One Step Closer

One Step Closer.

Masa demi masa, hari berganti, dan titik itu telah lebih dekat satu langkah. Iya, benar! Satu Langkah lebih dekat menuju padanya. Ha, kalian bisa menafsirkan ini untuk hal apapun. Apapun yang kalian inginkan atau yang kalian khawatirkan. Tiap harinya, kalian lakukan langkah mendekati titik itu.
Detik demi detik yang ada semakin ‘mencekam’ dan terasa sangat lama bagi orang-orang yang menghadapi saat-saat terburuknya. Tapi bagi ia yang sedang bahagia, berjam-jam pun dirasa singkat.
Detik ini ia sedang risih akan efek samping tugasnya. Sebuah peran yang ia pegang hampir tujuh bulan ini. Tugas dalam peran itu tidak masalah, tidak melanggar hukum syara, bahkan melatih jiwa kepemimpinannya. Akan tetapi imbasnya, ia harus terpaksa berinteraksi dengan orang-orang asing yang membuatnya sangat-sangat tak nyaman, meski interaksi itu insyaAllah masih dalam koridor yang benar. Kali ini, kembali ia mengharap generasi segera berganti. Lima atau enam bulan lagi. Tenang, kataku. Itu takkan lama. One step closer, kau hanya tinggal lakukan semua tugasmu, dengan sebaik mungkin, dengan seoptimal yang kau mampu, dan sesuai syariatNya. Itu saja, tak lebih. Jalani saja detik-detik ‘pahit’ itu, toh kau akan merindukan kesibukan ini kelak.
Dia sedang bermuhasabah diri, banyak hal yang tak optimal dilakukan, dia merasakan itu. Dia pernah bilang, dia memilih untuk menguasai banyak hal tapi sedikit-sedikit, daripada menguasai mendalam tapi satu hal saja. Seperti sekarang, dia memang telah memilih untuk berada di beberapa tempat, mengampu beberapa beban bersamaan. Tangannya tak kuasa membawa lebih dari dua jinjing tas. Ada yang digantung di leher, ada yang di punggung, tapi mampunya ya sedikit-sedikit. Karena ayahnya pernah bilang, orang yang mampu maksimal di banyak hal itu perbandingannya satu dan seribu. Sangat jarang orang yang sukses di banyak bidang sekaligus. Ah, dia mencoba dan selalu mencoba, seperti embel-embel namanya. Mencoba mengerjakan semua amanah dan pekerjaan dengan baik. Tapi kadang, tetap saja ia lebih mengutamakan satu hal dan sedikit mencampakkan yang lain. Aulawiyat. Bagaimana jika semua hal itu wajib, dan manakah yang akan ia lakukan terlebih dahulu? Dia kurang ahli disitu, lagaknya. Hanya mencoba, lalu mencoba lagi. Apa harus mengorbankan salah satu? Kukatakan padanya, jalan ini telah kau tempuh separuhnya. Tuntaskan, berjalanlah hingga ujung gang. Ini bukan soal multiple choice anak SD. Karena jawabannya “E=Semua benar”
Sementara kewajibannya yang lain, merengek minta kesungguhan juga. Salah, bukan tugas itu yang mengejar-ejar dia sambil menangis, tapi hatinya yang sebenarnya bersedih karena geraknya tak seteguh ikrar sumpah beberapa bulan lalu. Optimalkan proses, kataku. Urusi umat, niscaya masalahmu juga terselesaikan. Jangan lari, jangan sembunyi. Amanah itu untuk dituntaskan, bukan untuk ditinggalkan. Jangan diam dan berhenti, kalau iya kau akan benar-benar mati. Lakukan, langkah demi langkah yang mengarah pada tujuan.
Yah! Khilafah kian dekat! One Step Closer!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s