Diamnya berarti…

 

Diamnya orang yang mendengar gosip, dengan nggak menanggapinya, nggak ikutan nimbrung, itu pahala. Kalo bisa pergi sekalian dari forum itu, atau bahkan ingetin dosa. #Diam itu emas, tapi dakwah tentu lebih mulia

Diamnya peserta ujian nasional untuk tidak mencontek temannya, untuk tidak memberitahukan jawaban pada temannya. Artinya dia berusaha jujur dan mengandalkan ikhtiarnya sendiri. #Diam itu jujur

Diamnya orang yang sedang jatuh cinta, bertahan sekuat tenaga menjaga ucapan dan tindakannya hingga pengungkapannya kelak menjadi halal, itu lebih romantis dari kisah cinta manapun. #Diam itu cinta yang tak mengajak maksiyat

Diamnya orang yang biasanya cerewet, mungkin akibat dia punya suatu persoalan besar. Silakan lakukan aksi konspirasi terencana membuatnya tertawa kembali. Tapi bisa juga dia hanya sedang sakit gigi. 😀 Makanya tabayyuni dulu. #Diam itu sakit gigi?

Diamnya seorang gadis ketika ada lelaki shalih yang mengkhitbahnya. Diamnya itu menunjukkan dia tak punya alasan kuat untuk menolak pinangan itu. Diamnya bisa pula diartikan keridhoannya terhadap agama dan akhlak lelaki itu selama ini, sebuah kekaguman yang dipendam. #Diam itu setuju, diam itu mau

Diamnya orang yang ikut rapat, padahal dia memiliki ide lain dari yang lain, berarti ia merelakan kesimpulan rapat yang diambil untuk tetap biasa-biasa saja. #Diam itu malas berpendapat

Diamnya seorang seller/marketer. Mungkin itu karena dia sedang istirahat. Karena seharusnya pemasaran dan penjualan yang dilakukan harus dengan komunikasi aktif dan powerful. #Diam itu capek

Diamnya orang yang hadir/ikut kajian/perkuliahan biasanya menunjukkan kefahamannya tentang apa yang disampaikan. Tapi seringkali juga orang itu diam karena tidur, atau justru karena tak nyambung sama sekali dengan yang dibicarakan. #Diam itu nggak ngerti, Diam itu tidur, atau Diam itu sudah faham?

Diamnya mahasiswa yang enggan mengambilkan spidol atau penghapus untuk dosennya #Diam itu nggak peka

Diamnya teman sekelas yang saling bertemu di bank, bahkan duduk berdampingan #Diam itu cuek

Diamnya orang yang ketika ditanya namanya diam, ditanya asalnya diam, ditanya mau kemana diam, tapi dia malah menggerak-gerakkan tangannya membentuk simbol #Diam itu (maaf) tunawicara

Diamnya orang yang ditanya apa jadwal kuliah hari ini? rapat jam berapa? materi kajian kemarin sampai mana? #Diam itu lupa

Diamnya orang yang tak ikut mencampuri masalah privasi orang lain, bisa juga jadi baik. Terkadang mencampuri urusan orang lain itu justru semakin memperkeruh suasana. #Diam itu emas, tapi dokter umat itu menyelesaikan

Diamnya kita melihat kemungkaran di depan mata, artinya ia membiarkan saudaranya terkena dosa dan dirinya sendiri memikul beban dosa investasi. #Diam itu dosa investasi

Diamnya kita melihat manusia lain terdholimi oleh sistem kufur dan enggan berdakwah, enggan lakukan perbaikan. #Diam itu dosa investasi

Diamnya kita penghinaan terhadap rasulullah, dibakarnya Al Quran, dimana iman? #Diam itu tanda lemah iman

Diamnya kita atas tuduhan teroris yang disematkan pada saudara2 sesama muslim yang tak bersalah, diamnya kita atas pembantaian kaum muslimin di belahan dunia lain, dimana ukhuwah? #Diam wujud tak menjadikan aqidah islam sebagai ikatan antar manusia

Maka diam itu tak selamanya emas. Diam itu tak selalu benar, juga tak selamanya salah.
Karena setiap tindakan kita, dan diam kita hendaknya selalu kita standarkan pada syariat islam. Karena sepatutnya kita diam atau tidak itu berdasar hukum syara’.
Ada diam yang wajib, yang sunnah, yang mubah, yang makruh, juga diam yang haram.

Iklan

Surat Buat Ni-Nu

Surat Buat Ninu
Assalamu’alaikum wr.wb.
Hai NINU. Kau tau, dari setahunan yang lalu aku udah pingin bikin surat buat kamu. Hehe. Yah, seperti yang kamu tau, aku suka nulis surat buat anak-anak juga. Setahunan yang lalu itu aku udah nyiapin kertas binder warna ungu gambar gadis jepang kartun. Cakep deh kertasnya. Tapi aku ngga sempet nulis sampe ngga tau sekarang tu kertas kemana.
Pertamanya, selamat hari lahir yaa. Tak ada tradisi ulang tahun yang aneh aneh, hanya mengingat hari dimana Allah berkehendak kita lahir dari rahim ummi kita dan menangis. Menangis karena bahagia bertemu dengan ibu, wanita terbaik dan terkuat. Menangis karena di depan sana dunia terkadang akan Baca lebih lanjut

apaajalah (soal ijtimai)

Suatu ketika saya cerita, dia denger percakapan dua orang akhwat…
A: Mba, temenin ke kantin dong
B: Ngapa musti ditemenin? Biasanya juga sendirian gitu..
A: Lha itu ada ikhwan. Malu e.
B: Siapa? itu kan si itong, ikhwan sepotong.
Malu itu sama ikhwan beneran, yang shalih, yang ijtima’inya terjaga, yang gadhul bashar, yang juga malu en ngehormatin kita sebagai akhwat. Ngga usah malu sama itong-itong gajebo.


X: Dia itu sudah saya anggap adik saya sendiri.
Y: Mas X juga sudah saya anggap kakak saya sendiri. Bahkan saya sudah pernah bertemu dengan orang tua mas X.
X: Kami berkomunikasi pada hal-hal penting saja, tidak berkhalwat dan tidak berikhtilat. Saya tekankan kami tidak pacaran.
Y: Saya berkomunikasi melalui orangtua mas X kok.

Pertanyaannya, apakah kakak angkat dan adik angkat itu mahram? Jelas bukan!
Mereka berdua baru saling mengangkat menjadi adik dan kakak karena dipertemukan dalam satu kondisi, aneh. Pacaran berbalut kakak-adik-angkat. Pasti selalu ada desir aneh ketika bertemu di kelas, bahkan satu organisasi. Pasti ada kecenderungan yang mengotori hatimu, hai akhi, ukhti! Dimana pemahaman kalian?
Pasti selalu ada rasa khawatir ketika salah satu sedang sakit atau ditimpa musibah. Pasti ada keinginan saling memberi makanan. Interaksi macam apa itu?

#masihadaajayangbegini,astaghfirullah.

Demi Seseorang?

Waktu itu (tiga tahun lalu) saya bersemangat sekali menyelami fraksi mol, sifat kolegatif larutan, stoikiometri, keseimbangan reaksi,  hidrokarbon, dan sekutu-sekutunya demi ikut olimpiade kimia. Tiba-tiba seorang kawan saya membatalkan ikut. Apa hubungannya? Ya, saya akui, kala itu saya habis-habisan belajar karena dia meskipun nantinya dia tidak satu tim dengan saya. Lalu tiba-tiba saya down begitu saja. Mood belajar saya hilang seketika.

Saya jadi ingat kisah negeri lima menara, ketika seorang Baso harus meninggalkan pondok. Baso, yang memprovokasi teman-temannya untuk pertunjukan. Baso yang paling bijak, paling wara, paling alim. Baso yang mencetuskan shahibul menara harus bertemu dengan foto menara masing-masing. Baso, sang penyemangat Alif untuk terus bersungguh-sungguh belajar di pondok. Tapi justru Baso yang harus pulang. Justru ia yang pergi dan bukan Alif. Cahaya pencerah Alif hilang. Pijar semangatnya melenyap.

Ada seorang teman yang dulunya suka dengan lagu arab, film arab, dan apapun berbau arab. Itu dia lakukan karena di masa jahiliyahnya dia pacaran dengan orang timur tengah. Setelah diputus dan ditinggal nikah duluan, teman saya ini jadi jengah dengan bahasa arab.

Disadari atau tidak, setiap hal yang kita lakukan pasti punya alasan. Pasti ada alasan. Maka apa alasanmu menulis ini? Apa alasanmu membaca tulisan singkat ini? Apa alasanmu mau rela pergi ke warnet atau membeli pulsa untuk modem? Maka apa alasanmu melakukan apa yang kau lakukan?

Hadits dari Abdullah in Mas’ud riwayat al-Hakim dalam al- Mustadrak. Ibnu Mas’ud berkata; Rasulullah saw. pernah bersabda kepadaku : Wahai Abdullah in Mas’ud! Ibnu Mas’ud berkata, “Ada apa Ya Rasulullah (ia mengatakannya tiga kali). Rasulullah bertanya, “Apakah engkau tahu, tali keimanan manakah yang paling kuat?” Aku berkata, “Allah dan RasulNYA lebih tahu.” Rasulullah bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah loyalitas kepada Allah, dengan mencintai dan membenci (segala sesuatu) hanya karenaNYA.”

Malik dalam al-Muwatha, dengan sanad yang shahih, telah mengeluarkan hadits dari Muadz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:
Allah berfirman, “Kecintaanku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karenaKU, saling berkumpul karenaKU, saling mengunjungi karenaKU, dan saling memberi karenaKU.”

Pun jika seseorang masuk ke sebuah organisasi. Katakanlah itu organisasi BEM atau sebuah partai ekstra parlemen. Ada yang ingin bergabung karena melihat sosok yang baik dan ingin menirunya. Ada yang ingin berjuang bersama karena ada seseorang yang dikagumi. Tapi tatkala sosok itu melakukan kesalahan dan tidak nampak baik lagi di matanya, ia pun mengundurkan diri dari aktivitas organisasi.

Paling tidak contoh-contoh di atas cukup mengingatkan kita bahwa setiap kita beramal jika diniatkan bukan karena Allah, maka amalan kita itu takkan berarti. Amalan itu tidak akan mentajassud dan bertahan lama. Amalan itu kita lakukan karena terpantik dari luar diri, yakni karena seseorang. Kita bisa dikatakan plin plan karena melakukan aktivitas tergantung suasana hati, tergantung seseorang yang menyemangati dan memprovokasi kita.

Lakukan sesuatu bukan karena siapapun. Bukan karena iming-iming duniawi. Lakukan sesuatu karena Allah menyuruh kita untuk itu.
Cintai aktivitas dakwah dan ibadahmu karena Allah. Dan bencilah maksiyat karena Allah.
Cintai seseorang karena Allah, dan abaikan orang itu jika ia tak bisa mencintaiNYA.

Karena ekspresi cinta padaNYA adalah dengan menjalankan seluruh syariat secara kaffah. Serta memperjuangkan penerapan islam itu dengan Khilafah.

–catatan lama–