The Cangkringan

Image

 

DSC02381

Adaptasi Cuaca
Jaket, kaoskaki, kaos tangan, selimut. Jadi kostum yang wajib dipakai untuk tidur malam. Super dingiiiin. Asli. Heran ada yang betah selama satu bulan Cuma berselimutkan kain sarung. Tapi ternyata suatu kali ketika temannya sedang tidak tidur di posko, ia pinjam badcovernya dan saat itulah ia merasa betapa hangatnya dunia.
Brr. Saat dingin begitu yang seru adalah ketika kamu jalan pagi menyapa warga lalu nafasmu berasap, persis seperti di film film korea.
Terakhir kami katakan dapur itu kulkas dan kamar mandi freezernya. Jadi plis, kami mohon dengan sangat kalo habis dari dua tempat itu langsung ditutup lagi pintunya ya.

IMG-20130731-WA0004

Image

Our life is dakwah, so KKN is dakwah and cangkringan is dakwah.
Kami semua adalah calon pakar ekonomi syariah. Tapi KKN kami tentu tak lepas dari dakwah. Dakwah adalah pusat gravitasi hidup. Selain mencoba menyelesaikan permasalahan ekonomi yang ada, kami juga melakukan berbagai pendekatan kepada semua lapisan masyarakat. Variasi kegiatan kami seperti bekam massal, pengajian ramadhan, pawai obor menyambut ramadhan, mengajar 10 TPA se-desa, pengajian ekonomi islam, pelatihan masak, pelatihan sablon, training remaja, training kader TPA, pelatihan pembukuan sederhana dan e-commerce, festival kali jilbab, bazaar sembako, festival anak sholeh, dan acara pengajian unik: Angkringan dakwah, yang diplesetkan menjadi Cangkringan Dakwah karena berlokasi di Cangkringan.

Infishal kelompoknya, d’first generation.
Untuk pertama kalinya di hamfara, tim KKN ikhwan terpisah dari tim KKN akhwat. Jadi dalam satu dusun hanya ada satu kelompok ikhwan atau satu kelompok akhwat saja. Atau mungkin bahkan konsep KKN seperti ini hanya satu-satunya yang pernah ada di dunia. (lebay). Ribet sepertinya? Ya. Agaknya. Karena masyarakat itu beragam dan tidak bisa kita hanya membuat program untuk ibu-ibu saja atau bapak-bapak saja. Tetapi untuk berbagai kegiatan taawun antar kelompok bisa terjalin. Konflik tentu ada dan wajar. Tapi alhamdulillah, bisa berakhir bahagia dan selalu di dalam karuniaNya. *eh kok kayak lagu

Image

Image

Image

TPA..oh TPA
Ini mungkin yang paling ngangenin selama KKN. Ketemu dengan anak-anak yang macem macem tingkah polahnya. Usai beraktivitas dari pagi hingga siang, rasanya enggan untuk tidak bertemu mereka sore harinya. Meski mereka pecicilan tidak keruan, sering harus dibujuk dulu agar mau ngaji, berantem, nangis, sedangkan kami juga capek. Tapi bersama mereka dan ceritanya membuat kami senang dan melunturkan kepenatan. Panggilan dari toa masjid selalu memiliki daya magnet yang kuat dan membuat kami bergegas datang. “Teman..teman.. Ayo Te Pe A. Sudah ditunggu di masjid..”
Sayang sekali, kebanyakan mereka hanya mendapatkan pengajaran baca tulis alqur’an hanya di TPA dan kadang TPA hanya aktif pada bulan ramadhan. Rasa-rasanya kami ingin terus disana dan memantau TPA mereka sampai alqur’an bisa lancar mereka baca dengan benar dan mereka lakukan isinya. Tapi, kami juga punya misi yang lain. Agar seluruh anak anak sedunia mendapatkan kemudahan akses belajar ngaji dan belajar islam dari dini.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Jalur alternatif
Puluhan truk melewati jalur utama setiap jam, sepanjang hari. Aspal di jalan itu hampir tak kelihatan. Sudah banyak yang rusak dan menyisakan tanah dan pasir. Melewatinya berarti berhati-hati terhadap dua hal: debu yang diterbangkan truk dan pasir yang siap menggelincir ban. Sudah banyak korban. Jalur alternatif? Jalur ini benar-benar alternatif. Bukan jalur yang lebih singkat. Jalur itu lebih cocok dikatakan jalan setapak yang dipaksakan untuk motor. Tapi bagi yang alergi dengan debu, jalur alternatif lebih ramah untuk paruparu. Tapi tidak disarankan untuk yang lemah jantung.
Pasca erupsi merapi 2010 lalu, jalan itu dilewati truk yang mengambil material. Entah batu atau pasir. Hampir tiga tahun rumah-rumah di pinggir jalur utama itu selalu dipenuhi debu. Kabarnya tahun 2014 nanti jalur utama itu akan diperbaiki dan akan dibuat jalur lain truk.

Satu bulan untuk mengenal warga, tapi belum cukup untuk memahami benar kehidupan mereka. Perlu proses yang lebih lama juga untuk mencipta sebuah kebiasaan baru yang berasal dari kesadaran islam yang benar.
Satu bulan adalah waktu kami untuk sedikit belajar bermasyakat, sebelum nantinya menghadapi dinamika dakwah di masyarakat yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s