EUP BEM Pembebasan 28-29 Des 2012

>> Masalah itu selalu ada. Tapi semoga kita bukan fokus pada masalah2 itu, tapi fokus pada tujuan.
>> Semoga kita bisa berusaha senantiasa untuk menuntaskan masalah,bukan dengan meninggalkannya
>> Niat kita berdakwah yang bernilai ruhiyah. Nilai maddiyah dan insaniyahnya cuma bonus.
>> “Untung” apa yang kita dapat? Yaitu bargaining position untuk mengontak dan menyebarkan opini islam kepada siapa saja.
>> Akhirnya dapet salam BEM: Kobarkan semangat, Lakukan Pembebasan, AllahuAkbar. Tapi pas pelantikan pada lupa.
>> Kedepannya kita akan berlari. Cepat, maju, dan unstopable.
>> Komitmen itu satunya ucapan dan perbuatan. Komitmen itu tidak sulit. Tapi kitanya yang sulit berkomitmen. Hayuklah, tinggal mengerjakan apa yang ktia katakan.
>> Plong banget pas nyeritain apa yang kita rasa. WIFLE: What I Feel Like Expression. Sampe berderai air mata gitu, nggak lebay kan?
>> Ternyata yang membatasi kita untuk disiplin itu adalah diri kita sendiri. Iya apa iya?
>> Children see, children do. (Tapi kok pas abii nyuci piring, nggak ngefek ke adek-adek ya?)
>> Pemimpin punya beban yang sangat berat di pundaknya. Yakinlah, tugas kita hanya membantu meringankan beban itu.
>> Pemimpinmu juga sedang belajar. Kamu juga, belajarlah untuk dipimpin. Dia punya hak prerogatif untuk tidak memberitahukan strategi perangnya. Sami’na wa atha’na. Tapi menyamakan persepsi juga penting. Sehingga tujuannya sama, dorongan untuk bergeraknya sama kuat pula.
>> Ketika kamu dan tim tidak bisa menemukan HOW untuk menyelesaikan masalah, mulailah memikirkan WHO yang bisa membantu kalian atau memberi pengarahan
>> Bukan “Just Let’s see” tapi “Just do it”
>> Bukan “I know that” tapi “Apa lagi?”
>> Yeah, it’s WORK!!

Iklan

Akankah Engkau Kembali?

Rangkaian kata-kata puitis ilmiahmu dengan ringan keluar dalam setiap rentet penjelasanmu yang gamblang. Aku tertegun. Baru kali ini aku menemukan keindahan intelektualitas seorang guru, pembimbing, pengarah. Memadukan antara cantiknya sastra dengan bahasa ilmiah dan referensi serta kevalidan data. Lagi, aku tertegun tanpa sedetikpun kugeser bola mataku pada sesuatu yang lain. Andai aku sempat menulis semuanya, apa yang engkau ucap. Begitu rupawan, seperti dirimu. Meski tanpa ekspresi, meski miskin gerak. Engkau beri aku pembuktian ilmu dan tsaqafahmu yang mengakar di otakmu.
—–
Anganmu, angan kita. Hendak menjadikan segalanya sempurna. Tapi nampaknya kita lupa, bahwa dalam diri ini masih ada bekas hitam pendidikan sistem kapitalis. Karenanya mungkin kita tak bisa sesempurna itu, tapi kewajiban kita adalah memastikan generasi berikutnya mendapatkan jaminan kehidupan yang lebih baik, tidak seperti hidup kita saat ini.

Jika aku mampu aku ingin bertanya, sudahkah kau temukan pengganti? Tempat baru dimana engkau dapat berkontribusi dalam gerak dakwah jamaah? Dengan ketidaksempurnaan, aku akan terus tergopoh menyongsong cahaya. Aku memilih mengetahui banyak hal meski sedikit demi sedikit. Aku memilih melakukan berbagai rangkaian paralel, bukan rangkaian seri. 

Dengan ketidaksempurnaan diri, aku yakin islam yang kubawa ini sempurna. Aku bertekad terus mengembannya hingga lusa, hingga selamanya, dengan jamaah ini.

Akankah engkau kembali, Teh?