The Wedding Part 3 (habis)

Sambungan The Wedding Part 2

Souvenir

Buku mini warna pink dengan judul besar “Our life is dakwah” kami buat sendiri untuk dijadikan souvenir. Isinya tentang bagaimana pernikahan islami, dan bagaimana menjadikan pernikahan atau apapun aktivitas kita tetap untuk dakwah. Nantinya buku mini itu akan benar benar kami bukukan menjadi buku hehe. Tunggu saja tanggal mainnya.

Lokasi

Akad nikah dilakukan di mushola sumeleh, mushola kecil tapi mempesona. Letaknya tak jauh dari rumah. Mempelai pria, wali mempelai wanita, petugas dari KUA, saksi, dan tamu laki laki berada di dalam mushola. Saya, umi, adik adik perempuan, dan tamu tamu perempuan ada di terasnya. Lalu walimahnya dilangsungkan di gedung olahraga di samping mushola. Tamu pria dan wanita dipisah, dengan pintu masuk yang berbeda. Di dalam gedung hanya ada karpet untuk duduk lesehan mendengarkan pengajian dari ustadz shiddiq al jawi sambil makan kacang rebus, pisang rebus, dan ketela rebus yang disajikan. Setelah itu boleh makan siang prasmanan di tempat yang disediakan, dengan tamu pria wanita tetap dipisah dengan hijab yang tinggi.

25th may is the day

Pagi pagi pukul setengah tujuh, rombongan dari Jogja datang. Dua bus rombongan itu membawa pengantin pria dan keluarga dari Purbalingga sekaligus teman teman akhwat dari hamfara. Sedangkan teman teman ikhwan hamfara sebagian besar sudah sampai tadi malamnya, konvoi naik motor. Jadi sekitar tiga puluhan akhwat hamfara dan tiga puluhan ikhwan hamfara datang di pernikahan kami. Istimewa sekali rasanya seperti hamfara pindah ke Tulungagung. Teman teman angkatan bahkan adik adik angkatan juga banyak yang ikut.
Sekitar pukul setengah sepuluh pagi kami sudah siap di mushola sumeleh. Ijab diucapkan oleh abi saya sendiri, dan beliau grogi sampai dua kali salah. Sedangkan qabulnya dengan lancar dikatakan oleh suami saya. Dan sontak semua hadirin di mushola itu berteriak, “Sah, Alhamdulillah”. Saya dibawa masuk ke dalam mushola untuk tandatangan, lalu mencium tangan lakilaki yang tadi mengucap qabul. Riuh teman teman ikhwan menggoda kami sambil mengabadikan dengan kameranya masing masing. Seperti artis saja.
Kemudian kami temui orangtua kami masing masing, berpelukan dan menangis. Lalu keluar dari mushola untuk menuju tempat berganti pakaian, menumpang di tetangga. Berjalan berdua, kikuk, dan dipaksa untuk bergandengan tangan di depan para tamu dan tentunya teman teman kampus. Usai berganti pakaian walimah, yang warna kuning emas, kami berjalan diiringi teman teman akhwat dari depan belakang, kiri kanan, sambil senyam senyum melihat kami yang bergandengan tangan lagi dengan kaku.
Sampai di gedung, kami langsung berpisah, berjalan sendiri sendiri ke pintu masing masing. Tidak untuk dipajang, melainkan berbaur dengan tamu tamu yang lain. Sebelum dzuhur acara usai. Sesi berfoto ada di rumah, di ruang tamu yang sudah dipasang backdrop besar pernikahan kami.

Iklan

The Wedding Part 2

Sambungan dari The Wedding Part 1

Khitbah dan Taaruf

Suatu malam, saya mendapati ada pesan di inbox facebook saya. Saya curiga dengan pengirimnya, yaitu akun usaha milik seorang ikhwan kakak angkatan yang saya tau siapa. Lebih mencurigakan lagi, dia melampirkan file word dengan judul “teramat rahasia”. Saya unduh filenya, saya baca, dan saya terperangah. Beberapa hari kemudian saya konfirmasi kepada nomor yang dicantumkan di surat itu, untuk langsung menghubungi ayah saya. Dan selanjutnya, sang ikhwan datang ke rumah saya langsung untuk meminta saya dari orangtua saya.

Rasanya campur aduk. Saya belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saya bertemu dengannya nanti di kampus. Dalam beberapa bulan kemudian, saya dan dia terikat sebuah ikatan khitbah. Kami berkomunikasi dengan email dan whatsapp. Pada awalnya dia saya minta untuk membuat proposal pernikahan. Sekitar empat puluh halaman dia buat, termasuk di dalamnya cv, cerita tentang keluarganya, timeline aktivitasnya, dan lainnya. Dia tidak meminta saya balik membuat cv. Saya hanya diminta untuk mengomentari proposalnya, sehingga kami berdiskusi tentang hak kewajiban istri suami, kondisi kondisi tertentu, rencana tempat tinggal, profesi suami, jika istri bekerja, melanjutkan studi, dan sebagainya. Kami sering bertemu -lebih tepatnya melihat- ketika di kampus. Segera membuang muka, berpura pura tidak terjadi apapun. Lucu kalau diingat, kadang dia yang terkesan kabur menghindari saya. Hehehe.

Undangan

Untuk minimasi biaya pernikahan, kami memilih undangan yang sederhana dengan balutan lembut warna cokelat tua dan krem. Untuk jumlahnya, bisa diperkirakan secukupnya saja. Undangan biasanya disebar dua atau tiga minggu sebelum hari H. Tapi spesial teman teman dan dosen di kampus, kami membagi undangannya pada hari sabtu 17 mei 2014 alias H-8. Sebab, saya masih menyelesaikan ujian pendadaran pada H-9. Saya harus menyelesaikan revisi dan mengurus berkas berkas yudisium sebelum saya pulang. Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya? Beberapa hari lagi menikah, masih di kampus, dan sesekali terpaksa bertemu calon suami (karena dia menjadi karyawan di kampus), dan kami tetap berlaku seolah tidak kenal? Aaaaaak. H-4 saya baru bisa menyelesaikan semuanya dan segera pulang ke Tulungagung.

Gaun

Sekitar satu bulan sebelum hari H, kami menghadap KUA Tulungagung untuk menyelesaikan administrasi. Juga ke toko kain untuk dijahit menjadi gaun pernikahan, serta ke puskesmas untuk pengecekan kesehatan. Tidak pernah hanya berdua, tentu ditemani kedua orangtua saya. Saya memilih kain satin warna kuning keemasan dan dipadukan dengan broklat emas. Sedangkan untuk calon saya umi memilihkan warna coklat bata untuk atasannya, karena di kain broklat saya ada sedikit warna coklat batanya. Ada kejadian unik di toko kain itu, saat mbak mbak penjaganya mengetahui bahwa kami membeli kain untuk baju pernikahan. Si mbak mbak itu bilang sama umi saya, “Anaknya yang laki laki ya Bu?” Waaak?

Kain untuk gaun saya dijahitkan di teman umi, dan untuk calon saya ke penjahit pria. Jadilah gaun sederhana saya berupa gamis lebar paduan satin dan broklat, lalu memakai kerudung yang sama dengan bahan satin. Kerudungnya hanya saya pakai seperti biasanya, tetap lebar menjulur, tanpa memakai konde, tanpa punuk, tanpa melati, hanya pakai bros yang agak besar di bagian atas samping kepala. Riasan hanya bedak, celak dan sedikit pelembap bibir, yang semuanya mudah hilang sekejab. Jadilah kalau di foto hampir hampir seperti tidak pakai riasan apa apa. Suami saya pakai kemeja semi jas warna coklat bata dan celana panjang warna coklat tua, dan peci yang sewarna dengan kerudung saya. Akad dan walimah berlangsung berurutan, tidak berganti pakaianpun tidak masalah. Tapi ternyata saya dapat kado spesial beberapa hari menjelang pernikahan. Sahabat saya yang di Kalimantan mengirimkan paket berisi gaun pengantin putih. Satin putih polos, lalu dirangkap dengan kain yang full manik manik, kerudung satin putih serta selendangnya. Waaaaaah alhamdulillah mau saya pakai untuk prosesi akad nikah.
Beberapa hari mencarikan jas untuk pengantin pria sulit, akhirnya jreng jreng, pakai jas punya ayah saya. Jangan salah, dulu ayah saya juga sekurus suami saya hehe. Dan alhamdulillahnya pas, walaupun agak sedikit kurang panjang lengannya. Jadi untuk urusan gaun, gak usahlah ribet2, yang penting syar’i. Yang penting saaaaaaaaaaaaah. Alhamdulillah.
(bersambung)

The Wedding Part 1

Sebelum menikah, saya kerap sekali membuka situs situs atau blog tentang pernikahan, baju walimah, serta cerita cerita para pengantin utamanya ketika pesta pernikahan. Nah, sekarang giliran saya untuk menceritakan tentang pernikahan saya sendiri. Baragkali, ya barangkali, nanti ada akhwat akhwat yang mau menikah dan sedang browsing tentang pernikahan syar’i.

Menikah memang hal yang penuh pertimbangan. Mulai dari pertimbangan menerima atau menolak sang ikhwan yang datang melamar, menentukan tanggal pernikahan, membahas segala administrasi ke KUA, serta riweuhnya pesta pernikahan itu sendiri. Gaunnya, misalnya, undangannya, makanannya, pemisahan tamu laki laki dan perempuannya, souvenirnya, dan segala macam perniknya. Yang paling penting adalah bagaimana mengkondisikan keluarga agar mau mengadakan acara walimah yang syar’i, sesuai tuntunan islam itu.

The first: Siap, nggak?
Di kalangan aktivis islam, termasuk di kampus saya, menikah adalah impian para jombloers. Melayakkan diri, upgrade diri, selalu dilakukan agar mendapat jodoh yang “layak” pula. Tidak mengherankan jika ada yang menikah ketika belum lulus, atau bahkan sebelum kuliah. Hanya saja di kampus saya menikah itu menjadi hal yang sangat menghebohkan sebab dari angkatan 2010 hingga 2013 ada larangan menikah dari kampus. Bagi pelanggarnya? Ada denda.

Suasana sebaliknya terjadi di kalangan mahasiswa konvensional. Seorang mahasiswi non aktivis pernah mempertanyakan kepada saya tentang keputusan saya untuk menikah. Apalagi menikah dengan orang yang cukup asing. Ya, walaupun suami saya adalah kakak angkatan saya sendiri, pernah beberapa kali satu kelas dan satu kepanitiaan, tetap saja saya menjaga jarak seperti kepada ikhwan ikhwan yang lain, dan tidak berkomunikasi tanpa alasan syar’i. Masyarakat umumnya menganggap bahwa untuk melangkah ke arah pernikahan, perlu ada proses pengenalan dengan pacaran. Sehingga ketika sudah saling mengenal sifat karakter masing masing dan bisa saling menerima, maka baru diputuskan untuk menikah. Tapi, selain tidak ada ketentuan pacaran dalam islam, nyatanya pacaran lebih banyak hanya untuk hiburan saja, untuk hubungan yang sama sama tidak serius saja.

Dalam islam ada ta’aruf, proses pengenalan dua insan yang ingin menikah, diikat dengan ikatan khitbah, punya kepastian tanggal pernikahan yang disegerakan, pertemuan selalu ditemani oleh wali sang akhwat, dan berkomunikasi seperlunya tanpa ngedate sana sini khalwat yang diharamkan. Taaruf hanya diketahui oleh keluarga dan orang orang dekat, di dalamnya saling bertukar visi misi, harapan, dan lain lain seputar kehidupan pernikahan, kondisi keluarga, gambaran kehidupan setelah menikah, dan lain lain. Proses islam lebih jelas dan simpel, serta tidak merugikan siapapun. Jadi dua orang yang sama sama serius untuk membina rumah tangga, dan dasarnya adalah islam, ya, mengapa tidak segera menikah?

Kembali kepada kesiapan untuk menikah. Siap mental, siap fisik, siap ilmu. So pasti ini hal pertama yang musti jadi pertimbangan untuk menikah. Ketika ada seorang ikhwan sejati yang mendatangi orangtua kita untuk ‘meminta’ kita, pertanyaan pertamanya adalah apakah kita sudah siap untuk menikah? Sebab pernikahan bukan sekedar menjadi pengantin. Tapi setelahnya kita menjadi makmum, orang pertama yang wajib menaati perintah suami, orang pertama yang menjadi penentram hatinya, pengobat lukanya, pengingat segala kelupaannya, pemerhati kesehatannya, pemerhati kebersihan dan kerapihan rumahnya, ibu dan madrasah pertama bagi anak anaknya, menantu bagi orangtuanya, ipar bagi saudaranya, dsb, dsb.

Kesiapan itu tak ada patokan umur. Kalau sudah baligh, seorang muslim sudah dibebani hukum, semua kewajiban syariat sudah ada pada pundaknya, dosanya tidak dipikul orangtuanya lagi. Siap dalam arti menyanggupi akan melaksanakan segala kewajiban berumahtangga nanti. Menjadi istri atau suami. Sama sama siap menjalankan syariat ketika sudah berumahtangga? Siap untuk saling cinta karena Allah? Siap mendidik anak anak dengan islam? Siap menjadikan keluarga adalah keluarga dakwah? Ya hayuk atuh.
(bersambung)

My Best Woman Ever

Kuingat sebuah chapter ceritaku bersama ummii beberapa waktu lalu..

Malam ahad itu, aku bersiap pulang ke Jogja. Setelah dua hari di rumah. Abii sedang ada tugas di luar kota, sehingga tak ada yang bisa mengantarku ke terminal. Pukul 8 malam, aku dan ummii menuju halte di pinggir jalan raya, jalan kaki dari rumah. Sebetulnya kata abii, bus dari trenggalek menuju terminal sudah jarang sekali kalau malam malam. Tapi biasanya jam delapan an ada. Hampir pukul setengah sepuluh, tak ada bus sama sekali. Kecuali kami salah mengira truk yang dari kejauhan lampunya menyerupai bus. Lalu abii menelepon dan kami disuruh pulang saja.

Esok paginya, kami menunggu bus di halte yang sama. Kali ini kami tidak berjalan kaki. Melainkan ummii memboncengku dengan sepeda listriknya. Duduk di boncengan belakang sepeda kecil tenaga listrik itu terasa aneh, tapi sungguh aku senang sekali, kapan lagi aku bisa berdua dengan ummii dengan pose seperti itu. Ummii yang tidak bisa naik motor, sebab dulu pernah jatuh ketika belajar mengendarai motor ‘kelelawar’ tapi setelah itu trauma sepertinya. Ummii yang sekarang pergi mengajar ke sekolah, halqah, mengisi halqah, belanja, dan agenda lain juga menaiki sepeda listriknya itu. Pagi itu dengan senyam senyum aku duduk di boncengan belakang. Ummii menyetir sepeda tanpa kayuh itu di depan. Sayangnya, hanya sebentar Baca lebih lanjut

PERNYATAAN SIKAP FORUM AKTIVIS MUSLIMAH DIY TOLAK MISS WORLD

PERNYATAAN SIKAP

FORUM KOMUNIKASI AKTIVIS MAHASISWI MUSLIMAH DIY

TERHADAP AGENDA PENYELENGGARAAN MISS WORLD 2013

DI INDONESIA

Nomor             : 01/AKTIF/VIII/2013

Perihal             : Penolakan Agenda Penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

Menanggapi agenda Miss World yang akan diselenggarakan pada September 2013 di Indonesia, kami Aktivis Mahasiswi Muslimah DIY memandang bahwa ajang Miss World tidak lebih dari sekedar upaya eksploitasi dan liberalisasi perempuan di seluruh dunia terutama di Indonesia, yang akan merendahkan harkat dan martabat perempuan serta meningkatkan kerusakan moral generasi Bangsa.

 

Kami Aktivis Mahasiswi Muslimah DIY mempertimbangkan bahwa :

  1. Kami sebagai hamba Allah Swt, sadar bahwa kami akan dimintai pertanggungjawaban atas usia dan perbuatan kami di akhirat nanti termasuk mengenai kepedulian kami terhadap persoalan Bangsa.
  2. Kami sebagai perempuan, sadar bahwa kami bertanggungjawab untuk turut menjaga dan melindungi kehormatan dan kemuliaan perempuan.
  3. Konsep baru dalam ajang Miss World kali ini yakni Beauty with Purpose disamping konsep 3B (Brain, Beauty, Behavior) adalah dalih untuk legalisasi atas eksploitasi dan liberalisasi perempuan.
  4. Indonesia adalah Negeri Muslim terbesar di dunia, jika penyelenggaraan agenda Miss World dilakukan di negeri ini maka Indonesia turut melanggengkan upaya eksploitasi dan liberalisasi perempuan.
  5. Berbeda dengan sistem sekuler, syariat Islam dalam naungan Khilafah melindungi perempuan dari eksploitasi yakni dengan penerapan aturan-aturan Islam secara kaaffah(menyeluruh).

 

Dengan ini kami Aktivis Mahasiswi Muslimah  DIY menyatakan :

  1. Menolak dengan keras agenda penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia.
  2. Mendesak pemerintah untuk segera mencabut ijin penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia.
  3. Mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menolak segala bentuk upaya eksploitasi dan liberalisasi perempuan.
  4. Mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mencampakkan sistem Kapitalis Sekular dan menggantinya dengan sistem Khilafah Islam.

 

Demikian pernyataan sikap kami.

 

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

Yogyakarta, 31 Agustus 2013

Sepanjang Perjalanan With Za::

Kau tau za..ada banyak hal yang kudapat sepanjang perjalanan denganmu. Jazakillah khoir.
1. ” Kalo hijrahnya rasul dan shahabat dulu, mereka harus milih: jalan atau tidur. Sekarang kita bisa dua-duanya. Kita bisa tidur di perjalanan. Kenapa masih saja mengeluh?”
2. Sahabat kita di belakang sedang hafalan, kalau tidak pasti dia membaca. Sampai bawa buku ushul fiqih yang tebal itu. Bahkan dia ingin meminta kepada supir untuk tidak mematikan lampunya malam hari.
3. “Iya sih kita itu memang pergi buat muktamar khilafah, tapi gimana ya biar perjalanan kita itu juga selalu bernilai ibadah? Meskipun hanya dzikir, kok kadang masih sulit?”
4. “Adik kelasku itu udah mutusin pacarnya, padahal aku baru ngomong dikit. Bearti bener tu ya, kekuatan aqidah dan pemikiran itu bisa ngerubah orang dengan mudah.”
5. “Lahan pertanian kosong di sepanjang jalur tol, wah itu semua bisa jadi duit kalo pemerintah mau ngelola” (maklum, calon sarjana pertanian)
6. “Kalo lahan dengan kemiringan lebih dari empat puluh lima derajat, tanamannya harus yang tahunan, biar akarnya kuat” (lagi lagi, otak pertanian)
7. “Aku mau buat skripsi,bukan yang Baca lebih lanjut

Surat Buat Ni-Nu

Surat Buat Ninu
Assalamu’alaikum wr.wb.
Hai NINU. Kau tau, dari setahunan yang lalu aku udah pingin bikin surat buat kamu. Hehe. Yah, seperti yang kamu tau, aku suka nulis surat buat anak-anak juga. Setahunan yang lalu itu aku udah nyiapin kertas binder warna ungu gambar gadis jepang kartun. Cakep deh kertasnya. Tapi aku ngga sempet nulis sampe ngga tau sekarang tu kertas kemana.
Pertamanya, selamat hari lahir yaa. Tak ada tradisi ulang tahun yang aneh aneh, hanya mengingat hari dimana Allah berkehendak kita lahir dari rahim ummi kita dan menangis. Menangis karena bahagia bertemu dengan ibu, wanita terbaik dan terkuat. Menangis karena di depan sana dunia terkadang akan Baca lebih lanjut