Hai, Cantik!

Saya punya teman yang dia katakan dirinya pandai meramal. Bukan meramal ala mama lauren beneran, sebenarnya dia itu cuma pandai menebak-nebak. Tentunya setiap tebakan dia kaitkan dengan informasi yang ia dapat. Jadilah dia suka menganalisis seseorang. Okelah, saya nggak ngomong dia peramal, tapi analis. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Dia jadi peramal atau analis, nggak ada hubungannya kok dengan cantik ato nggak cantik. Masa saya mau bilang orang cantik adalah orang yang pandai menganalisis? Ya nggak geto juga kalee.

Teman saya satu itu juga suka menilai orang, cantik-nggak-nya. Dia sih nggak pernah ngomentarin orang lain jelek ato biasa-biasa aja, tapi kalo ketemu yang cantik versi dia, pasti dia heboh (lebay) bilang akhwat yang itu cantik!

Teman saya yang lain lagi, dia punya empat list akhwat yang seandainya teman saya itu jadi ikhwan, dia pingin menikahi keempatnya. Saya pernah nanya ke dia, tapi lupa jawaban dia apa. Yang jelas bukan karena dia lesbi. Na’udzubillah. Oya saya jadi inget pernah baca tulisan yang intinya kayak teman saya yang ini. Dia ngelihat akhwat yang menurut dia cantik, trus saking subhanallah-nya, pingin kali jadi kaya akhwat yang itu. Tapiii, cantik yang seperti apa nih??? That’s the point! Baca lebih lanjut

Iklan

subyektifitas

Suatu siang, ketika saya kelas dua SMA, saya lagi di sebuah tempat fotocopy yang cukup laris di daerah saya. Saya berdiri di samping etalase, seperti biasa. Menunggu sebentar karena pengguna jasa fotokopi saat itu hanya saya sendiri. Saya pandangi mbak mbak penjaga tempat fotokopian itu. dia konsentrasi mengkopi lembaran lembaran yang saya beri, dengan sesekali melirik ke arah saya. Lalu sambil menjepret fotokopian dengan stapler, mbak itu mengajak saya ngobrol. “SMP nya dimana dek?” wackssss…

Suatu ketika saya pergi ke sebuah counter pulsa. Bertransaksi sebentar dengan mas mas penjaganya, menyebutkan nominal pulsa dan nomor tujuan. Melihat jilbab (gamis) dan kerudung panjang yang saya pakai, sambil menunggu pulsa terkirim, si mas akhirnya bertanya pada saya, “mondoknya dimana lo dek?”

Suatu hari saya sedang ingin rajin. Padahal rajin itu bukan keinginan ya tapi keharusan. Saya menyapu teras, merapikan kursinya, mengumpulkan dedaunan kering tanaman umi di depan rumah lalu membuangnya, dan terakhir membersihkan kaca pakai pembersih kaca tentunya. Saya ingat sekali, saya pakai jilbab (gamis ) warna pink dan kerudung hitam. Kemudian di pantulan kaca itu saya lihat ada seorang bapak dengan sepeda kayuhnya lewat. Bapak itu berlalu sambil berucap, “wis resik bu omahe..” (sudah bersih bu, rumahnya) ah si bapak manggil saya ibu..

Suatu sore perjalanan pulang dari les, saya mampir ke pom bensin meminumi motor saya yang haus. Waktu itu saya tidak sedang pakai seragam sekolah, saya sudah ganti pakai jilbab (gamis) yang biasa dipakai keluar dan pakai jaket. Kerudung pasti ngga lupa lah. Si mas yang ngisiin bensin nanya, “pulang kuliah ya mbak?”. 🙂 “ah? Ngga mas, saya masih SMA kelas tiga”. Oiya, waktu itu saya sudah pakai kacamata. jadi keliatan lebih dewasa mungkin.

Suatu siang di parkiran sekolah. Saya lagi berdesakan berjalan pelan pelan menuju motor teman saya. Di depan saya sedang tegak motor honda supra x 125 dinaiki oleh siswi kelas dua, badgenya warna kuning. Dia memandang saya, lalu berkata dengan nada standar, “permisi, dek”. Saya agak menyingkir dalam diam saja. hmmm..coba badge ijo saya pertanda kelas tiga punya saya dipasang di kerudung ya..

Beberapa waktu lalu, saya, mahasiswi semester tiga, mampir ke sebuah angkringan bersama dua orang teman. Saya pakai kerudung lebar warna putih dan menyandang tas ransel tapi tanpa kacamata. Dua orang teman saya badannya jauh lebih bongsor dari saya padahal umurnya selisih beberapa bulan lebih muda dari saya. Si bapak angkringan berkomentar, “lho, yang ini kok kecil? Umur berapa?” “Dua puluh, Pak”, sahut saya. Si bapak ngga percaya, “hah, masa sih, kok kaya anak kelas enam SD aja”

Suatu malam beberapa hari sebelum Ujian Akhir Semester tiga, saya melewati lorong asrama angkatan 2009. Saya dipanggil oleh dua orang kakak angkatan saya yang lagi makan malam. “iffah..iffah.. sini dek..” “ya mbak…. kenapa??” “yuk makan..” “oh, udak kenyang e mbak..” saya langsung ngeloyor pergi. Tapi mereka manggil saya lagi, “fah..fah..fah..fah.. sini dulu dek” saya mendekat lagi, “kenapa sih mbak” “sini dulu lah bentar..” “iya mbak ada apa?” “kamu itu……….. mirip……Nike Ardila” *gubrag*

Ya, begitulah, inilah subyektifitas dan relativitas otak manusia. Urusan begini ecek-ecek aja udah macem2 apalagi bikin undang-undang..

 

-Iffah wardah- 14 januari 2012