah-masalah itu. Ingin rasanya menghindar dari semua orang, mengurung diri, pasang headset dan stel musik keras-keras. Atau mengasingkan diri entah pergi kemana tanpa arah, atau makan coklat dan es krim banyak-banyak. Baiknya sih shalat trus nangis, baca qur’an trus nangis. Tenang. Tapi nggak cukup gitu aja to? Setelah dari kamar, setelah bepergian, setelah kenyang makan es krim coklat, setelah pulang dari masjid, kita akan bertemu orang-orang ‘itu’ lagi. Lalu?

Tunggu, tunggu dulu. Jadi apa sih sebenarnya masalah kita sama mereka? Benar gak mereka itu emang gak suka sama kita? Benar gak kalo mereka itu emang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada oranglain? Benar gak dia itu punya keburukan begini begini? Trus kita galau dengan semua ketidakjelasan itu? idih.

Just ask!! Komunikasikan!!

Tanya! Ajak ngobrol kenapa kamu marah? kenapa kamu nggak ikhlas? kenapa kamu nggak mau denger perintah pemimpin? kenapa kamu nggak mau berteman sama si anu? kenapa kamu nggak bisa ngehargain orang lain? kenapa kamu nggak mau shalat di masjid? kenapa kamu ngomongin orang di belakang? kenapa kamu nggak mau piket? kenapa kamu nyontek? kenapa kamu bikin janji yang kamu langgar sendiri? kenapa kamu nggak care sama orang lain?

Dan ketika kita menanyakan itu pada orangnya langsung, kita akan dapat jawaban langsung dari mulut orang yang kita duga bersalah. Bisa jadi dia memang lupa janji, atau karena sibuk atau karena motornya tibatiba harus ke bengkel, atau karena hapenya hilang. Bisa jadi dia telfon-telfonan sama ikhwan karena si ikhwan itu temen deket SMAnya, dan dia menyadari bahwa itu kekhilafan dan dia janji takkan mengulanginya lagi. Bisa jadi dia menyontek karena belum ngeh bahwa nyontek akan membuat amalannya tidak barokah karena melanggar perintah Allah untuk jujur. Bisa jadi dia memang belum faham skala prioritas sehingga kerjaannya hanya main dan nonton seharian. Atau bisa jadi dia memang sedang refreshing dengan main game sejenak setelah seharian beraktivitas, nggak masalah kan? Bisa jadi dia bukan tidak taat dengan pemimpin tapi kebetulan dia sedang tidak mood ketika ada perintah, atau ada masalah di keluarga, atau sedang sakit, dsb.

Semua akan terjawab jika dikomunikasikan. Bisa jadi dia ‘bermasalah’ karena lupa, atau khilaf, atau memang kesalahan berfikir. Kalau ternyata paradigma berfikirnya yang salah, itulah yang harus kita fahamkan. Mengubah pola pikirnya itulah yang kita lakukan agar sikapnya berubah, tidak ‘bermasalah’ lagi.

Jangan pernah menghukumi seseorang itu melakukan kesalahan dari cerita orang lain, apalagi kalau orang itu juga mendengar dari orang lain juga. Jangan pernah menuding seseorang tidak berakhlak, hanya dengan melihat dia pernah melakukan kesalahan. Jangan pernah menganggap orang lain bersyakhsiyah rendah, hanya dari penampakan luarnya. Jangan pernah mengira seseorang ‘bermasalah’ dengan kita sebelum konfirmasi langsung dengan dia. Khusnudzon aja, dibawa enjoy aja. Kalo ada yang ganjil, tanyakan, apa maksudmu begini dan begini? Membiasakan berfikir benar. Kan komponen berfikir itu empat: fakta, indera, otak, informasi sebelumnya. Nah, insyaAllah alhamdulillah kita punya otak yang sehat dan indera yang lengkap. Jadi  berfikir yang salah adalah jika fakta yang kita dapat tentang sesuatu itu tidak valid dan informasi sebelumnya tentang sesuatu adalah informasi yang salah. Jadilah kesimpulan kita salah. Get the point??

Seandainya memang dia bermasalah dengan kita, jangan dulu kehilangan asa, merasa menjadi orang yang gagal. Sakit memang, pahit memang, jika ada orang yang terang-terangan mengatakan kebenciannya kepada kita. Introspeksi, dan mulailah berubah. Bukan berubah mengikuti apa yang orang itu inginkan, tapi berubahlah menjadi lebih menaati syariat, dan berakhlak dalam segala hal, tentunya lebih ideologis dari sebelumnya. Biar waktu yang menjawab perubahan kita. Allah yang menilai proses perubahan itu.

Manusia itu nggak pernah ada yang sempurna, kecuali Rasulullah. Manusia pasti salah, pasti lupa, pasti khilaf, pasti kurang. Positive thinking aja, dan kita pun tetap berlaku seperti biasanya, senantiasa melaksanakan syariat yang mengatur hubungan kita dengan sesama manusia dengan baik, juga tetap berusaha menjaga akhlak yang baik. Tentu tanpa meninggalkan upaya untuk amar ma’ruf nahiy munkar, serta upaya menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk meningkatkan syakhsiyah islam.

Wallahu a’lam.

#perbaiki syakhsiyah sembari opinikan revolusi sistem.

Iklan

Hai, Cantik!

Saya punya teman yang dia katakan dirinya pandai meramal. Bukan meramal ala mama lauren beneran, sebenarnya dia itu cuma pandai menebak-nebak. Tentunya setiap tebakan dia kaitkan dengan informasi yang ia dapat. Jadilah dia suka menganalisis seseorang. Okelah, saya nggak ngomong dia peramal, tapi analis. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Dia jadi peramal atau analis, nggak ada hubungannya kok dengan cantik ato nggak cantik. Masa saya mau bilang orang cantik adalah orang yang pandai menganalisis? Ya nggak geto juga kalee.

Teman saya satu itu juga suka menilai orang, cantik-nggak-nya. Dia sih nggak pernah ngomentarin orang lain jelek ato biasa-biasa aja, tapi kalo ketemu yang cantik versi dia, pasti dia heboh (lebay) bilang akhwat yang itu cantik!

Teman saya yang lain lagi, dia punya empat list akhwat yang seandainya teman saya itu jadi ikhwan, dia pingin menikahi keempatnya. Saya pernah nanya ke dia, tapi lupa jawaban dia apa. Yang jelas bukan karena dia lesbi. Na’udzubillah. Oya saya jadi inget pernah baca tulisan yang intinya kayak teman saya yang ini. Dia ngelihat akhwat yang menurut dia cantik, trus saking subhanallah-nya, pingin kali jadi kaya akhwat yang itu. Tapiii, cantik yang seperti apa nih??? That’s the point! Baca lebih lanjut

Dibalik ‘Be YourSelf’ (Repost from Empi)

Image

Tak seperti bintang di langit
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Dan wajahku memang begini
Sikapku jelas tak sempurna
Ku akui ku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Menjadi diriku
Dengan segala kekurangan
Menjadi diriku
Atas kelebihanku…….

Terimalah aku
Seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa
ku tak sempurna

Tetap ku bangga
Atas apa yang ku punya
Setiap waktu ku nikmati
Anugerah hidup yang ku miliki
(menjadi diriku by edcoustic)

Pernah suatu pagi saya mendapat sms inspirasi yang isinya:

masing masing kita dilahirkan unik, jadi, kita tidak perlu setengah mati meniru orang lain.

Be yourself.
—————————————————————————————————-

Tapi dibalik kata2 itu…. ternyata.. Baca lebih lanjut