Pria Kecil Kami

Selayaknya anak kecil, ia biasa lakukan kebandelan laki-laki. Sekalinya pergi main bareng temen-temennya hampir selalu pulang sore. Entah bersepeda keliling kampung, entah menyusuri kebon, entah nyangkut di rental PS, entah nyemplung ke kali. Nginjak beling, kena ulat, ato insiden lainnya tak pelak sudah sering ia alami. Tak heran tubuh kurusnya banyak luka disana-sini, kulit gelapnya juga tak mulus.
Suatu siang, pria kecil itu pulang dari sekolahnya, SD Alam Mutiara Umat.
Sebelumnya, ia diantar jemput dengan motor. Butuh waktu sekitar sepuluh menit
menuju sekolahnya. Kini ia lebih suka bersepeda sendiri. Siang itu ia pulang terlambat. Wajah kusamnya penuh peluh, sebelah matanya yang sedang sakit bertambah perih. Rupanya ban sepedanya bocor sejak di sekolah, lalu ia tuntun sepedanya untuk pulang ke rumah. Padahal mudah saja ia telfon orang rumah untuk menjemputnya. Tapi katanya, “Itu sudah kufikirkan, tapi sebatas kufikirkan.”

Pria kecil itu penyuka sains. Aku ingat dia sampai bisa masuk semifinal olimpiade yang diadakan majalah sains anak-anak. Tentu, aku hanya sekedar mendengar kisahnya saja. Dia punya mimpi menjadi dokter, tapi juga berkeinginan menjadi tentara jihad suatu saat nanti. Dari buku Muhammad Al- Fatih 1453 yang ia sudah baca, ia mulai membayangkan bagaimana nanti masa perangnya kaum muslimin melawan prajurit Roma. Dalam bayangannya, banyak robot disana. Di udara beterbangan kamera cctv berbentuk mata satu. 

Sesekali aku tertarik membaca majalah sainsnya itu. Heran, di rubrik tanya jawab ada nama anak yang sama persis dengan nama pria kecil itu, bahkan sekolahnya sama. Tidak. Itu memang dia. Bagaimana dia mengirim pertanyaanya? Email? Dia bisa mengirim email? Siapa yang ngajarin? Kapan? Tak seorang pun tahu? Dia baca sendiri bukunya tentang internet, dia curi waktu- waktu ketika dia berselancar di dumay dengan komputer ayahnya, setiap ada orang lewat yang ia lakukan adalah “minimize tab”. Dia buat sendiri emailnya, diketik, dan ajaib! Pertanyaannya muncul di majalah! Lebih dari itu, bagiku, yang wow adalah dia mampu bertanya. Tak semua orang mampu bertanya. Questioning is thinking it self.

Hai pria kecil, entah kenapa aku rindu cerita-ceritamu. Rindu sekali. Ketika kita membincangkan game. Aku bilang padamu untuk tidak sering main game, bahkan kalau bisa jangan sama sekali. Lalu kau menceritakan teman akhwatmu. Kau bilang akhwat itu pintar dan pendiam. Tapi dibalik itu (kau benar-benar menggunakan kata “dibalik itu”) dia suka mainin game di hape bapaknya.
Ketika kita membicarakan film. Aku bilang padamu, kalau temanmu main ke rumah jangan biarkan mereka nonton, apalagi nonton film horor. Lalu kau bilang,”Aku paling ngga bisa menghalangi temen-temen nonton hantu-hantu.. Padahal aku yo takut lek malem-malem inget filmnya.”

Lalu soal pergaulan, aku mencoba bisa tidak pria kecil sepertimu diajak bicara tentang parahnya pergaulan sekarang, udah niru-niru kehidupan di Barat. Kemudian kau bilang, ‘”Lha itu, mbak **** malah senengane film sing ngono kui mba, kehidupane bebas ngono.”

Lalu kita membicarakan mimpi. Kutanyakan lagi, apa yang kamu cita-citakan kelak. Antara dokter dan mujahid. Yang pasti harus berkontribusi demi kebangkitan islam, kataku. Lalu kau mulai bercerita tentang teman sekolahmu lagi, ada yang ambisinya membuat mur/baut terbesar sedunia. “Nggak jelas mbak, sek bukan buat islam.. baut terbesar, digae opo jal?”

Oya pria kecil, tau tidak, kau itu keren. Keren ketika beriqamah sebelum shalat jamaah. Keren ketika bersikap dewasa memimpin teman-temanmu panitia acara
sekolah. Senyummu keren sekali setelah pulang dari warung disuruh ibumu. Kau
juga keren ketika membagi makananmu dengan senang hati. Keren ketika kulihat di foto kau menyetrika bajumu sendiri. Keren ketika membuatkan mainan untuk adik perempuanmu. Keren ketika kau sakit, tapi tidak mengeluh. Syafakallah ya.

Pria kecil, rajutlah mimpimu, berproseslah senantiasa, demi islam!

iff_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s