Lebih manis dari delima

Cerita ini terjadi pada masa tabi’in. Ada seorang budak, taruhlah namanya fulan. Majikannya memerdekakannya karena kejujuran fulan dan keluhuran budi pekertinya. Setelah itu, fulan bekerja pada seorang yang sangat kaya raya sebagai penjaga kebun delima.

Suatu hari, sang pemilik kebun memanggilnya, “Fulan, tolong petikkanlah delima yang paling manis dan masak untukku”. Fulan langsung menuruti perintah tuannya. Tapi begitu tuan memakan delima yang dipilihkan fulan, ternyata delima itu belum masak dan sama sekali tidak manis. Sang pemilik kebun marah, “Fulan,apa kamu tidak bisa membedakan delima yang manis dan delima yang masam?” “Maafkan saya tuan, saya belum pernah memakan delima, bagaimana saya bisa membedakan mana yang manis dan yang masam?”, jawab si fulan. “Apa? Kamu sudah bertahun tahun menjaga kebun ini dan kamu bilang tidak pernah memakan buah delima? Beraninya kamu berkata seperti itu.” “Demi Allah tuan, saya tidak pernah mencicipi satu buah delima sekalipun dari kebun tuan. Bukankah tuan menyuruh saya menjaga kebun, tidak untuk mencicipinya?” pemilik kebun itu diam.

Tapi sang pemilik kebun itu tidak langsung percaya, ia menanyakan kepada penjaga2 kebunnya yang lain. Dan memang tak satupun yang pernah melihat si fulan memakan delima. Bahkan ada satu orang yang mengatakan, “Fulan adalah orang yang jujur, selama ini ia tak pernah bohong. Jika ia berkata demikian, maka berarti itu benar.”

Kejadian itu menyentuh hati sang pemilik kebun, lalu ia menanyakan ulang kepada si fulan, “Benarkah kamu tidak pernah memakan satu buah delima pun selama menjaga kebun ini? beri aku alasan.” “Saat pertama saya menerima pekerjaan ini, tuan mengatakan tugas saya adalah menjaga kebun ini, tuan tidak mengatakan saya boleh merasakan buah delima dari kebun yang saya jaga. Selama ini saya berhati2 tidak memasukkan barang syubhat ke dalam perut saya, apalagi yang haram. Karena tidak ada izin dari tuan, maka saya tidak memakannya.” Sang pemilik kebun bertanya,”Meski buah delima telah jatuh ke tanah?” “Iya, kecuali pemilik buah delima yang jatuh itu telah mengizinkan”, kata fulan.

Pemilik kebun itupun sangat terharu dan kagum kepada fulan. Lalu ia berkata, “Hai Fulan, aku memiliki seorang anak perempuan, menurutmu aku mesti menikahkannya dengan siapa?” Fulan menjawab, “Orang2 yahudi menikahkan anaknya dengan seseorang karena harta. Orang2 nasrani menikahkan anaknya karena keindahan dan kecantikan. Dan orang arab menikahkan anaknya karena nasab dan keturunan. Sedangkan muslim menikahkan anaknya karena iman dan taqwa. Anda bisa memilih, ingin masuk golongan yang mana.”

Lalu pemilik kebun itupun menikahkan anak perempuannya yang ternyata seorang hafidzah dan penghafal hadits dengan si fulan.

Dari cerita saya ini, kita dapat mengambil beberapa ibrah.

Pertama, man taraka syai’in lillah, awwadhahu khoiran minhu. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka ia akan diberikan yang lebih baik. Si fulan telah meninggalkan memakan delima yag belum halal, lalu ia mendapatkan yang jauh lebih manis dan lebih baik daripada delima, yaitu istri yang cantik dan shalihah. Kita pun, harus berani meninggalkan kecintaan2 kita misal pada hobi menonton yang terlalu, maniak pada artis konvensional, meninggalkan perkara2 yang haram, syubhat, makruh, dan siasia karena Allah.

Kedua, sebuah kejujuran harus dilakukan secara sadar, dan perlu dibuktikan. Jangan hanya mengaku-aku jujur, ngaku berbuat ini itu, tapi hanya sebatas lisan tanpa amal. Itu namanya omong kosong.

Ketiga, dari cerita ini kita juga mendapati budaya tabayyun. Mengklarifikasi suatu persoalan agar kita mendapatkan informasi yang benar terkait fakta dan masalah yang kita hadapi. Maka jangan langsung melakukan justifikasi terhadap seseorang hanya berdasar asumsi kita sendiri. sang pemilik kebun tadi, bisa saja ia langsung memecat fulan karena kesalahannya tadi. Tapi yang pemilik kebun lakukan adalah berfikir dahulu, menanyakan kepada teman2 fulan, lalu melakukan klarifikasi ulang kepada fulan. Ia mampu mengendalikan perasaannya, dan menundukkannya dengan akalnya. Ini yang harus kita budayakan.

Keempat, dari pertanyaan pemilik kebun tentang menikahkan anak perempuannya. Disitulah kecerdasan fulan, menjawa pertanyaan tersebut secara diplomatis. Nah kalau kita ingin memiliki gaya bicara yang diplomatis juga, yang beretorika tinggi, kita jangan hanya membaca bukunya pak condro, ilmu retorika mengguncang dunia, tapi juga mengamalkan, yaitu ya dengan latihan berbicara. InsyaAllah salah satunya dengan forum ini. Makanya sekalian promosi, jika ingin daftar berlatih ngomong di forum kultum seperti ini silakan hubungi saya.

Lalu ibrah terakhir adalah, jangan pernah kita meremehkan sesuatu, bahkan yang sederhana sekalipun. Buah deima adalah buah yang murah, tapi fulan tidak mau memakan buah murah yang pasti pemilik kebun tidak akan rugi jika ia memakan satu buah saja. Tapi fulan tidak melakukannya, karena buah tersebut belum halal baginya.  Kita pun, juga harus berhati-hati. jangan sampai, kita meremehkanhal-hal kecil, misalnya sedikit mencontek saat ujian, melalaikan amanah piket, menunda membayar hutang meski hanya seribu rupiah, mengambil gorengan tanpa bayar meskipun Cuma satu biji, mengundur-undur waktu shalat, dan lain sebagainya. Rasulullah pernah bersabda, yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim, “seorang perempuan masuk neraka disebabkan kucing yang dia ikat dan tidak dia beri makan hingga akhirnya mati”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s