Dibalik ‘Be YourSelf’ (Repost from Empi)

Image

Tak seperti bintang di langit
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Dan wajahku memang begini
Sikapku jelas tak sempurna
Ku akui ku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Menjadi diriku
Dengan segala kekurangan
Menjadi diriku
Atas kelebihanku…….

Terimalah aku
Seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa
ku tak sempurna

Tetap ku bangga
Atas apa yang ku punya
Setiap waktu ku nikmati
Anugerah hidup yang ku miliki
(menjadi diriku by edcoustic)

Pernah suatu pagi saya mendapat sms inspirasi yang isinya:

masing masing kita dilahirkan unik, jadi, kita tidak perlu setengah mati meniru orang lain.

Be yourself.
—————————————————————————————————-

Tapi dibalik kata2 itu…. ternyata..Temen kita tetep aja pacaran padahal kita udah ngasih tau kalo ntu haram. Ah, sebenarnya dia masa bodo n nggak mau tau. Tapi kalo ada orang yang udah tau kenapa pacaran itu haram, udah tau dalil2nya, tapi tetep aja lengket ama pacarnya? Biasanya mereka bilang: iya saya tau, tapi saya nggak bisa ninggalin dia, saya nggak bisa hidup tanpa dia, kalo harus putus sama dia mending saya bunuh sapi ajaa. Haha, nggak gini juga. Mungkin jawabnya: ya, saya ya saya, jangan samain saya kayak kamu. Apa sih hukumannya kalo pacaran?

Image
“Udahlah, jadi diri sendiri aja, nggak usah kita ngikut2in kata orang.. Ngapain ikut kajian ato organisasi kayak gitu. Biarin mereka alim, kita kan gak nakal2 banget, tapi juga gak perlulah alim2 banget. Kayak ustadz aja.”Duh, sebel sama orang kek begini. Tapi kasian juga. Kalo mereka ngaku muslim, kok pemikirannya gitu sih? Ya bener kalo mereka tetep konsisten ama islam, trus nggak mau ngikutin budaya2 barat. Tapi sekarang jamannya copas semua. Copas budaya amerika, copas budaya artis2 korea. Nggak heran kalo kaum muslimin kebanyakan nggak nampak identitas kemuslimannya. Kepribadian islamnya itu lho ndak muncul. Kepribadian islam itu kan kalo pola pikir en pola sikap seseorang itu sesuai islam. Lha islam tapi pas jumatan masih ngluyur, pas ramadhan rokok-an, pada nggak tau wajibnya nutup aurat, tau wajib tapi nggak mau pake, pacaran jadi kebutuhan, nyontek dah kebiasaan, pusing ah.

Gitu tuh efek penggunaan ‘be yourself’ nggak pada tempatnya. Standar perbuatan tuh bukan dari suka-nggak sukanya kita, bukan dari bisa-nggakbisanya kita, bukan dari anggapan baik-buruk manusia. Standar perbuatan kita itu harusnya ya hukum syara’. Lagi2 perlu dipertanyakan nih keimanan dan keislaman kita. Please deh, kalo kita ngaku sebenar2 kaum beriman, konsekuensinya ya manut sama hukum islam dong. Ngaku islam, pemikirannya harus islam, bukan liberal, bukan sekular. Ngaku islam perbuatannya juga harus islamlah. Orang islam, kepribadiannya wajib kepribadian islam. Bukan yang lain.

“Beuh, keren deh retorikanya, dalilnya, datanya. Komplit semua. Subhanallah wis. Tapi saya nggak bisa kayak gitu.”

Nah ini ciri orang yang gak optimis, gak yakin ama potensinya, mencukupkan diri dengan apa yang saat ini ada, padahal dia mampu berusaha lebih untuk hasil lebih. ‘Be yourself’ juga jangan dipakai di bagian ini, ini bukan divisinya. Karena harusnya kita emang menyontoh mereka yang berprestasi dunia-akhirat. Mustahil bisa kayak mereka? Masa sih? Hati2, jangan jadiin itu kotak korek api buat potensi kita yang terpendam ini.

Dia itu multitalent. Dia akhwat, tapi kuat ngangkatin barang2 berat. Dia bukan anak biologi, tapi pinter pijat refleksi, dia tau saraf2 yang harus dipijat untuk meringankan sakit. Dia ga pernah belajar elektro, tapi dia bisa ngebenerin peralatan listrik. Dia juga ga pernah kerja di salon, tapi dia pinter potong rambut kayak artz di magicion of love.😀

Dia Cuma mahasiswa, sama sepertiku. Sama2 ikut kelompok kajian agama islam, sama2 ma’had, sama2 tinggal di asrama, sama sama apalagi ya.. Tapi dia jago di tulisan. Ya, bedanya dia lebih banyak membaca, banyak menulis, dan lebih banyak keberaniannya untuk menunjukkan tulisannya pada dunia. Maka jadilah dia yang sekarang.

Dia kuliah, aktif di BEM, aktif di organisasi dakwah dan melakukan kontak ke masyarakat, plus nyambi kerja, dan ternyata e ternyata seorang hafidz juga. IPnya tinggi, presentasinya bagus mau itu materi kuliah maupun tsaqafah islam, argumennya logis, hujjahnya kuat. Dia ngebuat sesuatu yang sulit jadi gampang difahami. Hmm.. kata ust felix itu salah satu tanda kedewasaan berpikir.

Banyak orang2 sukses di sekitar kita. Mungkin mereka punya bakat. Tapi bukannya bakat juga muncul dari latihan? Tinggal biasakan diri buat latihan. Ga percaya? Baca buku HABITS gih. Karena suatu hasil yang pantas dapat diraih hanya dengan melakukan sebab2 yang pantas pula.

Trus, ‘be yourself’ kapan kerjanya??

Saya pengamat. Setidaknya menurut versi saya sendiri. Saya suka mengamati apa-apa yang ada di sekitar saya. Terutama orang-orangnya. Saya mau nyebutin yang baik-baik aja nih, yang terkadang saya pingin jadi kayak dia.

Ada orang yang tipenya susah marah. Sering dia pingin nyoba ngambek sama seseorang, tapi selalu gagal. Dia bilang dia judes, tapi nggak sama sekali. Sok-sok an aja judesnya. Bahkan dia itu feeliiiiiing banget, gampang tersentuh perasaannya, jadi suka nangis.

Ada yang kelihatan ceriaaaaaaaaaaaaaa setiap saat. Sampek ada yang pernah nanya ke dia “mbak nggak punya masalah ya mbak? ketawa terus mbak..”  Kayaknya dia emang tipe introvert gitu, jadi bisa banget dia nyembunyiin isi hati n masalah dia.

Ada orang yang hampir dalam tiap forum seolah nggak konsen, kebanyakan mainin hape sambil ngedengerin musik. Tapi dia selalu nyambung ama yang diomongin, kayanya dia emang tipe yang mudah ngebagi pikirannya. Dia nggak rajin, tapi cerdas. Bener ga sih kadang orang cerdas itu nakal?

Ada yang punya wajah senyum. Kemanamana senyuuuuuuum aja. Ngga ada orang pun dia senyum, tidur pun sambil senyum. Ramah pula, lembut omongannya, kaleeeeem abis. Dijamin bikin ati adem.

Ada yang kalem begini meski ga selalu berwajah senyum. Pendiam, kerudungnya besar
besar, langkahnya hatihati, lemah lembut,  apalagi ya, pokoe keibuan beud lah.

Ada yang polos banget. Ngomongnya juga pelan, selalu bilang makasih. Meskipun kita bersikap dingin ke dia, dia nggak akan marah. Nggak akan balik sewot ama kita. Bisa ya, kaya gitu. Mungkin keoptimisannya kelewatan. Tapi bukannya itu bagus?

Ada orang yang berkepribadian ganda. Tapi kepribadian disini bukan dalam arti sebenarnya ya. Kalo lagi sama2 akhwat, dia itu childish. Lebay dan terlalu bersemangat nyeritain sesuatu yang heboh yang terjadi sama dia meskipun menurut kami kejadian itu biasa aja. Tapi kalo di forum umum, dia sama sekali berbeda.

Karakter itu beda sama kepribadian. Karakter itu watak. Mungkin semacam gabungan antara akhlak dan sifat. Kaya orang sumatera ato batak yang punya watak keras. Kalo dia mau jadi berwatak lembut kaya orang solo, ya susah, dia perlu energi sangat super duper ekstra besar sekali dalam perubahannya.

Yang terpenting adalah ngerubah kepribadian kita jadi benar-benar islami, dan senantiasa kita meningkatkan kualitas kepribadian kita ini. Sosok sahabat Rasul, Umar bin Khattab yang kalo boleh dikatakan kepribadian islamnya tingkat langit, wataknya tetap keras. Apalagi di hadapan musuh. Tapi sekeras-kerasnya beliau, beliau bisa lembut di hadapan muslim.

Kita emang layaknya punya akhlak2 yang baik kan, akhlaqul kariimah. Sesuai tuntunan islam. Tapi nggak selamanya orang jujur itu baik. Nggak selalu marah itu buruk. Karena di islam berbohong demi menyenangkan istri, berbohong demi membantu pasukan islam, ketidakjujuran seperti itu boleh. Karena islam menyuruh kita berlemah lembut kepada sesama muslim dan keras kepada kafir. Jadi yah, patokan kita dalam berakhlak tuh, bukan apa yang dianggap baik sama temen kita, bukan atas keuntungan apa yang kita dapat dengan berakhlak baik. Tapi kita melakukan akhlaqul kariimah hanya dan hanya karena ini adalah perintah Allah semata.

Jadi kalo kita pingin ngerubah akhlak kita menjadi lebih baik, inget, niatkan dan lakukanlah demi menaati aturan Allah. Bukan yang lain.

Tapi selama hal-hal yang mempengaruhi karakter, tapi tidak merusak kepribadian islam kita, kenapa harus galau? Contoh cara berjalan, cara memadukan warna pakaian, cara makan, gaya bicara, gaya bercanda, gaya berfoto, gaya berkerudung, de es te (dan semisal tu).. Untuk apa setengah mati kita meniru orang lain? Asal cara kita sendiri tidak melanggar hukum syara’.

Just be yourself.^^ Jadilah dirimu dengan kepribadian islami.

–iffahwardah 050512–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s