Keep Tawaazun

Beliau pengemban dakwah. Seorang pekerja keras. Setiap harinya beliau bekerja sebagai karyawan sebuah kampus unik ekonomi islam ideologis, STEI Hamfara Yogyakarta. Jangan minta saya menceritakan dimana letak kampus istimewa ini, karena tempatnya terpencilnya memang spesial di sebuah –kami menyebutnya- bukit perjuangan. Lokasinya benar-benar di bukit, bahkan google maps tak mampu mengindranya dengan baik. Oke, kembali pada si beliau ini. Jadi beliau adalah pengemban dakwah sekaligus staf karyawan di sebuah perguruan tinggi. So? Bukan Cuma itu, beliau juga masih menempuh studi S2, siap kapan saja menggantikan dosen mengajar, menyimak hafalan ayat ekonomi santri setiap hari, juga punya amanah mengajar ma’had bahasa arab dan kadang diminta mengisi bimbingan belajar SD. So? Lagi-lagi anak autis (baca:apatis) jaman sekarang melontarkan pertanyaan ketidakpeduliannya: masalah buat loe??

Coba deh kita bayangkan sejenak. Waktu seharian dua puluh empat jam harus dibagi dengan banyaknya tugas beliau. Pagi sebelum beliau berangkat ke UGM, harus mengajar bahasa arab dulu. Persiapan kuliah beliau sendiri tentu harus sudah menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Lalu ke kantor untuk mengurusi pekerjaan. Pekerjaan kantor sering kali membuat dirinya jatuh bangun kleleran karena banyak pekerjaan yang diamanahkan untuknya, sebagai asisten kaprodi, apalagi waktu itu masa-masa akreditasi yang menyedot banyak waktu, tenaga, pikiran, dan segenap perasaan dan jiwanya (yang terakhir agak lebay sih).

Sore hari baru selesai untuk menyimak hafalan ayat ekonomi atau untuk mengajar bimbel privat. Belum lagi waktu-waktu untuk kajian intensif, untuk menyebar buletin islam, untuk diskusi, berbagai agenda organisasi dakwah, juga waktu-waktu untuk kebutuhan beliau pribadi. Oh!
Nangis. Biasalah, senjatanya kaum hawa. Pun juga beliau. Tak terhitung sudah berapa bulir bening air mata yang menetes. (Yaiyalah, masa mau dihitungin?)

Setiap hari waktunya hanya untuk kuliah-dakwah-kerja. Masing-masing menuntut porsi yang cukup, dan beliau merasa tidak bisa proposional. Harus dikorbankan salah satu, pikir beliau. Menghentikan kuliah pilihan mustahil, karena kalau beliau berhenti dalam studi beasiswa S2, beliau justru harus membayar denda.

Meninggalkan dakwah artinya bunuh diri. Karena orang yang sudah memahami hakikat hidup dan mengemban ideologi islam pastinya menjadikan dakwah sebagai aktivitas utama. Tanpa dakwah, ibarat hidup tapi tak bernyawa. Maka harapan terakhirnya adalah menghapuskan kata kerja dalam jadwal hariannya setidaknya untuk beberapa bulan saja. Maka mulailah ia melobi pihak kantor dan pimpinan manajemen untuk melancarkan aksinya ini.

Suatu hari, dengan sangat berhati-hati beliau mendekati ketua yayasan yang hari itu kebetulan berada di kantor di tengah jadwal dinas luar kotanya yang sangat padat. Lalu terjadilah perang dan baku tembak di televisi, menggambarkan keganasan rezim kafir membunuhi rakyatnya sendiri yang menolak menjadikannya tuhan. Eh. Kalau di kantor itu sih, mereka terlibat percakapan yang sangat serius.

“Pak..saya mau cuti..”
“Lho? Kenapa?”
“Saya merasa nggak maksimal, Pak. Saya ngurus mahad, saya kerja, ngajar, saya juga mahasiswa, saya halqah, belum ngisi halqah, kontak, sebar bulletin, saya keteteran, Pak. Saya merasa waktu saya ini nggak proporsional..”
“Yang nggak proporsional dimananya?”
“Di dakwah ini, Pak..”
“Memang agenda dakwah apa yang nggak bisa Anda lakukan?”
“Saya jadi sangat jarang berangkat ke tempat sasaran dakwah saya..”
“Emang menurut Anda proporsional itu apa?”
“Ya..semuanya bisa dikerjakan dengan baik dan seimbang, Pak. ”
“Gitu? Dalam satu hari harus melakukan semua aktivitas dengan sama rata, begitu? Saya kemarin di rumah seharian. Nggak ngantor, nggak kemana-mana karena urusan anak saya lebih penting.”
“Maksudnya, Pak?”
“Proporsional itu tidak mesti dengan mampu menjalankan semua aktivitas dalam satu hari. Setiap satu hari harus dakwah, dalam satu hari harus kuliah, dalam satu hari juga kerja. Tidak selamanya bisa terjadwal rutin seperti itu. Bisa jadi dalam satu hari kita bahkan harus meninggalkan semua itu karena ada kondisi darurat yang harus diselesaikan. Proporsional itu bukan membagi sama rata setiap aktivitas dalam tempo satu hari, tapi bagaimana menyeimbangkan seluruh aktivitas dan amanah-amanah dalam kehidupan kita, entah seminggu, entah sebulan atau setahun.”

-o0o-

Awal saya mencicip dakwah di bangku kuliah, suatu ketika saya menghampiri seorang kakak angkatan yang sedang membaca daftar nilai ujian semester. Saya ikut-ikut ngelirik apa yang lagi mbaknya lihat. Kok jelek-jelek gitu ya nilainya? Batin saya. Ya, Cuma ada beberapa orang yang nilainya diatas delapan. Lalu kakak angkatan saya itu bilang, “Panteslah dia dapat bagus, wong study oriented gitu.” Lain waktu ketika teman-teman saling memantau IPK di lab komputer kampus, komentar saling bersaut. Kesimpulannya adalah sesiapa yang ngaji dan organisasi maka maklum dan sangat wajar kalau IPKnya rendah. Kemudian muncul lima question mark besar warna merah di atas kepala saya, tuing-tuing, “Apakah pengemban dakwah itu nilai ujiannya harus pas-pasan ya? Bahkan kalo bisa seminim-minimnya?”

Paradigma usang, bahwa aktivis organisasi atau aktivis dakwah itu akan mengesampingkan kuliah. Sedangkan orang-orang yang fokus berprestasi di bidang akademik cenderung tidak memiliki kesibukan organisasi atau amanah dakwah. Banyak contoh tokoh intelektual atau politisi yang kini sangat aktif dengan ormas, atau partainya, masa mudanya dulu tidak begitu menonjol di perkuliahan. Dan sebaliknya, beberapa orang sukses lain pun tidak pernah mengenyam organisasi. Yang ini sangat dekat juga di sekitar kita.
Yup, biasanya aktivis dakwah itu nilai ujiannya biasa-biasa saja. Dan biasanya mahasiswa berprestasi itu tidak biasa berdakwah. Yang luar biasa itu jika ada aktivis dakwah yang menjadi mahasiswa berprestasi, dan keduanya sudah biasa dilakukan seimbang sama-sama optimal.

Buktinya? Wah, sekarang sudah banyak sekali orang seperti ini. Mampu seimbang dalam banyak hal. Dakwah jalan, kuliah oke. Dakwah gencar, kuliah lancar, Dakwah top, IPK cum laude. Tak percaya? Silakan dicari dan belajar dari orang-orang keren ini. Lalu yakinlah bahwa bukti hidup selanjutnya adalah dirimu sendiri. Justru dengan mendapat nilai bagus di kuliah, kita bisa menunjukkan bahwa aktivitas dakwah bukanlah penghambat kuliah. Bahwa berorganisasi bukan kerjaannya mahasiswa yang sok sibuk dan ingin eksis. Dengan demikian dakwah kita ini akan semakin didukung oleh kampus dan siapapun intelektual yang hanya mengakui ilmu para ilmuwan. Yah, jadi salah satu uslub dalam berdakwah yakni mengedepankan keilmuan. Karena saat ini orang-orang intelek hanya bisa diajak oleh para intelek juga.

Tapi..sulit menjadi sosok yang bisa segala hal, yang mumpuni segala bidang, yang unggul di banyak tugas dan kewajiban. Sungguh tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin, bukan? Kemungkinan segala kemungkinan itu pasti ada. Mencoba realistis? Apa kau fikir seimbang di semua hal itu tidak realistis? Okelah kalau kau sudah lakukan SWOT diri dan hasilnya berat sebelah. Tapi Allah bisa lakukan apapun. Allah bisa berkehendak seperti apapun. Dan Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri.

Gambaran masa depan sudah ada di lauhul mahfudz. Tapi jangan sekali-kali sombong mengira-ira bagaimana gambar itu. Belum tentu kita memang ditakdirkan sebagai orang gagal. Dan apa salahnya bermimpi menjadi sukses? Apa salahnya bertarget menjadi orang sukses? Belajar 27 bahasa dalam satu waktu pun otak kita (ternyata) mampu. Mengingat isi 200 buku ensiklopedi pun otak kita (ternyata) mampu. Lalu mengapa kita putus asa sebelum mencoba?

Maka membagi fokus pada beberapa hal tentu menjadi hal yang bisa kita lakukan. Maka melakukan dengan baik semua amanah dakwah tentu kita mampu sembari belajar di bangku kuliah dengan baik agar lulus dengan gilang gemilang. Maka mencari target dakwah dan mengusahakan target dana untuk kegiatan organisasi pun juga bisa kita lakukan.
Bagaimana dengan celoteh di luar sana? Ada yang mendukung, tapi tak jarang pula yang ingin membendung. Itu biasa. Mereka tak mengalami proses ini. Mereka tak bisa meyakini nikmatnya buah yang akan kita petik. Dengan susah payah kita memanjat pohonnya, tapi banyak semut dan ulat. Dengan pontang-panting kita mencari kayu untuk mengunduhnya, tapi tak sampai juga. Kita lempari pakai sandal, apa daya sandalnya malah nyangkut. Hehe. Lalu dengan begitu terseok, dengan kelelahan yang teramat sangat, dan kesabaran, akhirnya buah manis itu kita dapat.

Sebelumnya orang-orang yang lalu lalang tak henti menghardik, “Untuk apa kau petik buah itu? Buah yang itu terlampau tinggi, kalau kau tak mampu jangan memaksakan diri.” “Daripada keringatmu kau peras untuk itu lebih baik kau gunakan untuk hal lain yang lebih menghasilkan untuk membeli nasi” “Kalau upayamu terlalu keras ingin memetik buah itu, nasi pun kau tak bisa makan. Bagaimana mungkin kau tak makan seharian hanya demi satu biji buah?”

Tenanglah, mereka hanya tak tahu seberapa manisnya buah itu. Dan mereka tak tahu bahwa kita tetap berusaha untuk makan nasi. Maksudnya kita tetap melakukan aktivitas pokok kita. Mereka tidak salah, hanya mereka enggan mendengarkan penjelasan kita tentang manisnya buah ini. Tanggapi komentar pahit itu dengan positif. Bahwa semakin mereka meragukan kita mampu memetik buah itu, maka energi kita untuk mengupayakannya akan semakin kuat.
Challenge. Ya, tantangan. Kita anggap hal itu tantangan buat perjuangan kita memetik buah manis. Kita tinggal mengelola tantangan ini agar tidak menjadi hambatan atau ancaman. Mengelolanya? Ya, biarkan tantangan ini terus ada, berterimakasihlah pada pemberi tantangan. Karena dengan adanya tantangan maka adrenalin kita terus berpacu. Implikasinya, upaya kita semakin keras untuk memetik buah itu. Dan kita buktikan bahwa target buah dan kebutuhan kita akan nasi tetap terpenuhi dua-duanya.

Sebagaimana dalam buku Bina Nafsiyah, disebutkan bahwa para pengemban dakwah dahulu adalah orang-orang yan bisa mengendalikan adrenalinnya pada tataran yang luar biasa. Sehingga hal luar biasalah yang mereka peroleh, mampu membangun peradaban islam yang begitu luas hingga dua pertiga dunia. Hanya bermula dari madinah. Adrenalin itu lah, sebagai penampakan gharizah baqa’(naluri mempertahankan diri) yang melecut kita untuk bergerak dan membuktikan bahwa kita bisa, bahwa mimpi ini dapat teraih.

Orang yang hebat adalah orang yang berani menceburkan dirinya ke tengah-tengah ombak. Tentu bukan dalam arti sebenarnya ya. Tetapi untuk menjadi orang yang hebat, masukkanlah masalah-masalah, perangi dia, dan menangkan. Jadi apa kita bisa seimbang melakukan semua peran dan aktivitas? Coba pertentangkan itu semua dalam artian yang positif sebagai tantangan hidup kita. Agar terpantik energi panas dalam jiwa kita dan terbentuk adrenalin tinggi untuk membuktikannya. Bahwa kita bisa proporsional, bahwa kita bisa seimbang dalam kehidupan. Keep tawaazun.

iff, februari 2013. Menjadi salah satu tulisan dalam buku antologi Dengan Tinta Mengubah Dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s