Hai, Cantik!

Saya punya teman yang dia katakan dirinya pandai meramal. Bukan meramal ala mama lauren beneran, sebenarnya dia itu cuma pandai menebak-nebak. Tentunya setiap tebakan dia kaitkan dengan informasi yang ia dapat. Jadilah dia suka menganalisis seseorang. Okelah, saya nggak ngomong dia peramal, tapi analis. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Dia jadi peramal atau analis, nggak ada hubungannya kok dengan cantik ato nggak cantik. Masa saya mau bilang orang cantik adalah orang yang pandai menganalisis? Ya nggak geto juga kalee.

Teman saya satu itu juga suka menilai orang, cantik-nggak-nya. Dia sih nggak pernah ngomentarin orang lain jelek ato biasa-biasa aja, tapi kalo ketemu yang cantik versi dia, pasti dia heboh (lebay) bilang akhwat yang itu cantik!

Teman saya yang lain lagi, dia punya empat list akhwat yang seandainya teman saya itu jadi ikhwan, dia pingin menikahi keempatnya. Saya pernah nanya ke dia, tapi lupa jawaban dia apa. Yang jelas bukan karena dia lesbi. Na’udzubillah. Oya saya jadi inget pernah baca tulisan yang intinya kayak teman saya yang ini. Dia ngelihat akhwat yang menurut dia cantik, trus saking subhanallah-nya, pingin kali jadi kaya akhwat yang itu. Tapiii, cantik yang seperti apa nih??? That’s the point! Baca lebih lanjut

Iklan

18092012: Refleksi Dua Tahun

Dia bukan lagi anak delapan belas tahun yang menangisi keluarganya pergi, dua tahun yang lalu.
Dia bukan lagi anak lulus SMA yang menangisi keterpisahan dengan orang terdekatnya, dua tahun yang lalu.
Ternyata, waktu dua tahun itu cukup mengubah banyak hal darinya.
Waktu dua tahun itu cukup menyembuhkannya dari luka batin ulahnya sendiri.
Waktu dua tahun cukup membentuknya menjadi sosok yang cukup berbeda.
Dia tak berkata ‘sedikit’ atau ‘banyak’. Dia mensyukuri kondisinya sekarang, tapi tetap selalu berharap peningkatan levelnya terus berlanjut.
syukur.. Alhamdulillah.
Setiap level yang dia tempuh memiliki job dan tantangan masing-masing. Seiring waktu, dia baru benar-benar menyadari bahwa masalah-masalah akan mendewasakan seseorang. Tapi virus badmood masih sering mengganggunya. Dia katakan pada dirinya sendiri, Baca lebih lanjut

Dunia memang kejam

Kelas dua SD. Saya merasa tidak punya masalah dengan siapapun. Tibatiba ada anak laki-laki kelas satu menghampiriku, lalu bertanya, “kamu arda ya?” Aku mengangguk. Tak kuduga ia meninjukan tangannya ke perutku. Bugh. Rupanya anak itu disuruh oleh teman saya yang arogan, yang jika snack dari sekolah berupa lumpia pisang bertabur keju, dia selalu meminta potongan2 keju kecilnya dari teman2 sekelas. Waktu itu, saya yang sangat suka keju memakan terlebih dahulu keju2nya sebelum masuk kelas, saya katakan padanya saya dapat yang nggak ada kejunya.

Saat itu saya kelas lima SD. Saya, teman-teman saya, dan kakak kelas saya waktu itu menginap di sebuah villa di daerah Sendang, Tulungagung. Kami bermalam disana untuk esok paginya agenda tahunan latihan manasik haji. Acara itu seru menurut saya. Yang kejam adalah dunia. Saat hujan, saya menepikan sepatu saya agar tidak terkenatetesan air hujan dari genteng. Tapi ternyata, sepatu Baca lebih lanjut