Satu Per Satu

Satu satu..daun daun..berguguran tinggalkan tangkainya..
Satu satu..burung kecil..berterbangan..tinggalkan sarangnya..
Jauh, tinggi, ke langit..yang biru..
#nginget dikit lagu anak-anak yang dulu suka dinyanyiin sama AFI junior.

Putaran masa takkan berhenti kecuali kehendakNya. Semakin hari, benih-benih yang ditanam semakin tumbuh, besar, berbunga, berbuah, hingga suatu saat mati. Manusia hidup pun menjalani waktunya, hingga masa hidup berakhir.
Satu per satu ujian menghadang dan diselesaikan. Satu persatu amanah dibebankan dan dituntaskan . Satu persatu kebahagiaan hadir dan kita syukuri. Satu persatu kepedihan menyambar dan kita perlu bersabar. Satu persatu orang datang, dan pergi. Satu persatu anak-anaknya umi abi semakin dewasa dan akan menempuh hidupnya sendiri. Satu persatu fase kehidupan akan berubah.
Satu persatu makar musuh musuh islam akan semakin terbongkar. Satu persatu umat takkan percaya dengan ilusi kemungkaran. Satu persatu umat akan turut sadar akan kebangkitan hakiki. Satu persatu mereka akan mengambil peran perubahan besar dunia menuju khilafah. Setelah 89 tahun perisai umat itu hilang. Setelah 89 tahun umat islam merana terjajah oleh sistem kufur.

Cepat atau lambat waktu yang kau rasakan, sudah cukupkah untuk membawa perbekalan? Untuk perjalanan yang panjang nanti, setelah masamu habis. Setelah jantung berhenti dan ruh terlepas dari jasad. Sudah siapkah?

Ingat dosa-dosa yang tak mudah terhapus: dosa investasi. Satu-satunya cara adalah imbangi dosa ini dengan amalan investasi: dakwah.

Allahumma inna nas’aluka daulatan khilafatan ‘ala minhaj an-nubuwwah.

 

iff_

Iklan

Bersyukurlah

Orang orang melewatiku dengan bahagia. Menenteng tas belanjaan, ntah isinya tablet baru, laptop baru, atau sekedar asesoris blackberry.
Mereka melaluiku dengan gembira. Tampak senang sekali.
Kadang ada yang sempat menoleh ke arahku. Melihat,lalu berjalan kembali. Ada yang melirik,tetap sambil bercanda dengan teman atau pacarnya. Ada yang dahinya mengernyit. Ada yang tak peduli. Ada yang cemberut,mungkin barang limited edition yang ingin dibelinya habis. Atau kelelahan membawa begitu banyak barang.
Aku bangkit dari tempat dudukku. Meskipun tetap saja mereka lebih tinggi daripada aku yang sedang berdiri. Allah memang menciptaku dengan keterbatasan ini. Aku tidak marah. Aku takkan menggugat Tuhan. Aku tau inilah takdir,dan tugasku adalah bersabar serta tetap menjalankan kehidupan sesuai aturanNYA. Tapi.. kuamati sekitarku.. entah, aku yang lemah menghadapi dunia kapitalistik ini atau makhluk kapital dan dunialah yang terlalu kuat untuk membuat bahagia hanya mampu dibeli oleh uang.
Itukah bahagia menurut mereka? Ketika mampu membeli gadget baru? Ketika kebutuhan extra tersier itu bisa terpenuhi?
Padahal bahagia itu sederhana. Jika mereka menyadari fisik mereka yang lebih sempurna.. jika mereka sadari mampu melangkah dengan mudah.. bahkan memiliki jemari yang rapi saja.. bahkan memiliki dua buah lengan dan kaki yang normal saja..
Bersyukurlah.
Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

@ serambi sebuah pameran elektronik

Sepanjang Perjalanan With Za::

Kau tau za..ada banyak hal yang kudapat sepanjang perjalanan denganmu. Jazakillah khoir.
1. ” Kalo hijrahnya rasul dan shahabat dulu, mereka harus milih: jalan atau tidur. Sekarang kita bisa dua-duanya. Kita bisa tidur di perjalanan. Kenapa masih saja mengeluh?”
2. Sahabat kita di belakang sedang hafalan, kalau tidak pasti dia membaca. Sampai bawa buku ushul fiqih yang tebal itu. Bahkan dia ingin meminta kepada supir untuk tidak mematikan lampunya malam hari.
3. “Iya sih kita itu memang pergi buat muktamar khilafah, tapi gimana ya biar perjalanan kita itu juga selalu bernilai ibadah? Meskipun hanya dzikir, kok kadang masih sulit?”
4. “Adik kelasku itu udah mutusin pacarnya, padahal aku baru ngomong dikit. Bearti bener tu ya, kekuatan aqidah dan pemikiran itu bisa ngerubah orang dengan mudah.”
5. “Lahan pertanian kosong di sepanjang jalur tol, wah itu semua bisa jadi duit kalo pemerintah mau ngelola” (maklum, calon sarjana pertanian)
6. “Kalo lahan dengan kemiringan lebih dari empat puluh lima derajat, tanamannya harus yang tahunan, biar akarnya kuat” (lagi lagi, otak pertanian)
7. “Aku mau buat skripsi,bukan yang Baca lebih lanjut