The Wedding Part 2

Sambungan dari The Wedding Part 1

Khitbah dan Taaruf

Suatu malam, saya mendapati ada pesan di inbox facebook saya. Saya curiga dengan pengirimnya, yaitu akun usaha milik seorang ikhwan kakak angkatan yang saya tau siapa. Lebih mencurigakan lagi, dia melampirkan file word dengan judul “teramat rahasia”. Saya unduh filenya, saya baca, dan saya terperangah. Beberapa hari kemudian saya konfirmasi kepada nomor yang dicantumkan di surat itu, untuk langsung menghubungi ayah saya. Dan selanjutnya, sang ikhwan datang ke rumah saya langsung untuk meminta saya dari orangtua saya.

Rasanya campur aduk. Saya belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saya bertemu dengannya nanti di kampus. Dalam beberapa bulan kemudian, saya dan dia terikat sebuah ikatan khitbah. Kami berkomunikasi dengan email dan whatsapp. Pada awalnya dia saya minta untuk membuat proposal pernikahan. Sekitar empat puluh halaman dia buat, termasuk di dalamnya cv, cerita tentang keluarganya, timeline aktivitasnya, dan lainnya. Dia tidak meminta saya balik membuat cv. Saya hanya diminta untuk mengomentari proposalnya, sehingga kami berdiskusi tentang hak kewajiban istri suami, kondisi kondisi tertentu, rencana tempat tinggal, profesi suami, jika istri bekerja, melanjutkan studi, dan sebagainya. Kami sering bertemu -lebih tepatnya melihat- ketika di kampus. Segera membuang muka, berpura pura tidak terjadi apapun. Lucu kalau diingat, kadang dia yang terkesan kabur menghindari saya. Hehehe.

Undangan

Untuk minimasi biaya pernikahan, kami memilih undangan yang sederhana dengan balutan lembut warna cokelat tua dan krem. Untuk jumlahnya, bisa diperkirakan secukupnya saja. Undangan biasanya disebar dua atau tiga minggu sebelum hari H. Tapi spesial teman teman dan dosen di kampus, kami membagi undangannya pada hari sabtu 17 mei 2014 alias H-8. Sebab, saya masih menyelesaikan ujian pendadaran pada H-9. Saya harus menyelesaikan revisi dan mengurus berkas berkas yudisium sebelum saya pulang. Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya? Beberapa hari lagi menikah, masih di kampus, dan sesekali terpaksa bertemu calon suami (karena dia menjadi karyawan di kampus), dan kami tetap berlaku seolah tidak kenal? Aaaaaak. H-4 saya baru bisa menyelesaikan semuanya dan segera pulang ke Tulungagung.

Gaun

Sekitar satu bulan sebelum hari H, kami menghadap KUA Tulungagung untuk menyelesaikan administrasi. Juga ke toko kain untuk dijahit menjadi gaun pernikahan, serta ke puskesmas untuk pengecekan kesehatan. Tidak pernah hanya berdua, tentu ditemani kedua orangtua saya. Saya memilih kain satin warna kuning keemasan dan dipadukan dengan broklat emas. Sedangkan untuk calon saya umi memilihkan warna coklat bata untuk atasannya, karena di kain broklat saya ada sedikit warna coklat batanya. Ada kejadian unik di toko kain itu, saat mbak mbak penjaganya mengetahui bahwa kami membeli kain untuk baju pernikahan. Si mbak mbak itu bilang sama umi saya, “Anaknya yang laki laki ya Bu?” Waaak?

Kain untuk gaun saya dijahitkan di teman umi, dan untuk calon saya ke penjahit pria. Jadilah gaun sederhana saya berupa gamis lebar paduan satin dan broklat, lalu memakai kerudung yang sama dengan bahan satin. Kerudungnya hanya saya pakai seperti biasanya, tetap lebar menjulur, tanpa memakai konde, tanpa punuk, tanpa melati, hanya pakai bros yang agak besar di bagian atas samping kepala. Riasan hanya bedak, celak dan sedikit pelembap bibir, yang semuanya mudah hilang sekejab. Jadilah kalau di foto hampir hampir seperti tidak pakai riasan apa apa. Suami saya pakai kemeja semi jas warna coklat bata dan celana panjang warna coklat tua, dan peci yang sewarna dengan kerudung saya. Akad dan walimah berlangsung berurutan, tidak berganti pakaianpun tidak masalah. Tapi ternyata saya dapat kado spesial beberapa hari menjelang pernikahan. Sahabat saya yang di Kalimantan mengirimkan paket berisi gaun pengantin putih. Satin putih polos, lalu dirangkap dengan kain yang full manik manik, kerudung satin putih serta selendangnya. Waaaaaah alhamdulillah mau saya pakai untuk prosesi akad nikah.
Beberapa hari mencarikan jas untuk pengantin pria sulit, akhirnya jreng jreng, pakai jas punya ayah saya. Jangan salah, dulu ayah saya juga sekurus suami saya hehe. Dan alhamdulillahnya pas, walaupun agak sedikit kurang panjang lengannya. Jadi untuk urusan gaun, gak usahlah ribet2, yang penting syar’i. Yang penting saaaaaaaaaaaaah. Alhamdulillah.
(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s