Demi Seseorang?

Waktu itu (tiga tahun lalu) saya bersemangat sekali menyelami fraksi mol, sifat kolegatif larutan, stoikiometri, keseimbangan reaksi,  hidrokarbon, dan sekutu-sekutunya demi ikut olimpiade kimia. Tiba-tiba seorang kawan saya membatalkan ikut. Apa hubungannya? Ya, saya akui, kala itu saya habis-habisan belajar karena dia meskipun nantinya dia tidak satu tim dengan saya. Lalu tiba-tiba saya down begitu saja. Mood belajar saya hilang seketika.

Saya jadi ingat kisah negeri lima menara, ketika seorang Baso harus meninggalkan pondok. Baso, yang memprovokasi teman-temannya untuk pertunjukan. Baso yang paling bijak, paling wara, paling alim. Baso yang mencetuskan shahibul menara harus bertemu dengan foto menara masing-masing. Baso, sang penyemangat Alif untuk terus bersungguh-sungguh belajar di pondok. Tapi justru Baso yang harus pulang. Justru ia yang pergi dan bukan Alif. Cahaya pencerah Alif hilang. Pijar semangatnya melenyap.

Ada seorang teman yang dulunya suka dengan lagu arab, film arab, dan apapun berbau arab. Itu dia lakukan karena di masa jahiliyahnya dia pacaran dengan orang timur tengah. Setelah diputus dan ditinggal nikah duluan, teman saya ini jadi jengah dengan bahasa arab.

Disadari atau tidak, setiap hal yang kita lakukan pasti punya alasan. Pasti ada alasan. Maka apa alasanmu menulis ini? Apa alasanmu membaca tulisan singkat ini? Apa alasanmu mau rela pergi ke warnet atau membeli pulsa untuk modem? Maka apa alasanmu melakukan apa yang kau lakukan?

Hadits dari Abdullah in Mas’ud riwayat al-Hakim dalam al- Mustadrak. Ibnu Mas’ud berkata; Rasulullah saw. pernah bersabda kepadaku : Wahai Abdullah in Mas’ud! Ibnu Mas’ud berkata, “Ada apa Ya Rasulullah (ia mengatakannya tiga kali). Rasulullah bertanya, “Apakah engkau tahu, tali keimanan manakah yang paling kuat?” Aku berkata, “Allah dan RasulNYA lebih tahu.” Rasulullah bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah loyalitas kepada Allah, dengan mencintai dan membenci (segala sesuatu) hanya karenaNYA.”

Malik dalam al-Muwatha, dengan sanad yang shahih, telah mengeluarkan hadits dari Muadz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:
Allah berfirman, “Kecintaanku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karenaKU, saling berkumpul karenaKU, saling mengunjungi karenaKU, dan saling memberi karenaKU.”

Pun jika seseorang masuk ke sebuah organisasi. Katakanlah itu organisasi BEM atau sebuah partai ekstra parlemen. Ada yang ingin bergabung karena melihat sosok yang baik dan ingin menirunya. Ada yang ingin berjuang bersama karena ada seseorang yang dikagumi. Tapi tatkala sosok itu melakukan kesalahan dan tidak nampak baik lagi di matanya, ia pun mengundurkan diri dari aktivitas organisasi.

Paling tidak contoh-contoh di atas cukup mengingatkan kita bahwa setiap kita beramal jika diniatkan bukan karena Allah, maka amalan kita itu takkan berarti. Amalan itu tidak akan mentajassud dan bertahan lama. Amalan itu kita lakukan karena terpantik dari luar diri, yakni karena seseorang. Kita bisa dikatakan plin plan karena melakukan aktivitas tergantung suasana hati, tergantung seseorang yang menyemangati dan memprovokasi kita.

Lakukan sesuatu bukan karena siapapun. Bukan karena iming-iming duniawi. Lakukan sesuatu karena Allah menyuruh kita untuk itu.
Cintai aktivitas dakwah dan ibadahmu karena Allah. Dan bencilah maksiyat karena Allah.
Cintai seseorang karena Allah, dan abaikan orang itu jika ia tak bisa mencintaiNYA.

Karena ekspresi cinta padaNYA adalah dengan menjalankan seluruh syariat secara kaffah. Serta memperjuangkan penerapan islam itu dengan Khilafah.

–catatan lama–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s