Surat Buat Ni-Nu

Surat Buat Ninu
Assalamu’alaikum wr.wb.
Hai NINU. Kau tau, dari setahunan yang lalu aku udah pingin bikin surat buat kamu. Hehe. Yah, seperti yang kamu tau, aku suka nulis surat buat anak-anak juga. Setahunan yang lalu itu aku udah nyiapin kertas binder warna ungu gambar gadis jepang kartun. Cakep deh kertasnya. Tapi aku ngga sempet nulis sampe ngga tau sekarang tu kertas kemana.
Pertamanya, selamat hari lahir yaa. Tak ada tradisi ulang tahun yang aneh aneh, hanya mengingat hari dimana Allah berkehendak kita lahir dari rahim ummi kita dan menangis. Menangis karena bahagia bertemu dengan ibu, wanita terbaik dan terkuat. Menangis karena di depan sana dunia terkadang akan begitu kejam pada kita. Dua mingguan yang lalu kamu tepat berkepala dua, Ninu. Bukan belasan lagi. Semoga berkurangnya usia jadi pengingat efektif sebanyak apa pahala yang telah kita kumpulkan untuk jadi bekal tatkala kita pensiun dari bumi.
Dulu, semester pertama kita di Hamfara, terus terang aku melihatmu sebagai orang yang paling tidak stres. Tapi kemudian untuk pertama kali aku tau kegalauanmu waktu ujian semester. Oh, gini toh ekspresi Ninu dan apa yang dilakukannya kalo lagi stres, batinku.
Sekarang, mungkin kau juga lagi banyak pikiran.
Ninu. Dia itu.. Gimana yah orangnya?
punya obsesi bikin butik. Dia emang suka suka banget sama yang namanya design. Tapi dia ada di hamfara sekarang. Jauh dari impiannya, timpang dari kesukaanya rancang merancang. meski begitu, kini kurasa ia tau, bukan saatnya untuk menyesal atas pilihan kemarin, karena hari ini yang mampu kita lakukan adalah mengendalikan apa yang ada dan merancang masa depan. Meski kadang ia mengeluh tentang kuliah dan tetek bengeknya, aku tau, ia lakukan seoptimal mungkin.
Dia memilih ngaji. Pasti bukan karena temanteman dekatnya ngaji. Mungkin iya di awal, tapi kemudia pemikirannya yang merubahnya dan meyakinkannya dalam jalan ini. ia bangun keyakinan itu, ia bangun keistiqomahan itu. sering dikatakan padanya, pengemban dakwah itu harus begini, harus begitu, pengemban dakwah itu berpengaruh, berbeda dan menonjol syakhsiyahnya dibanding yang tidak. Kadang statement2 ini melemahkan kita, kadang kita merasa tidak pantas. Tapi kata siapa? Jangan kita beri judgement buruk untuk kita sendiri kecuali untuk perbaikan, bukan untuk berhenti memperbaiki.
Dia juga ikut organisasi intern kampus. Dia berada dalam deputri, bahkan jadi koordinator divisi xxxxx. Dia makin banyak amanah. Rapat ini itu, ngerancang agenda ini itu, nyuruh ini itu, dan ini itu yang lain. Waktu dan tenaganya semakin terforsir. Kenapa harus kau? Jawabannya karena tidak ada NINU yang lain. Tidak ada orang lain yang mampu melakukannya selain dirimu. Jawabannya karena Allah menganggap kaulah yang mampu. Allah tak akan beri ujian diluar kadar hamba kan? InsyaAllah di bem ini kita bisa ambil banyak pelajaran tentang organisasi yang bisa kita terapkan bebarengan di dakwah. Misalnya link-link pembicara, link perkap, link konsumsi, cara mengatur acara, cara bikin surat, cara memenej orang, cara mengatur dan menugasi orang, cara menjadi pemimpin. Berat? Iya. Sibuk? Memang. Hampirhampir ga ada waktu buat main2? Bagus kan.
Selain amanah2 dia, berbagai masalah2 muamalah (yang berhubungan dg man lain) juga menghampirinya. Itu pasti, namanya juga hidup. Hidup berjamaah (bermasyarakat) lagi. Tapi selalu pangkal dari segala aktivitas kita adalah pemenuhan dari gharizah dan hajah udhwiyah. Dan hukum syara itu berbicara bagaimana islam berkata tentang segala aktivitas pemenuhan itu.
Perilaku kita itu wujud dari syakhsiyah kita. Nafsiyah itu tepatnya, ya, pola sikap. Sebenarnya pola nafsiyah itu adalah penyikapan kita atas hukum syara. Jadi sejauh mana sikap/respon seseorang terhadap hukum syara itu lah kita bisa lihat sejauh mana nafsiyahnya. Makanya penyikapan ini juga bergantung dengan pola pikirnya.
Tentang jilbab kaos, kau sudah bisa melawan kilaunya yang menawan. Salut deh ane. Tinggal bilang ke ummi tuk buatin yang selain kaos.
Tentang tabarruj, itu sejauh mana seseorang bisa wara’ dan menjaga dirinya supaya tidak mencolok dan berlebihan. Inilah penjagaan dalam islam untuk tidak menjadikan akhwat jadi pusat perhatian ikhwan. Ternyata sebiasa apa pun akhwat, tetep aja bisa menarik bagi ikhwan. Ternyata Sebiasa apa pun akhwat, tetep ada aja ikhwan yang suka. Lalu yang harusnya kita fikirkan adalah: gimana akhwat yang tampilnya nggak biasa?bakal makin menarik bagi ikhwan. Bukan berfikir: yaudah, biasa ato berlebihan sama aja.
Soal interaksi di dumay sih, jangan berlebihan aja. Jadi inget ada status mbak kita yang gini “nulis status buat dibaca siapa sih?”. Nohok nih, padahal buat dirinya sendiri juga. Jadi status sih ga masalah asal ga lebay en ngecurhatin semua hal ke fesbuk. Tapi kita juga nanya ke diri kita, penting ga sih ini? buat apa? Buat siapa?
Kita emang perlu banyak muhasabah diri Ninu, mungkin banyak hal mubah yang kita lakukan. Mubah itu mubah, boleh. Tapi bukankah akan ditanya juga, kenapa waktumu yang ada kau gunakan untuk hal mubah padahal bisa kau manfaatkan untuk mengerjakan hal bernilai ibadah??
Perubahan itu pahit. Siapa bilang berubah itu mudah? Tak seorang pun. Seseorang yang berani berubah menjadi lebih baik, ia hadapi banyak tantangan dan resiko. Pahit sekali. Mungkin sakitnya bikin nangis darah juga. Tapi itulah perubahan. Untuk menjadi lebih baik, mengapa tidak kita lakukan?
Kebiasaan buruk itu jika kita sungguhsungguh ingin menghilangkannya, ia bersedia habis,lenyap. Meski prosesnya tak sekejap. Karena komitmen itu tidak sulit, hanya kita saja yang sulit berkomitmen.
Kita bisa lakukan itu Nu. Kau. Aku. Semuanya, asal punya tekad dan diniatkan lillahi ta’ala.
Kita optimalkan tugas2 kita sekarang, dakwah di organisasi internasional, di bem, kuliah, mahad, ngerjain tugas halqah, ngerjain tugas bem, ngerjain tugas kuliah, belajar bahasa arab, memperbaiki akhlak, menjaga dan meningkatkan ibadah nafilah, belajar ekonomi, nyicil hafalan, penelitian, acara ini itu. banyaaaaaaak banget yang musti kita lakuin Nu. Kita juga mesti mikir pemecahan masalah-masalah individu kita, en ngorbanin perasaan buat memperbaiki diri.
Tapi kita dapat banyak kok. Di waktu yang sama yang seperti temen2 kita punya, kita dapat banyak. Mereka cuman kuliah, kita juga dakwah. Mereka cuman  di bem, kita juga di yang lain. Mereka cuman jadi anggota, kita udah pengalaman jadi ketua. Mereka tau perkembangan mode terbaru, mereka bisa nonton film sesuka hati, shopping kemanamana, jajan ini itu, narsis-narsisan di tempat2 seru,dll. Kita udah punya konsep kebahagiaan sendiri, jadi ga tertarik dg kebahagiaan semu macam itu, toh kita masih sempat refreshing dg kayak gitu juga.
Nanti kita lulus dari hamfara kita nggak Cuma dapat ijazah sarjana ekonomi islam, tapi punya banyak bekal dan pengalaman untuk di masyarakat. insyaAllah. Aktivitas kita bercabang-cabang, tapi poros tetep satu: dakwah islam. Intanshurullaha yanshurkum. Allah pasti menolong hambaNya yang menolong agamaNya.
Saatnya latihan manajemen waktu, manajemen perasaan, manajemen tenaga, manajemen orang2 anggota kita, de el el. Kalo ga sekarang, kapan lagi?
Sepertinya ini yang dibilang: orangorang yang berani mengambil posisi hari ini. betapa spesialnya orang2 itu.
Bismillah. Bukan saatnya mundur merasa tidak layak, tapi saatnya melayakkan diri. Karena mungkin Allah telah menuliskan kelayakan dan kesuksesan kita itu di lauhul mahfudznya. Dan proses ini dinilai. Proses ini senantiasa berjalan, nikmatilah.
Jadi, buat kita selamat semangat, selamat berkorban, selamat menempa diri, selamat hadapi berbagai resiko, selamat alami suka dukanya, selamat menjadi layak, dan selamat sukses!
Aamiiiiiiiin.
Wassalam.
Love u cz Allah.

(asli buat Ni-Nu. siapa dia?)

2 thoughts on “Surat Buat Ni-Nu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s