Pria Kecil Kami

Selayaknya anak kecil, ia biasa lakukan kebandelan laki-laki. Sekalinya pergi main bareng temen-temennya hampir selalu pulang sore. Entah bersepeda keliling kampung, entah menyusuri kebon, entah nyangkut di rental PS, entah nyemplung ke kali. Nginjak beling, kena ulat, ato insiden lainnya tak pelak sudah sering ia alami. Tak heran tubuh kurusnya banyak luka disana-sini, kulit gelapnya juga tak mulus.
Suatu siang, pria kecil itu pulang dari sekolahnya, SD Alam Mutiara Umat.
Sebelumnya, ia diantar jemput dengan motor. Butuh waktu sekitar sepuluh menit
menuju sekolahnya. Kini ia lebih suka bersepeda sendiri. Siang itu ia pulang terlambat. Wajah kusamnya penuh peluh, sebelah matanya yang sedang sakit bertambah perih. Rupanya ban sepedanya bocor sejak di sekolah, lalu ia tuntun sepedanya untuk pulang ke rumah. Padahal mudah saja ia telfon orang rumah untuk menjemputnya. Tapi katanya, “Itu sudah kufikirkan, tapi sebatas kufikirkan.”

Pria kecil itu penyuka sains. Aku ingat dia Baca lebih lanjut

Iklan