Lebih manis dari delima

Cerita ini terjadi pada masa tabi’in. Ada seorang budak, taruhlah namanya fulan. Majikannya memerdekakannya karena kejujuran fulan dan keluhuran budi pekertinya. Setelah itu, fulan bekerja pada seorang yang sangat kaya raya sebagai penjaga kebun delima.

Suatu hari, sang pemilik kebun memanggilnya, “Fulan, tolong petikkanlah delima yang paling manis dan masak untukku”. Fulan langsung menuruti perintah tuannya. Tapi begitu tuan memakan delima yang dipilihkan fulan, ternyata delima itu belum masak dan sama sekali tidak manis. Sang pemilik kebun marah, “Fulan,apa kamu tidak bisa membedakan delima yang manis dan delima yang masam?” “Maafkan saya tuan, saya belum pernah memakan delima, bagaimana saya bisa membedakan mana yang manis dan yang masam?”, jawab si fulan. “Apa? Kamu sudah bertahun tahun menjaga kebun ini dan kamu bilang tidak pernah memakan buah delima? Beraninya kamu berkata seperti itu.” “Demi Allah tuan, saya tidak pernah mencicipi satu buah delima sekalipun dari kebun tuan. Bukankah tuan menyuruh saya menjaga kebun, tidak untuk mencicipinya?” pemilik kebun itu diam.

Tapi sang pemilik kebun itu tidak langsung percaya, ia menanyakan kepada Baca lebih lanjut

Iklan

give me your attention, please..

saat itu, umii dan abii sedang asyik mengobrol. asyik sekali. seperti biasa, dek nashrin caper. dia lalu memanggili umii abii, dan menyuruh umii abii diam. “umii diam, abii diam..” sejenak kemudian umii abii pun diam, menghadapkan wajah kepada anak bungsu mereka yang umurnya belum ada lima tahun itu. nashrin memang suka bercerita. dan seperti anak-anak lain, ia suka sekali diperhatikan. setelah yakin orangtuanya mendengarkan dia, nashrin mulai bicara lagi,”temenku.. temenku…….” sepertinya dia ingin menceritakan temannya sekolah tadi, hmm, apa ya, umii abii mulai penasaran. nashrin menengok ke kiri dan kanan, tak ada siapapun, kecuali barang2 yang biasanya berada disitu: lemari, meja, tivi, mainan, sepeda kecilnya, dan aquarium. umii abii terus memperhatikan polah nashrin hingga kembali dia bersuara, “temenku……….temenku………………………… temenku ikan.”