Dunia memang kejam

Kelas dua SD. Saya merasa tidak punya masalah dengan siapapun. Tibatiba ada anak laki-laki kelas satu menghampiriku, lalu bertanya, “kamu arda ya?” Aku mengangguk. Tak kuduga ia meninjukan tangannya ke perutku. Bugh. Rupanya anak itu disuruh oleh teman saya yang arogan, yang jika snack dari sekolah berupa lumpia pisang bertabur keju, dia selalu meminta potongan2 keju kecilnya dari teman2 sekelas. Waktu itu, saya yang sangat suka keju memakan terlebih dahulu keju2nya sebelum masuk kelas, saya katakan padanya saya dapat yang nggak ada kejunya.

Saat itu saya kelas lima SD. Saya, teman-teman saya, dan kakak kelas saya waktu itu menginap di sebuah villa di daerah Sendang, Tulungagung. Kami bermalam disana untuk esok paginya agenda tahunan latihan manasik haji. Acara itu seru menurut saya. Yang kejam adalah dunia. Saat hujan, saya menepikan sepatu saya agar tidak terkenatetesan air hujan dari genteng. Tapi ternyata, sepatu saya dipindah.Entah oleh siapa. Saya ingat betul, betapa kejamnya dunia pada saya kala itu. Haha. Lebay sekali.

Ketika ujian kelulusan sekolah dasar, tempat ujian kami menumpang ke sekolah dasar negeri. Kami harus bersepeda kesana dari sekolah kami. Teman2 ramai bersepeda dari rumah, hal yang tidak saya lakukan karena saya tidak punya sepeda yang layak dan rumah saya lebih jauh dibanding teman2. Beberapa ada yang tetap berangkat naik mobil tapi membawa sepeda di dalamnya. Sedangkan saya tetap diantar abii naik vespa abu-abunya. Jadi untuk berangkat ke tempat ujian, kadang saya dibonceng, kadang saya pinjam sepeda karyawan kantin sekolah. Meski pernah satu kali saya tertinggal di tempat ujian sendirian padahal teman2 saya sudah pulang ke sekolah. Dunia memang kejam, bagi saya kala itu.

Lebih kejam lagi ketika saya tahu, teman2 yang saya bantu ketika ujian, lebih tinggi nilainya daripada saya. Saya membantu mereka, tapi yang penting nilai saya adalah nilai saya, tak ada campur tangan mereka. Sama aja jeng! Saya membantu kecurangan! Hei, bagaimana tidak, kepala sekolah dan guru favorit saya bahkan sampai nangis-nangis di kelas sebelum kami ujian supaya kami saling membantu. Dunia memang kejam, kata saya lagi.

Ketika SMP, saya tidak melanjutkan ke SMP yang satu yayasan dengan SD saya. Saya memilih ke SMP negeri dekat rumah. Dunia membuat saya malu dan menangis ketika disuruh melepas kerudung untuk foto kartu pelajar. Saya belum punya keberanian memberontak kala itu. Saya menangis.

Yah, dunia memang kejam. Jadi mungkin kekejaman juga salah satu chapter yang dijalani manusia dalam hidupnya.

Kalo boleh saya menyimpulkan tentang kekejaman dunia di sekolah, ada dua hal.

Kalau teman-temanmu ‘kejam’, maka akhlaknya yang kurang beres.
Kalau kebijakan sekolahmu ‘kejam’ dan menghalangimu menerapkan islam, berarti syariat islam telah diabaikan.

Dan selalu ujung permasalahannya adalah sistem buatan manusia. Bagi orang berfaham kapitalis, semua akan dia lakukan hanya dan hanya jika bermanfaat bagi dia. Jujur, membantu, ramah, giat, semua akan dilakukan jika ia mendapat imbalan materi yang pantas. Kalo nggak? Boro-boro, senyum aja ogah. Saat saya bilang orang kapitalis, bukan selalu orang berkapital, tapi orang yang pikirannya selalu untuk kapital, untuk modal, untuk manfaat, untuk materi. Akhlak terpuji yang dilakukan bukan lillahi ta’ala, tapi liduit,liuntung,limanfaat. Adab, kesopanan, yah akhlak sebenarnya sebagai muslim udah wajibnya kita lakukan sesuai yang Allah perintahkan. Makanya nggak heran kalau dunia ini memang kejam, karena penghuni bumi kebanyakan masih menganut paham kapitalisme ini.

Kebijakan ‘kejam’ sekolah nggak luput dari kebijakan pemerintah. Udah fitrohnya, aturan buatan manusia nggak akan sesuai dengan fitrah manusia sesungguhnya. Persoalan bangsa ini nggak bakalan selesai dengan solusi-solusi otak manusia. Bahkan manusia kejam terhadap otaknya sendiri, yang dipaksa berfikir membuat hukum untuk mereka, padahal kan udah ada aturan pencipta yang udah klop ama fitrahnya makhluk bumi. Manusia tinggal liat petunjuk aja, Qur’an Sunnah.

Saya masih cuman merasakan kekejaman dalam level yang amat kecil. Belum masalah ekonomi yang menjerat jutaan orang di luar sana. Kejam!

iff_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s