The Wedding Part 1

Sebelum menikah, saya kerap sekali membuka situs situs atau blog tentang pernikahan, baju walimah, serta cerita cerita para pengantin utamanya ketika pesta pernikahan. Nah, sekarang giliran saya untuk menceritakan tentang pernikahan saya sendiri. Baragkali, ya barangkali, nanti ada akhwat akhwat yang mau menikah dan sedang browsing tentang pernikahan syar’i.

Menikah memang hal yang penuh pertimbangan. Mulai dari pertimbangan menerima atau menolak sang ikhwan yang datang melamar, menentukan tanggal pernikahan, membahas segala administrasi ke KUA, serta riweuhnya pesta pernikahan itu sendiri. Gaunnya, misalnya, undangannya, makanannya, pemisahan tamu laki laki dan perempuannya, souvenirnya, dan segala macam perniknya. Yang paling penting adalah bagaimana mengkondisikan keluarga agar mau mengadakan acara walimah yang syar’i, sesuai tuntunan islam itu.

The first: Siap, nggak?
Di kalangan aktivis islam, termasuk di kampus saya, menikah adalah impian para jombloers. Melayakkan diri, upgrade diri, selalu dilakukan agar mendapat jodoh yang “layak” pula. Tidak mengherankan jika ada yang menikah ketika belum lulus, atau bahkan sebelum kuliah. Hanya saja di kampus saya menikah itu menjadi hal yang sangat menghebohkan sebab dari angkatan 2010 hingga 2013 ada larangan menikah dari kampus. Bagi pelanggarnya? Ada denda.

Suasana sebaliknya terjadi di kalangan mahasiswa konvensional. Seorang mahasiswi non aktivis pernah mempertanyakan kepada saya tentang keputusan saya untuk menikah. Apalagi menikah dengan orang yang cukup asing. Ya, walaupun suami saya adalah kakak angkatan saya sendiri, pernah beberapa kali satu kelas dan satu kepanitiaan, tetap saja saya menjaga jarak seperti kepada ikhwan ikhwan yang lain, dan tidak berkomunikasi tanpa alasan syar’i. Masyarakat umumnya menganggap bahwa untuk melangkah ke arah pernikahan, perlu ada proses pengenalan dengan pacaran. Sehingga ketika sudah saling mengenal sifat karakter masing masing dan bisa saling menerima, maka baru diputuskan untuk menikah. Tapi, selain tidak ada ketentuan pacaran dalam islam, nyatanya pacaran lebih banyak hanya untuk hiburan saja, untuk hubungan yang sama sama tidak serius saja.

Dalam islam ada ta’aruf, proses pengenalan dua insan yang ingin menikah, diikat dengan ikatan khitbah, punya kepastian tanggal pernikahan yang disegerakan, pertemuan selalu ditemani oleh wali sang akhwat, dan berkomunikasi seperlunya tanpa ngedate sana sini khalwat yang diharamkan. Taaruf hanya diketahui oleh keluarga dan orang orang dekat, di dalamnya saling bertukar visi misi, harapan, dan lain lain seputar kehidupan pernikahan, kondisi keluarga, gambaran kehidupan setelah menikah, dan lain lain. Proses islam lebih jelas dan simpel, serta tidak merugikan siapapun. Jadi dua orang yang sama sama serius untuk membina rumah tangga, dan dasarnya adalah islam, ya, mengapa tidak segera menikah?

Kembali kepada kesiapan untuk menikah. Siap mental, siap fisik, siap ilmu. So pasti ini hal pertama yang musti jadi pertimbangan untuk menikah. Ketika ada seorang ikhwan sejati yang mendatangi orangtua kita untuk ‘meminta’ kita, pertanyaan pertamanya adalah apakah kita sudah siap untuk menikah? Sebab pernikahan bukan sekedar menjadi pengantin. Tapi setelahnya kita menjadi makmum, orang pertama yang wajib menaati perintah suami, orang pertama yang menjadi penentram hatinya, pengobat lukanya, pengingat segala kelupaannya, pemerhati kesehatannya, pemerhati kebersihan dan kerapihan rumahnya, ibu dan madrasah pertama bagi anak anaknya, menantu bagi orangtuanya, ipar bagi saudaranya, dsb, dsb.

Kesiapan itu tak ada patokan umur. Kalau sudah baligh, seorang muslim sudah dibebani hukum, semua kewajiban syariat sudah ada pada pundaknya, dosanya tidak dipikul orangtuanya lagi. Siap dalam arti menyanggupi akan melaksanakan segala kewajiban berumahtangga nanti. Menjadi istri atau suami. Sama sama siap menjalankan syariat ketika sudah berumahtangga? Siap untuk saling cinta karena Allah? Siap mendidik anak anak dengan islam? Siap menjadikan keluarga adalah keluarga dakwah? Ya hayuk atuh.
(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s