Amanah

Berawal dari ketidakbisaan saya mengikuti syawalan di kepuharjo (tempat KKN kami) jika harus berangkat dari pagi. Saya nitip kamera ke teteh saya satu itu. Sekedar titip untuk difotokan momen-momen penting disana sebelum saya datang. Singkat cerita, saya dan teman saya satu lagi -yang samasama ada agenda dulu- sampai di cangkringan sudah mendekati waktu jumatan. Usai shalat jumat, barulah kami temui sahabat-sahabat kami yang lain di huntap batur. Rupa-rupanya mereka juga sedang shalat dluhur. Kemudian rombongan akhwat mengunjungi rumah Pak Kuat, kepala dukuh Jambu. Dan disitulah awal cerita si amanah.
Namanya amanah. Sekarang saya menyebutnya amanah. Baru saja nyawanya saya ambil untuk memindahkan isi otaknya ke memori elektronik saya.
Di rumah itu teteh mengembalikan kamera. “Ini amanahnya saya kembalikan ya”
Tapi kawan-kawan saya itu telah terpuaskan dengan kerja si amanah di setiap pemberhentian mereka sebelumnya. Lalu amanah diperebutkan lagi. Akhirnya di setiap tempat berikutnya, sekalipun ada saya disitu, si amanah tetap saya amanahkan pada teteh. Dan tetehpun dengan senanghati memperlakukan amanah dengan baik sesuai peruntukannya.
Terimakasih amanah… Kamu mengabadikannya. Ketika mempererat jalinan ukhuwah dengan para tokoh desa. Ketika melewati jalur alternatif yang kini semakin seram dan berpasir. Ketika bersulang minum dan menghabiskan coklat. Ketika segelas teh hijau dengan dua sedotan. Ketika memilih antara wafer nissin dan wafer khong guan.
Terimakasih amanah, karena kami bisa mendapatkan hikmah. Bahwasannya sekecil apapun amanah itu harus dikerjakan. Sesepele apapun itu, jika telah menjadi tugas kita maka wajib untuk ditunaikan. Maka untuk amanah-amanah yang sedang menanti untuk dilirik, difikirkan, diupayakan, dituntaskan… kami katakan.. Tunggu kami ya. List To Do and Do Your List.

di rumah salah satu kepala dukuh [jepret by amanah] di tengah jembatan pagerjurang [jepret by amanah]

 

[jepret by amanah]

 

iff_

Iklan

The Cangkringan

Image

 

DSC02381

Adaptasi Cuaca
Jaket, kaoskaki, kaos tangan, selimut. Jadi kostum yang wajib dipakai untuk tidur malam. Super dingiiiin. Asli. Heran ada yang betah selama satu bulan Cuma berselimutkan kain sarung. Tapi ternyata suatu kali ketika temannya sedang tidak tidur di posko, ia pinjam badcovernya dan saat itulah ia merasa betapa hangatnya dunia.
Brr. Saat dingin begitu yang seru adalah ketika kamu jalan pagi menyapa warga lalu nafasmu berasap, persis seperti di film film korea.
Terakhir kami katakan dapur itu kulkas dan kamar mandi freezernya. Jadi plis, kami mohon dengan sangat kalo habis dari dua tempat itu langsung ditutup lagi pintunya ya.

IMG-20130731-WA0004

Image

Our life is dakwah, so KKN is dakwah and cangkringan is dakwah.
Kami semua adalah calon pakar ekonomi syariah. Tapi KKN kami tentu tak lepas dari dakwah. Dakwah adalah pusat gravitasi hidup. Selain mencoba menyelesaikan permasalahan ekonomi yang ada, kami juga melakukan berbagai pendekatan kepada semua lapisan masyarakat. Variasi kegiatan kami seperti bekam massal, pengajian ramadhan, pawai obor menyambut ramadhan, mengajar 10 TPA se-desa, pengajian ekonomi islam, pelatihan masak, pelatihan sablon, training remaja, training kader TPA, pelatihan pembukuan sederhana dan e-commerce, festival kali jilbab, bazaar sembako, festival anak sholeh, dan acara pengajian unik: Angkringan dakwah, yang diplesetkan menjadi Cangkringan Dakwah karena berlokasi di Cangkringan.

Infishal kelompoknya, d’first generation.
Untuk pertama kalinya di hamfara, tim KKN ikhwan terpisah dari tim KKN akhwat. Jadi dalam satu dusun hanya ada satu kelompok ikhwan atau satu kelompok akhwat saja. Atau mungkin bahkan konsep KKN seperti ini hanya satu-satunya yang pernah ada di dunia. (lebay). Ribet sepertinya? Ya. Agaknya. Karena masyarakat itu beragam dan tidak bisa kita hanya membuat program untuk ibu-ibu saja atau bapak-bapak saja. Tetapi untuk berbagai kegiatan taawun antar kelompok bisa terjalin. Konflik tentu ada dan wajar. Tapi alhamdulillah, bisa berakhir bahagia dan selalu di dalam karuniaNya. *eh kok kayak lagu

Image

Image

Image

TPA..oh TPA
Ini mungkin yang paling ngangenin selama KKN. Ketemu dengan anak-anak yang macem macem tingkah polahnya. Usai beraktivitas dari pagi hingga siang, rasanya enggan untuk tidak bertemu mereka sore harinya. Meski mereka pecicilan tidak keruan, sering harus dibujuk dulu agar mau ngaji, berantem, nangis, sedangkan kami juga capek. Tapi bersama mereka dan ceritanya membuat kami senang dan melunturkan kepenatan. Panggilan dari toa masjid selalu memiliki daya magnet yang kuat dan membuat kami bergegas datang. “Teman..teman.. Ayo Te Pe A. Sudah ditunggu di masjid..”
Sayang sekali, kebanyakan mereka hanya mendapatkan pengajaran baca tulis alqur’an hanya di TPA dan kadang TPA hanya aktif pada bulan ramadhan. Rasa-rasanya kami ingin terus disana dan memantau TPA mereka sampai alqur’an bisa lancar mereka baca dengan benar dan mereka lakukan isinya. Tapi, kami juga punya misi yang lain. Agar seluruh anak anak sedunia mendapatkan kemudahan akses belajar ngaji dan belajar islam dari dini.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Jalur alternatif
Puluhan truk melewati jalur utama setiap jam, sepanjang hari. Aspal di jalan itu hampir tak kelihatan. Sudah banyak yang rusak dan menyisakan tanah dan pasir. Melewatinya berarti berhati-hati terhadap dua hal: debu yang diterbangkan truk dan pasir yang siap menggelincir ban. Sudah banyak korban. Jalur alternatif? Jalur ini benar-benar alternatif. Bukan jalur yang lebih singkat. Jalur itu lebih cocok dikatakan jalan setapak yang dipaksakan untuk motor. Tapi bagi yang alergi dengan debu, jalur alternatif lebih ramah untuk paruparu. Tapi tidak disarankan untuk yang lemah jantung.
Pasca erupsi merapi 2010 lalu, jalan itu dilewati truk yang mengambil material. Entah batu atau pasir. Hampir tiga tahun rumah-rumah di pinggir jalur utama itu selalu dipenuhi debu. Kabarnya tahun 2014 nanti jalur utama itu akan diperbaiki dan akan dibuat jalur lain truk.

Satu bulan untuk mengenal warga, tapi belum cukup untuk memahami benar kehidupan mereka. Perlu proses yang lebih lama juga untuk mencipta sebuah kebiasaan baru yang berasal dari kesadaran islam yang benar.
Satu bulan adalah waktu kami untuk sedikit belajar bermasyakat, sebelum nantinya menghadapi dinamika dakwah di masyarakat yang sesungguhnya.