Reportase BEM ke Jakarta []02

Sekuel pertama reportase ke Jakarta sudah sampai acara bedah buku “FRASA GILA” di SMP ANDALUS. Meski rasa bahasanya mirip bahasa tips-tips konyol perjalanan. Yoo,,nastamiir deh ke destinasi berikutnya: media umat, masjid kampus UI, dan rumah mba yuana.

  1. Panas terik. Cuma mau keluar dari gang saja, bus kami memakan waktu macet yang cukup lama.
  2. Sekitar pukul 10.47, kami sudah berada di depan kantor pusat Hizbut Tahrir Indonesia di Crown Palace. Disitulah nanti kami bertemu dengan kru redaksi media umat. Ada dua pintu, kiri rijal, kanan nisa. Wiii. Rapi. Kami mengisi daftar hadir dulu, lalu naik ke lantai dua. Ada ustdzh iffah rahmah dan istri ustadz ismail yang sedang koordinasi. Lantai dua ini antara rijal dan nisa hanya bersekat tirai, jadi karena ada agenda ini, tirainya dibuka. Kami bisa lihat LCD dan pembicara dari redaksi MU, ustadz farid wajdi. Ada beberapa orang dari redaksi yang hadir, kecuali ust mujiyanto. Tanya jawab berlangsung santai tapi berbobot.
  3. Media umat kini sudah memasuki tahun keempat sebagai tabloid satu-satunya tabloid ideologis yang berani membongkar makar penguasa dlolim. Bukan menjelek-jelekkan penguasa, tapi menunjukkan penguasa yang jelek, sehingga kita bisa kritisi dan temukan jalan keluar bahwa bukan Cuma personnya saja yang perlu diganti.
  4. Kami hanya sempat berbincang beberapa waktu hingga dzuhur. Lalu ikhwan berfoto dengan kru redaksi media umat, dan kami mendapat cinderamata dua bundel media umat sejak tahun pertama. Dan janji akan ditampilkan foto kunjungan ini di media umat edisi selanjutnya. Tapi ya ikhwan doang.
  5. Dari media umat, kami bertolak ke Depok. Menuju universitas Indonesia. Sebelumnya kami bersitegang dulu dengan supir dan kenek bus yang meminta biaya tambahan karena rute ini melanggar perjanjian awal.
  6. Karena anggaran kami hanya tinggal 150ribu, dan harus dibayarkan, otomatis anggaran makan siang ditiadakan. Oh! Cuman makan roti glamour.
  7. Sampai di masjid Ukhuwah Islamiyah, UI sekitar pukul 14.07. Amir safar agaknya pesimis supir bus tidak akan memarahinya lagi. Tapi Alhamdulillah, setelah saya dan mba yuana melobi beliau untuk tetap lewat Cirebon, begini, begitu, beliau bisa bekerjasama dengan baik. Oke, bus beres. Tapi jam setengah empat harus sudah berangkat lagi dari UI.
  8. Perhatikan baterai kamera, kami tak banyak mengabadikan acara di UI karena kehabisan baterai.
  9. Acaranya pertemuan BEM Hamfara dengan Forum Remaja Masjid (FRM) UI, di aula selatan masjid kampus UI. Saling sharing terkait struktur organisasi, program kerja, dsb. Pulangnya kami dapat makan. Alhamdulillah. Plus buah2an lagi. Ini nih namanya berkah silaturrahim. Sur’ah badihah, mintalah pada panitia dua kotak nasi tambahan buat supir en kenek bus. Kami terlambat kembali ke bus beberapa menit, tapi beliau-beliau tidak marah. Fyuuuh. Apa ini riswah?😀 bukan,tapi itu nasi dan pecel lele.
  10. Otw ke jogja lewat pantura. Alhamdulillah masih sempat untuk menghindari kemacetan jalan tol. PP ke Jakarta kami menghabiskan dana lebih dari seratus ribu hanya untuk membayar jalan tol. Sampai kapan kita harus membayar pelayanan yang harusnya menjadi hak rakyat?
  11. Lebih baik dengarkan nasyid-nasyid perjuangan kalo tidak ada murattal. Tapi anehnya para penumpang depan memilih lagu yui dan lagu british, penyanyinya wanita lagi. Mereka yakin lebih suka lagu beginian?
  12. Oh, lagu shoutul khilafah album kedua itu lebih baik.
  13. Apabila jalur utama menuju rumah kakak angkatan tidak bisa dilalui, bersiaplah ada ketegangan menanti di hadapan. Jalan sempit, bergelombang, kanan-kiri sawah, loss, dan supir sedikit ngambek, dan tidak mau mendengar teriak ketakutan dari belakang. Itulah, bus kocok. Gujrug-gujrug di dalam bus tak terelakkan, penumpang paling belakang tak sanggup memepertahankan posisi badannya untuk tetap duduk di kursi penumpang. Badannya terpelanting, dan ia harus mencari pegangan lain sambil berdiri. Dan masih, supir tak mengurangi tekanan kakinya pada pedal gas. Bahkan ketika berbelok pun. Wuingg! Hosh. Alhamdulillah, sampai. “Silakan pastikan rekan disamping anda masih manusia”, begitu kata kabem. Rupanya ada satu orang yang tak peduli dengan riuhnya suara akhwat dan goyangan dahsyat bus. Kok tidurnya tetap bisa nyenyak ya?
  14. Alhamdulillah di rumah mba yuana suasana sudah tenang, kami bergantian ke kamar mandi dan shalat, juga bergantian makan ketoprak. Kami tidak sedang berleha-leha terlalu menikmati makanan yang bikin ketawa ini, atau sedang beromantisasi dengan acara tivi “economic challenges, resiko politik 2013”.. Entah kenapa ikhwan selalu saja lebih cepat. Kami bergegas, kami juga khawatir kalau-kalau nanti supir bus ngambek (ngebut) lagi.
  15. Dari Cirebon, rombongan bus kami dipenuhi orang-orang yang pakai salonpas di hidung-hidung mereka. Yah, mudah-mudahan perjalanan pulang ini lancar.
  16. Pukul lima pagi kami telah sampai di  daerah kutowinangun. Kami behenti di sebuah masjid di kanan jalan yang tenyata adalah pondok pesantren. Kalau anda salah mengira tempat ini adalah masjid, mohonlah kepada pihak pondok untuk membiarkan anda dan rombongan menumpang shalat subuh disana.
  17. Selasa (15/1) siang, di Jakarta banjir lima tahunan. Banjir besar! Alhamdulillah kami dari pagi sudah berada di bangunjiwo, daerah anti banjir. Tsumma Alhamdulillah.

DSC02134

One thought on “Reportase BEM ke Jakarta []02

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s