For Muhasabah

Saya inget suasana konferensi dua hari lalu. Saya semakin yakin, bahwa kemenangan islam itu sangat amat dekat. Khilafah nyaris kembali. Mungkin memang sudah saatnya nashrullah itu datang, dan kita buktikan pada para pencibir bahwa islam memimpin dunia merupakan janji Allah yang tidak dapat diingkari.
Isak tangis siang itu mengingatkan saya pada hal-hal sepele yang kadang jadi alasan kegalauan stadium akut. Aneh, masa pejuang islam yang ngurusin permasalahan umat justru tidak bisa menyelesaikan problem pribadinya.
Juga sebagai tamparan bagi saya yang belum mampu mencipta karakter pengemban dakwah tangguh pada ‘anak-anak’ binaan saya. Isakan itu makin keras tatkala ingatan beberapa tahun lalu hadir. Dikala pembina saya merasa bersalah atas didikannya yang kurang tepat. Padahal kelalaian saya waktu itu bukan karena beliau.
Tapi ada pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saya sadar, saya bukan jadi pembina terpintar buat mereka, yang tahu segala hal, yang bisa mengkoordinir dengan sempurna. Saya berfikir, berapa banyak hal yang mereka dapatkan dari saya?
Muslim belahan dunia telah begitu semarak berjuang menyambut khilafah. Banyak pengorbanan yang mereka lakukan. Harta, waktu, keluarga, kuliah, pekerjaan, bahkan nyawa. Kalau kami?
Kami masih terlalu disibukkan dengan masalah kecil. Tugas kuliah keteteran, organisasi intern kampus kurang optimal, masalah asrama, mahad, ato apalah. Sadar woy! Plis!
Orang cerdas itu orang yang mikir akhirat. Tapi bukan berarti tak becus mengurusi permasalahan pribadi. Juga sebaliknya, jangan cuman mikirin diri sendiri sampe nggak care dengan masalah sodara seiman.

-o0o-

Ya Allah…
Kami tahu dakwah di jalanmu adalah amalan tertinggi nan agung. Memperjuangkan syariatmu dan khilafah sebagai penjaganya adalah kemuliaan. Terkadang kami malu menyebut diri pengemban dakwah. Engkau melihat kelemahan kami dan minimalisnya dakwah kami. Tapi, jangan Engkau biarkan kami terhempas dari barisan ini, Rabbi. Buat hati kami teguh dan raga kami kokoh untuk bertahan. Meski langkah ini harus terseok dan terseret-seret. Istiqomahkan kami untuk melayakkan diri. Karena kami yakin akan janjiMu. Karena kami yakin surgalah balasannya.

Iklan

Konferensi Intelektual Muslimah untuk Bangsa

Ini tentang KIMB, Konferensi Intelektual Muslimah untuk Bangsa yang digelar pada hari Ahad, 20 Mei 2012 lalu di graha wisma makara, Universitas Indonesia. 2000 intelektual muslimah (mahasiswa dan teknisi pendidikan) dari mancapulau dan berbagai belahan daerah penjuru nusantara hadir dalam acara bertajuk “Khilafah: Jalan Baru Melahirkan Generasi Cemerlang” yang diselenggarakan oleh MHTI ini.

sekitar pukul tujuh-an pagi, bis kami rombongan yogyakarta akhirnya sampai juga di pelataran sekitar wisma makara. Lega. Setelah sebelumnya kami beruyel-uyelan ngantri penuh sesak di kamar mandi masjid at-tiin TMII, gara-gara barengan sama rombongan palembang. Ngantrinya lebih parah ketimbang di asrama.

 

Image

Ini deretan bis-bis berbagai macam plat nomor yang diparkir di sekitar gedung konferensi. Oya, ada juga pak tifatul sembiring dengan mobilnya, lewat dekat bis kami.

Rombongan yogya cuma terdiri dari dua bis, untuk menyesuaikan kuota perdaerah yang telah dibagi karena target peserta hanya dua ribu orang. Jadilah dari hamfara Cuma tiga puluhan orang aja yang bisa ikut. Bahkan angkatan 2010 Cuma berenam. Saya sendiri secara dadakan baru h-2 ditawari untuk ikut oleh atasan (ceilah) kayaknya sih menggantikan peserta lain yang kaga jadi berangkat.

Image

Suasana depan graha makara sebelum peserta melakukan registrasi. Sejuk, rimbun, banyak yang jalan pagi. Bersyukurlah, karena jalan kami ke UI adalah demi hal yang lebih besar daripada kesehatan pribadi.

Dan, akhirnya kami masuk ke dalam gedung konferensi…

Image

Image

Subhanallah, saya berada di antara ribuan intelektual muslimah se indonesia. Bukan Cuma mahasiswi biasa, tapi aktivis yang insyaAllah telah siap untuk memperjuangkan kebangkitan islam yang sesungguhnya.

Ada enam speaker penuh semangat bara islam yang membacakan orasi. Di sela-selanya ada teatrikal yang menggambarkan mahasiswi jaman sekarang. Mulai dari si individualis, si study oriented, si pacaran maniak, si aktivis sebatas eksistensi diri, dan aktivis islam ideologis.

Itulah kondisi generasi kita saat ini. kontras sekali dengan generasi islam yang dulu.. remaja saat ini disibukkan oleh perkara remeh, hasil copas dari barat lagi. Padahal dulu, umur belasan tahun saja, intelektualitasnya itu,… manteb deh.

“..profil intelektual yang khas… semakin tinggi ilmunya, semakin tinggi kepeduliannya bukan hanya untuk kepentingan pribadinya, semakin tinggi ilmunya, semakin kencang dakwahnya, semakin kuat semangat juangnya, semakin tinggi pula kedekatan dengan Rabbnya…” begitu beberapa kalimat dari speaker kedua yang saya ingat. Ya memang gini muslim yang intelek. Beda kalo intelek tapi ngga didasari aqidah islam, tau deh keintelektualannya bernilai apa.

Nah, sebelum speaker yang paling spektakuler, kami break dulu untuk ishoma. Shalatnya sebagian di masjid UI. Kami menuju kesana dengan bis. Berikut panorama yang tercapture oleh lensa mata dan lensa kamera saya.

Image

Pembicara spektakulernya adalah Nazreen Nawas, dai HT Britain. Beliau orasi pake bahasa inggris.

Image   Image

“Pemuda Islam adalah orang-orang yang menolak ide egois individualisme dan materialisme, serta peduli terhadap urusan masyarakat mereka, umat mereka, dan dunia. Mereka memerintahkan hal yang ma’ruf, dan mencegah kemungkaran, dan berdiri melawan ketidakadilan dan korupsi di mana pun mereka menemukannya. 

Mereka adalah agen perubahan, berusaha untuk menghapus kesulitan, beban dan penindasan yang dihadapi umat manusia dengan Islam, karena mereka menyadari bahwa mereka memiliki solusi untuk berbagai masalah dunia di dalan Din mulia yang mereka bawa. 

Pemuda Islam adalah orang-orang yang menjaga Islam, yang senantiasa menyerukan kebenaran, dan memahami tugas besar mereka untuk menyampaikan Islam kepada umat manusia. Mereka adalah orang-orang memiliki ketajaman pikiran seperti Aisyah ra di mana telah hafal 2000 hadits pada usia 18 tahun. 

Mereka adalah orang yang kuat dalam berbicara seperti Ja’far bin Abi Thalib yang pada usia 20 tahun dapat memenangkan dari penguasa Habsyah, Najasy dengan kekuatan argumennya, yang dengan kekuatan karakter dari Fatima ra putri Nabi Saw yang berdiri kuat melawan para pemimpin Mekkah ketika mereka menganiaya ayahnya, dan dengan keberanian dari Abdullah bin Mas’ud seorang remaja berusia 14 atau 15 tahun tanpa rasa takut pergi ke tengah-tengah Quraisy untuk membacakan Al-Quran hingga ia dipukuli. 

Oleh karena itu saudara, pemuda Islam layak menjadi pemimpin umat manusia, memberdayakan dan memimpinnya dengan Islam, bukan para pembebek yang memeluk kebatilan,” urai beliau.

Oya ada yang lupa. Ada acara testimoni dari peserta. Aktivis mahasiswi dari palangkaraya, dari UI, dan dari Unair yang maju ke mimbar. Lagi lagi subhanallah deh.

Juga ada launching buku Jalan Baru Intelektual Muslimah, persembahan MHTI. Sebelum acara ditutup dengan doa, para penulis buku tersebut, dan perwakilan aktivis muslimah tiap pulau menandatangani ikrar intelektual muslimah.

Then, usai acara, waktunya kopi darat. Temu kangen bin reuni. Hmm.. memang ukhuwah dalam perjuangan ini serasa lebih manis. Istiqomahkan kami Ya Rabb, Wahai Maha Pembolak-balik Hati..

Image