Surat Buat Ni-Nu

Surat Buat Ninu
Assalamu’alaikum wr.wb.
Hai NINU. Kau tau, dari setahunan yang lalu aku udah pingin bikin surat buat kamu. Hehe. Yah, seperti yang kamu tau, aku suka nulis surat buat anak-anak juga. Setahunan yang lalu itu aku udah nyiapin kertas binder warna ungu gambar gadis jepang kartun. Cakep deh kertasnya. Tapi aku ngga sempet nulis sampe ngga tau sekarang tu kertas kemana.
Pertamanya, selamat hari lahir yaa. Tak ada tradisi ulang tahun yang aneh aneh, hanya mengingat hari dimana Allah berkehendak kita lahir dari rahim ummi kita dan menangis. Menangis karena bahagia bertemu dengan ibu, wanita terbaik dan terkuat. Menangis karena di depan sana dunia terkadang akan Baca lebih lanjut

Iklan

apaajalah (soal ijtimai)

Suatu ketika saya cerita, dia denger percakapan dua orang akhwat…
A: Mba, temenin ke kantin dong
B: Ngapa musti ditemenin? Biasanya juga sendirian gitu..
A: Lha itu ada ikhwan. Malu e.
B: Siapa? itu kan si itong, ikhwan sepotong.
Malu itu sama ikhwan beneran, yang shalih, yang ijtima’inya terjaga, yang gadhul bashar, yang juga malu en ngehormatin kita sebagai akhwat. Ngga usah malu sama itong-itong gajebo.


X: Dia itu sudah saya anggap adik saya sendiri.
Y: Mas X juga sudah saya anggap kakak saya sendiri. Bahkan saya sudah pernah bertemu dengan orang tua mas X.
X: Kami berkomunikasi pada hal-hal penting saja, tidak berkhalwat dan tidak berikhtilat. Saya tekankan kami tidak pacaran.
Y: Saya berkomunikasi melalui orangtua mas X kok.

Pertanyaannya, apakah kakak angkat dan adik angkat itu mahram? Jelas bukan!
Mereka berdua baru saling mengangkat menjadi adik dan kakak karena dipertemukan dalam satu kondisi, aneh. Pacaran berbalut kakak-adik-angkat. Pasti selalu ada desir aneh ketika bertemu di kelas, bahkan satu organisasi. Pasti ada kecenderungan yang mengotori hatimu, hai akhi, ukhti! Dimana pemahaman kalian?
Pasti selalu ada rasa khawatir ketika salah satu sedang sakit atau ditimpa musibah. Pasti ada keinginan saling memberi makanan. Interaksi macam apa itu?

#masihadaajayangbegini,astaghfirullah.

Demi Seseorang?

Waktu itu (tiga tahun lalu) saya bersemangat sekali menyelami fraksi mol, sifat kolegatif larutan, stoikiometri, keseimbangan reaksi,  hidrokarbon, dan sekutu-sekutunya demi ikut olimpiade kimia. Tiba-tiba seorang kawan saya membatalkan ikut. Apa hubungannya? Ya, saya akui, kala itu saya habis-habisan belajar karena dia meskipun nantinya dia tidak satu tim dengan saya. Lalu tiba-tiba saya down begitu saja. Mood belajar saya hilang seketika.

Saya jadi ingat kisah negeri lima menara, ketika seorang Baso harus meninggalkan pondok. Baso, yang memprovokasi teman-temannya untuk pertunjukan. Baso yang paling bijak, paling wara, paling alim. Baso yang mencetuskan shahibul menara harus bertemu dengan foto menara masing-masing. Baso, sang penyemangat Alif untuk terus bersungguh-sungguh belajar di pondok. Tapi justru Baso yang harus pulang. Justru ia yang pergi dan bukan Alif. Cahaya pencerah Alif hilang. Pijar semangatnya melenyap.

Ada seorang teman yang dulunya suka dengan lagu arab, film arab, dan apapun berbau arab. Itu dia lakukan karena di masa jahiliyahnya dia pacaran dengan orang timur tengah. Setelah diputus dan ditinggal nikah duluan, teman saya ini jadi jengah dengan bahasa arab.

Disadari atau tidak, setiap hal yang kita lakukan pasti punya alasan. Pasti ada alasan. Maka apa alasanmu menulis ini? Apa alasanmu membaca tulisan singkat ini? Apa alasanmu mau rela pergi ke warnet atau membeli pulsa untuk modem? Maka apa alasanmu melakukan apa yang kau lakukan?

Hadits dari Abdullah in Mas’ud riwayat al-Hakim dalam al- Mustadrak. Ibnu Mas’ud berkata; Rasulullah saw. pernah bersabda kepadaku : Wahai Abdullah in Mas’ud! Ibnu Mas’ud berkata, “Ada apa Ya Rasulullah (ia mengatakannya tiga kali). Rasulullah bertanya, “Apakah engkau tahu, tali keimanan manakah yang paling kuat?” Aku berkata, “Allah dan RasulNYA lebih tahu.” Rasulullah bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah loyalitas kepada Allah, dengan mencintai dan membenci (segala sesuatu) hanya karenaNYA.”

Malik dalam al-Muwatha, dengan sanad yang shahih, telah mengeluarkan hadits dari Muadz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:
Allah berfirman, “Kecintaanku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karenaKU, saling berkumpul karenaKU, saling mengunjungi karenaKU, dan saling memberi karenaKU.”

Pun jika seseorang masuk ke sebuah organisasi. Katakanlah itu organisasi BEM atau sebuah partai ekstra parlemen. Ada yang ingin bergabung karena melihat sosok yang baik dan ingin menirunya. Ada yang ingin berjuang bersama karena ada seseorang yang dikagumi. Tapi tatkala sosok itu melakukan kesalahan dan tidak nampak baik lagi di matanya, ia pun mengundurkan diri dari aktivitas organisasi.

Paling tidak contoh-contoh di atas cukup mengingatkan kita bahwa setiap kita beramal jika diniatkan bukan karena Allah, maka amalan kita itu takkan berarti. Amalan itu tidak akan mentajassud dan bertahan lama. Amalan itu kita lakukan karena terpantik dari luar diri, yakni karena seseorang. Kita bisa dikatakan plin plan karena melakukan aktivitas tergantung suasana hati, tergantung seseorang yang menyemangati dan memprovokasi kita.

Lakukan sesuatu bukan karena siapapun. Bukan karena iming-iming duniawi. Lakukan sesuatu karena Allah menyuruh kita untuk itu.
Cintai aktivitas dakwah dan ibadahmu karena Allah. Dan bencilah maksiyat karena Allah.
Cintai seseorang karena Allah, dan abaikan orang itu jika ia tak bisa mencintaiNYA.

Karena ekspresi cinta padaNYA adalah dengan menjalankan seluruh syariat secara kaffah. Serta memperjuangkan penerapan islam itu dengan Khilafah.

–catatan lama–