Hamfara is really something!

Bagaimana rasanya kuliah di kampus yang gedungnya saja belum jadi? Malu, minder, mungkin itu yang dirasa. Jadilah satu pertanyaan yang paling dihindari “kuliah dimana?”

Suatu ketika ada seorang kawan yang sedang mengikuti sebuah agenda di jakarta. Dia mengobrol dengan seseorang.  Seperti biasa, ketika ditanyai kawan saya itu berasal dari mana, dia kontan menjawab: hamfara. “dimana itu?” “hamfara adalah sekolah tinggi ekonomi islam di yogyakarta”.“jogja sebelah mana?”, orang itu tanya lagi. Tak dinyana orang yang diajak mengobrol itu adalah orang asli jogja, dan sama dengan orang yang tinggal di jogja kebanyakan, dia tak pernah mengenal hamfara sebelumnya. Bahkan setelah disebutkan hamfara itu kecamatan kasihan, Bantul, semakin heranlah ia jika ada kampus ekonomi islam disana.

Hamfara yang kampusnya di puncak bukit dan di tengah hutan, hamfara yang gedungnya hampir tak berdinding, ruang kelasnya tak ber-AC bahkan jendelanya tak memiliki daun jendela. Tak ada proyektor yang terpasang di langit-langit. Setiap kelas akan dimulai alat elektronik satu itu harus kami tenteng dulu dari ruang tata usaha di lantai dasar menuju ruang kelas di lantai tiga. Itu sebabnya, proyektor kami yang usang terkadang semakin rewel dipakai. Jangan bayangkan pula ruang kelas dengan dua papan tulis yang besar. Karena hanya ada satu saja, lengkap dengan spidol-spidol whiteboardnya yang sering kehabisan tinta kalau tinta isi ulangnya tidak meluber kemanamana. Di gedung kami yang megah, ada auditorium yang luas di lantai dua. Tentu luas, karena tak ada dinding satupun yang membatasi pemandangan sekitar. Di lantai dasar ada masjid. Masjid ini tak hanya dikunjungi oleh santri hamfara saja, melainkan juga kucing, katak, bahkan ular dengan mudahnya dapat hilir mudik di dalam masjid yang lagi-lagi belum bertembok ini.

Kenapa musti mengejar kuliah gratis ekonomi islam di tempat terpencil begini?

Ya, kenapa harus ke hamfara? Itu pertanyaan yang sering diajukan orang2 kepada saya. Memang, sudah banyak universitas yang mengadakan jurusan ekonomi syariah. Tapi hamfara itu beda. Ekonomi islam yang diajarkan di hamfara bukan sekedar membahas perbankan syariah dan islamisasi produk-produknya, atau perkara manajemen perusahaan dalam kacamata islam. Ekonomi islam yang diajarkan di hamfara mengacu pada sistem dan islam sebagai ideologi. Ada pembinaan kepribadian islam yang wajib diikuti mahasiswa dalam bentuk kelompok kelompok. Program ini disebut kelompok kajian agama islam. Juga pembelajaran bahasa arab dan kitab-kitab seperti ta’lim muta’alim, hukum seputar shalat, kitab sistem ekonomi islam, dan sitem pergaulan dalam islam. Budaya pergaulan di hamfara berusaha semaksimal mungkin sesuai peraturan islam. Mulai dari pakaian mahasiswinya yang wajib berjilbab(gamis) dan berkerudung, dan infishal(pemisahan) antara laki-laki dan perempuan, tidak campur baur. Saya yakin di kampus-kampus lain merupakan hal yang biasa mahasiswa dan mahasiswi saling tegur sapa, bersendagurau bersama, berboncengan, foto bersama, dan seterusnya. Tapi tidak di hamfara. Baik kuliah, rapat, maupun kajian duduk akhwat selalu terpisah dari ikhwan. Kami mengobrol seperlunya, itupun untuk urusan-urusan yang penting.

Beberapa orang masih saja mempersoalkan fasilitas. Tapi bagi saya, hidup di tempat yang pernah disebut adi wijaya seperti jalur gaza ini, tsaqafah yang ada luar biasa. Sekarang bukan saatnya untuk bermanja-manja dilenakan dengan berbagai kemudahan. Di kemudian hari, kami tidak akan kaget jika kehidupan ternyata memang begitu sulit. Di kemudian hari kami takkan takut lagi menghadapi pemboikotan pejuang islam. Jika suatu hari kami diboikot air, atau listrik, itu bukan perkara baru lagi. Di kemudian hari kami akan selalu diingatkan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat apapun yang diberikanNYA. Dan di setiap hari kami disini menunjukkan kamilah korban mahalnya pendidikan, korban tidak meratanya distribusi kekayaan, kamilah juga korban sistem kapitalisme. Sehingga hari-hari kami disini adalah hari-hari untuk menambah kesadaran diri akan hubungan dengan Allah, menyadarkan diri akan kerusakan sistem, menempa diri dengan pemikiran-pemikiran islam, bersungguh-sungguh dalam pembinaan kepribadian, membongkar rencana busuk di balik agenda penjajah kafir, dan mengadopsi hukum-hukum syariat. Perjuangan kami melalui pemikiran, yang akan mengubah pemahaman umat dan tingkah lakunya. Perjuangan kami bukan semata perjuangan mahasiswa yang akan ditanggalkan ketika perkuliahan ditinggalkan. Karena motivasi kami adalah longlife motivation, demi tujuan akhir yang paling dituju: ridho ALLAH..

Ya, dibalik semua kekurangan itu, Allah menghibur kita dengan beberapa keajaibanNya akhir-akhir ini. pertama, kampus tak berdinding ini semakin dekat ke arah akreditasi. Setelah para dosen dan pemimpin yayasan hamfara memperjuangkannya. Kedua, kampus kecil belum terakreditasi yang baru meluluskan dua angkatan ini akan menyelenggarakan sebuah perhelatan akbar berbasis dua ribuan massa se-Indonesia bertajuk konferensi nasional ekonomi islam pada 22 april 2012 di sportorium UMY. Ketiga,kampus yang asrama mahasiswanya lebih mirip dengan barak pengungsian ini berhasil membawa namanya mewakili provinsi yogyakarta karena dua mahasiswanya lolos ajang lomba karya tulis ilmiah se-yogyakarta dan menuju laga tingkat nasional di riau. Keempat, kampus tengah hutan ini dipercaya untuk menjadi tuan rumah dalam acara temu ilmiah regional(temilreg) se yogyakarta tahun 2012 ini. Dan sungguh alhamdulillah, tim temilreg hamfara yang terdiri dari 3 ikhwan angkatan 2011 dapat menyimpan satu piala terbesar untuk tuan rumah olimpiade. Juara satu temilreg tahun ini untuk hamfara.

Emang sesuatu banget dah hamfara ini.

Kurang bersyukur apa coba? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?????

Dikutip dari kultum ba’da shalat jamaah maghrib di masjid kampus hamfara beberapa hari yang lalu.

-iffah wardah- @hamfara, 1 mei 2012

oya, baca juga http://jengarmala.blogspot.com/2012/04/kampus-gue.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s