ORASI: Khilafah Islam Adalah Arus Perjuangan Intelektual

Berikut teks orasi perwakilan dari BEM STEI HAMFARA, yang menjadi salah satu orator undangan dalam acara ORASI PERADABAN ISLAM #4 yang digelar 17 Juni 2012 lalu oleh muslimah hizbut tahrir di halaman utara maskam UGM.

—-

Salam perjuangan wahai kaum muslimah sadar yang peduli,

salam perjuangan wahai pencetak generasi cemerlang,

wahai aktivis muslimah, para pemikir,

para pemberi sumbangsih dalam pertarungan memenangkan islam agar merajai dunia kembali,

yang rela mengorbankan waktu, mengorbankan harta bahkan nyawa sekalipun,

wahai para calon penghuni surga,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Mahasiswi dan intelektual muslimah rahimakumullah..

Setiap bangsa tentu menginginkan lahirnya generasi berkualitas yaitu generasi cemerlang, bukan generasi pragmatis. bukan generasi bebek, bukan generasi copas, bukan generasi plagiat.

Namun yang terjadi generasi kita suka mengekor barat, senang meniru budaya lain, generasi ini dicap tak punya prinsip.Lalu relakah Anda mendapat julukan seperti itu? Relakah Anda menjadi bagian dari generasi pragmatis? Yang hedonis, materialistis, individualis dan apatis. Rela tidak? Baca lebih lanjut

Iklan

Step by Step Love Learning Arabic

Bahasa Arab. Betapa saya ingin sekali mahir berbahasa arab. Semakin saya mengkaji islam, saya semakin merasa butuh bahasa arab. Betapa untuk memahami dalil-dalil hukum, untuk menarik hukum darinya, tidak bisa tidak harus bisa bahasa arab. Betapa untuk mengetahui letak kesalahan para liberal dalam menafsirkan dalil, dibutuhkan ilmu ushul fiqh yang membutuhkan bahasa arab. Betapa untuk sekedar menjadi muqallid muttabi’, saya (kita) harus mengetahui dalil-dalil landasan para mujtahid. Betapa untuk mudah menghafal qur’an dan hadits adalah dengan faham ilmu nahwu-sharaf. Betapa untuk membuat shalat kita khusyuk, kita harus tahu makna-makna bacaan shalat .

Ah, ternyata baru sekarang saya memahami itu. Kenapa dulu saya nggak nyantren ya? Itu juga baru saya sesali sekarang>.<

Yah, katakanlah saya emang baru nyadar pentingnya bahasa arab. Karena dulu meskipun udah ngaji, tapi belum ada feel ke bahasa arab. Jadilah saya waktu itu ngga memanfaatkan abi buat ngajarin bahasa arab ke saya. Dulu saya juga ngga ngiri-ngiri banget sama adek saya yang udah bisa casciscus ngomong bahasa arab. Perlu dipertanyakan juga sih, kenapa berfikir politisnya baru muncul sekarang…

Kebanyakan orang masih meremehkan bahasa arab. Apalagi bahasa internasional saat ini adalah bahasa inggris. Walopun kita tetep butuh juga sih bahasa inggris tu, buat ngedakwahin foreigner yang pasti. Tapi bukan bearti bahasa arab disepelekan tho. Karena ini termasuk cara yang dipakai orang kafir agar kita umat islam semakin jauh dengan islam. Kalo udah pada ngga bisa bahasa arab, kaga tau isi al qur’an dan as sunnah, kaga ada yang ijtihad, ya makin mundurlah umat islam. Sama kayak pas runtuhnya daulah khilafah utsmaniyah dulu.

Di hamfara, bahasa arab dijadikan materi ma’had. Mahasiswa (santri) hamfara diklasifikasikan menjadi tiga kelas ma’had. Ula,tsani, dan tsalits. Nah, ini harus bisa dimanfaatkan untuk belajar bahasa arab meskipun njomplang kalo dibandingkan dengan pesantren pada umumnya. Hehe, ya, setidaknya belajar mencintai bahasa arab deh.

Nah, di bawah ini ma’had kelas tsani akhwat. Gambar atas ketika pelajaran sharaf dengan ustadzah bede, dan yang bawah adalah pas tahsin sama ustadzah nuhbah.

Image

 

Image

Sayangnya, fasilitas ini tak banyak dimanfaatkan secara optimal oleh santri. Hmm. Merupakan PR yang cukup berat bagi pihak pesantren dan pembinaan untuk menyadarkan n mendisiplinkan santri. Emang perlu dibina-sakan pemikiran2 underestimate bahasa arab seperti itu. Perlu dibina-sakan juga anggapan bahasa arab hanya untuk keren2an ngomong, karena bahasa arab digunakan untuk berfikir tasyri’i. Yakni berfikir dengan menggunakan dalil-dalil syara’ yang kemudian dapat digali hukum dari dalil2 tersebut berbagai solusi kehidupan.

Jadi, nyok ma’had.

Eh, tapi udah libur ya. 😀 Cinta bahasa arab ngga neh?

Trus piye? Ya pokoke yok belajar bahasa arab!! sebagai tuntutan ideologi..ehm.

subyektifitas

Suatu siang, ketika saya kelas dua SMA, saya lagi di sebuah tempat fotocopy yang cukup laris di daerah saya. Saya berdiri di samping etalase, seperti biasa. Menunggu sebentar karena pengguna jasa fotokopi saat itu hanya saya sendiri. Saya pandangi mbak mbak penjaga tempat fotokopian itu. dia konsentrasi mengkopi lembaran lembaran yang saya beri, dengan sesekali melirik ke arah saya. Lalu sambil menjepret fotokopian dengan stapler, mbak itu mengajak saya ngobrol. “SMP nya dimana dek?” wackssss…

Suatu ketika saya pergi ke sebuah counter pulsa. Bertransaksi sebentar dengan mas mas penjaganya, menyebutkan nominal pulsa dan nomor tujuan. Melihat jilbab (gamis) dan kerudung panjang yang saya pakai, sambil menunggu pulsa terkirim, si mas akhirnya bertanya pada saya, “mondoknya dimana lo dek?”

Suatu hari saya sedang ingin rajin. Padahal rajin itu bukan keinginan ya tapi keharusan. Saya menyapu teras, merapikan kursinya, mengumpulkan dedaunan kering tanaman umi di depan rumah lalu membuangnya, dan terakhir membersihkan kaca pakai pembersih kaca tentunya. Saya ingat sekali, saya pakai jilbab (gamis ) warna pink dan kerudung hitam. Kemudian di pantulan kaca itu saya lihat ada seorang bapak dengan sepeda kayuhnya lewat. Bapak itu berlalu sambil berucap, “wis resik bu omahe..” (sudah bersih bu, rumahnya) ah si bapak manggil saya ibu..

Suatu sore perjalanan pulang dari les, saya mampir ke pom bensin meminumi motor saya yang haus. Waktu itu saya tidak sedang pakai seragam sekolah, saya sudah ganti pakai jilbab (gamis) yang biasa dipakai keluar dan pakai jaket. Kerudung pasti ngga lupa lah. Si mas yang ngisiin bensin nanya, “pulang kuliah ya mbak?”. 🙂 “ah? Ngga mas, saya masih SMA kelas tiga”. Oiya, waktu itu saya sudah pakai kacamata. jadi keliatan lebih dewasa mungkin.

Suatu siang di parkiran sekolah. Saya lagi berdesakan berjalan pelan pelan menuju motor teman saya. Di depan saya sedang tegak motor honda supra x 125 dinaiki oleh siswi kelas dua, badgenya warna kuning. Dia memandang saya, lalu berkata dengan nada standar, “permisi, dek”. Saya agak menyingkir dalam diam saja. hmmm..coba badge ijo saya pertanda kelas tiga punya saya dipasang di kerudung ya..

Beberapa waktu lalu, saya, mahasiswi semester tiga, mampir ke sebuah angkringan bersama dua orang teman. Saya pakai kerudung lebar warna putih dan menyandang tas ransel tapi tanpa kacamata. Dua orang teman saya badannya jauh lebih bongsor dari saya padahal umurnya selisih beberapa bulan lebih muda dari saya. Si bapak angkringan berkomentar, “lho, yang ini kok kecil? Umur berapa?” “Dua puluh, Pak”, sahut saya. Si bapak ngga percaya, “hah, masa sih, kok kaya anak kelas enam SD aja”

Suatu malam beberapa hari sebelum Ujian Akhir Semester tiga, saya melewati lorong asrama angkatan 2009. Saya dipanggil oleh dua orang kakak angkatan saya yang lagi makan malam. “iffah..iffah.. sini dek..” “ya mbak…. kenapa??” “yuk makan..” “oh, udak kenyang e mbak..” saya langsung ngeloyor pergi. Tapi mereka manggil saya lagi, “fah..fah..fah..fah.. sini dulu dek” saya mendekat lagi, “kenapa sih mbak” “sini dulu lah bentar..” “iya mbak ada apa?” “kamu itu……….. mirip……Nike Ardila” *gubrag*

Ya, begitulah, inilah subyektifitas dan relativitas otak manusia. Urusan begini ecek-ecek aja udah macem2 apalagi bikin undang-undang..

 

-Iffah wardah- 14 januari 2012

ini kerudung ato jilbab?

saya emang lagi kangen sama adek saya yang paling kecil.. nashrin namanya.

mudah2an ntar gedenya bisa segigih dakwah nazreen nawas..

ini dia, tasniima nashrin alias arin..

Image

imut kan? siapa dulu kakanya,, :p

haha. jangan bilang dia imut-imut, saya ih amit-amit.. karena itu benar(sedikit).

nah, biar dia masih kecil, tapi kudu udah diajarin yang namanya pake jilbab n kerudung. masih banyak nih orang yang salah persepsinya tentang jilbab dan kerudung..

apa perbedaan jilbab dan kerudung???

oke, check this out.

Khimar (kerudung)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ   وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman:

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,

dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa)

 nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya

(TQS an-Nur [24]: 31) 

 

JILBAB / GAMIS

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِين يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”

(TQS al-Ahzab [33]: 59) 


jadi, Jilbab adalah pakaian yang merupakan budaya orang Arab. Akan tetapi dengan turunnya al ahzab ayat 59 ini maka jilbab menjadi budaya Islam dan menjadi pakaian wajib bagi muslimah di seluruh dunia ketika keluar rumah. Karena jilbab berasal dari budaya arab maka orang Arablah yang paling tau penggambaran jilbab itu seperti apa. Maka definisi jilbab harus diambil dari kamus lengkap ataupun buku yang dikeluarkan oleh orang yang ahli Bahasa Arab. 

Adapun definisi jilbab yang diterangkan dalam kamus al Muhith adalah pakaian yang luas untuk wanita yang dapat menutupi pakaian rumahnya seperti milhafah (mantel).

Tafsir Jalalain (jilid 3:1803) memberikan arti jilbab sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya.

Jauhari dalam Ash Shihah mengatakan jilbab adalah kain penutup tubuh wanita dari atas sampai bawah.

Khaththath Usman Thaha dalam Tafsir wa Bayan menjelaskan jilbab adalah apa-apa yang dapat menutupi seperti seprai atas tubuh wanita hingga mendekati tanah.

Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq Jilid 7 (Edisi Indonesia) menerangkan jilbab adalah baju mantel.

Dalam Kitab Mujam al Wasith hal 128 jilbab diartikan sebagai pakaian yang menutupi seluruh tubuh atau pakaian luar yang dikenakan diatas pakaian rumah seperti mantel.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa jilbab adalah pakaian rangkap di atas kerudung serupa baju kurung sekarang

Ibnu Hazm berkata: “Jilbab dalam bahasa Arab yang dinyatakan oleh Nabi SAW ialah,busana yang menutupi seluruh badan dan tidak hanya sebagiannya.“

Ibnu Mas’ud RA berpendapat: seperti kain penutup  atau serupa pakaian yang lapang yang dipakai oleh wanita-wanita bangsa Arab berupa tutup kepala yang meliputi seluruh pakaian.

nah, sedangkan kerudung itu telah diwajibkan melalui turunnya an-nuur ayat 31.

Khimar atau kerudung adalah apa yang dapat menutupi kepala, leher dan sebagian dada tanpa menutupi muka (Al Baghdady, 1991) Batas bawah yang ditutup oleh kerudung adalah bagian kerah baju yang memperlihatkaan leher dan dada (Tafsir Al Azhar juz XVIII hal 180).

so, penutup kepala yang kaya dipake si nashrin, n harus menutup dada juga, namanya khimar atau kerudung. trus bajunya, alias gamis itu namanya jilbab.

oya, sebenarnya kurang satu lagi: kaos kaki. hayo, siapa berani bilang kaki wanita bukan aurat??