tentang abii dan petualangan kemarin

“Wis tho nduk, pulango ae. Adhik adhikmu wis kangen i loo.. anggitmu.. abii barang yo kangen.. jumat wis balek yo gak popo..”

Dua minggu liburan semester tiga, kugunakan untuk menikmati kehidupan rumah selama 51 jam saja, diluar waktu yang kuhabiskan di perjalanan. Selasa (31 jan 12) malam, sekitar pukul 19.40 bis EKA-ku berangkat dari terminal giwangan. Pukul 12, sampai di rumah makan DUTA, Ngawi. Baru pukul 2 lewat, aku turun di Kertosono. Syahdan, ada bis trenggalek ngetem. Langsung saja aku naik tanpa ba bi bu. Lama aku menunggu kapan bis berangkat, aku sudah muak dengan asap rokok orang orang di depanku. Agh. Rupanya, bis ini ngetemnya lama, tapi jalannya ngebut banget, alhamdulillah, biar cepet nyampe. Nah, jam empat kurang, akhirnya aku menghirup udara rumah, setelah dijemput abii di terminal.

Lalu cepat saja, tiba tiba hari jumat datang. Pukul 1.12 dini hari, aku bangun gara gara bibirku jontor gede entah apa yang gigit. Udah kaya korban bom kata umii. Kami mulai bingung, apakah aku harus pulang sekarang atau besok, naik bis apa diantar abi, kalo misalnya besok bearti harus ijin musrifah, kalo naik bis bearti motornya kapan dikirim, kalo ga sekarang takutnya abi bakal susah nentuin waktu longgar, kalo sekarang, abi sedikit ga enak badan karena semalam kehujanan.

Pagi ini benar2 rebyek. De athif disuruh beli lodho ayam dada menthok dua, tapi belinya sayap Cuma satu pula. De inas lagi lagi belum nyetrika seragam pramuka padahal dah mepet banget jamnya, dia belum mandi, dan mungkin dah ditungguin kakak kelasnya di dekat halte sana. De arin ngambek, makan susah, mandi susah, jadinya nangis terus. Abi bingung bikin surat tugas buat siswanya karena ga ada LKS. Ya, abii jadinya memutuskan untuk mengantarku ke jogja naik motor hari ini.

Jam 7-an, kami berangkat dari rumah, lalu ke bengkel dulu untuk ganti oli, melumasi rantai, dan melumasi knalpot, serta mengecek baut baut. Baru setelah itu kami menyusuri jalan raya menuju kampusku.

Trenggalek-Ponorogo-Purwantoro-Wonogiri-Gunung Kidul-Bantul.

Rute ini adalah rute selatan, yang tidak pernah dilalui bis jogja. Rute ini adalah rute gunung, kau akan melihat pemandangan pegunungan ang menakjubkan, tebing tebing tinggi, jurang yang curam, belokan tajam, tikungan maut, dan gelombang jalan berliuk liuk. Aku cukup menikmati perjalanan ini, apalagi dibonceng abii. Sudah lama tak kudengar orang yang memboncengku berkomat kamit hafalan surat sembari berkendara. Itu abii. Tentram sekali mendengarnya. Aku jadi ingat, dulu aku pernah mengkritik abii setelah shalat idul adha. Kubilang padanya, kok setiap surat yang dibaca abii ketika mengimami shalat kali ini dengan tahun sebelumnya selaluuu sama. Rupanya aku yang malu, karena ternyata memang surat  al a’la dan al ghasiyah itu memang dianjurkan dibaca ketika shalat id.😀

Di Wonogiri, sekitar hampir pukul sebelas kami berhenti di pom bensin, ini pemberhentian pom bensin yang kedua. Kami disini agak lama, abii menanyakan rute jalan trabasan ke jogja yang lebih singkat. Aku membujurkan kakiku, membuatnya berjalan jalan sebagai tugas hariannya, agar ia tidak kram lagi saat berada di motor. Kami lanjutkan perjalanan.. lumayan, kakiku tidak lagi terasa sakit.

Lagi lagi kami meliuk, laju tinggi, tanjakan, turun, ngerem, turun gigi, belok, muter, turun, naik lagi, kiri, kanan, bersalip salipan, dan aku tahan nafas ketika dari arah berlawanan dengan kami ada bis purwantoro yang menyalip kendaraan di depannya. Otomatis ruang gerak aku dan abii sangat sempit. Uhh, alhamdulillah, lolos. Lalu kulihat air. Ah? Air? Ternyata kami melewati waduk. Waduk gajah mungkur. Waahh, subhanallah air tenang di waduk itu mungkin sedang pamer keindahannya karena melihat kami, orang timur, rela berkendara sepeda motor untuk menyaksikannya. Ah, padahal ngga juga, kami kebetulan saja lewat sini. Di pertigaan, abii berhenti lagi untuk bertanya jalan. Daerah itu tak kami duga, sudah masuk kabupaten gunung kidul, Jogja. Lalu kami lanjutkan menyusuri jalan kecil pegunungan kabupaten gunung kidul. Gerimis. Akhirnya kami berteduh di sebuah warung mie ayam kecil pinggir sawah sekitar pukul setengah dua belas. Hmm, abii tadi memang tidak sempat sarapan. Suasana yang keren. Sawah, hujan, langit putih, orang orang berpayung menuju masjid untuk shalat jumat. Makan mie ayam, dan menyeruput teh hangat. Abii mengobrol dengan pasangan pemilik warung, sebelum si bapak pergi ke masjid. Bla..bla..bla.. “ya kalo jalannya mulus mulus aja malah ngantuk, Pak.” “Inggih, jalan solo niku mempeng mempeng aja, kalo supir bis ngantuk sedetik aja, dah ndak tau jadi apa” “lewat gunung kan jadi tegang, seru, bikin ga ngantuk.. hehe”.bla..bla..blaa… Usai makan, kami melanjutkan petualangan kembali. Dengan bermantel kami menerjang deras air langit yang jatuh. Kami berkelok kelok kembali mengikuti liukan jalanan yang basah. Pukul satu kurang, kami berhenti di sebuah masjid di kawasan Patuk, gunung kidul. Alhamdulillah hujan sudah berhenti. Kawasan ini, masih dataran tinggi, tikungan turunnya tajam. Ketika jalanan mulai lurus, abii ngantuk. Ahh, abii ini. Tapi kemudian kami dikejutkan dengan pemandangan di bawah sana, pemandangan full kota jogja. Aku teriak. Subhanallah, bagus banget. Gedung, rumah, tower, jalan dan sungai tampak mini, bahkan orang orang sama sekali tidak kelihatan😛 , semua terlihat menawan sekali dari jalan ini. Rupanya tempat ini bernama BUKIT BINTANG. Waaah, ini ternyata yang namanya bukit bintang, memang sungguh luar biasa, membuat siapa saja takjub, tertawan akan pemandangan jogja-nya yang begitu molek. Ketika tikungan lagi, dan jalanan turun, kulihat di belakangku, gunung. Waw, kami tadi menyusuri gunung itu. Jalan lurus dua kali lampu merah, kami sampai di ring road. Belok kiri, dua lampu merah kemudian terminal giwangan. Baru lima kali lampu merah kemudian, madukismo.

Pukul setengah dua, kami sampai di Hamfara. Aku mengambil kunci rumah Ida, lalu kami berdua kesana. Usai mandi dan shalat, kami berangkat lagi. Pertamanya, kami ke bengkel, sekedar mengencangi baut plat, dan memasang cantolan motor. Lalu kami beli soto kudus di jalan bantul. Abii memberi wejangan2 terkait perawatan motor. Usai makan, kami langsung tancap gas ke terminal. Aku mencium tangan abii, dan menatap punggungnya menaiki bis Surabaya.

Aku tenang dan senang, merasa aman berada di dekatnya, tangan kekarnya yang belang, jenggot dan cambangnya, senyumnya dan giginya yang rapih, perut buncitnya, mata kakinya yang kapalan, serta ubannya yang bertambah banyak. Abii yang suka lupa menaruh hp, atau menaruh kunci. Abii yang sering setelah baru saja berangkat sekolah, pulang lagi ke rumah untuk mengambil dompet. Abii yang suka menyindir kami kalau kami tidak membantu umii. Abii yang marah marah kalau tibatiba komputernya hang. Abii yang jarang sekali membelikan oleh oleh, apalagi pakaian kalau bepergian. Abii yang suka menaruh jaket di kursi dapur padahal sering diingatkan umii jangan meletakkannya disana. Abii yang total empat belas tahun mengantar jemput anak-anaknya sekolah TK dan SD. Abii yang sering minta dipuji masakan nasi gorengnya. Abii yang sering minta dipijit punggungnya. Abii yang kalau uang gajiannya sebagai guru langsung dibagi untuk sekolah anak-anaknya seketika habis. Abii yang tidak pernah marah kalau anak anaknya mendapat nilai ujian yang buruk. Abii yang tidak hanya bangga terhadap satu anaknya yang sudah menghafal setengah al qur’an. Tidak hanya bangga akan satu anaknya yang mampu naik sepeda roda dua di umur empat tahun. Tidak hanya bangga akan satu anaknya yang menjadi satu satu nya siswa berprestasi di bidang akademis di sekolahnya. Tidak hanya bangga akan satu anaknya yang pandai membuat puisi dan cerpen bahkan sampai dimuat di sebuah majalah. Abii yang selalu menjemputku di terminal sepulang dari jogja meski tengah malam  atau dini hari sekalipun. Abii yang melupakan sedikit rasa tidak enak badan-nya, rela mengantarkanku ke jogja, perjalanan enam jam di motor, sampai tidak masuk mengajar, hanya demi aku, demi mempermudah agenda dan tugas tugasku di jogja.

Aku juga mengagumi pemikiran abii, aku juga suka ketika abii berkhutbah, berkultum di masjid, menjadi narasumber sebuah acara, atau sekedar menjadi moderator. Aku juga suka mendengar abii bercakap dan berdiskusi dengan seseorang di seberang telefon, aku suka mendengar abii mengobrol dengan tamu atau mengobrol tatkala berkunjung ke rumah orang. Aku juga suka shalat berjamaah dengan abii, suka mendengar abii yang sedang mengisi halqah, atau sedang memimpin pertemuan peternak peternak, atau sedang mengajar bahasa inggris di SMP, atau sedang mengajar bahasa arab kecil kecilan. Aku juga suka mendengar kumandang hafalan abii di motor, atau nyanyian maher zeinnya sambil memukul mukul paha, atau cerita cerita lucunya.

Aku mengingat semuanya,Bi. Meski itu selalu membuatku menangis.

Ya Rabb, limpahkan rahmatMu pada Abii. Jaga kesehatannya agar semua amanahnya sebagai pengemban dakwah dan sebagai ayah dapat dilakukan dengan baik.

Semoga karena dakwah inilah kita sekeluarga di dunia bisa berkumpul lagi menjadi keluarga pula di surgaNYA.

Abii, meski kami tak pernah mengatakannya, tapi kami sangat sangat sangat menyayangimu, Abii. Kami berjanji, kami akan menuruti permintaanmu, kami akan lakukan apapun. Kami akan menjadi anak anak yang membuatmu bangga. InsyaAllah.

– iffah wardah – februari 2012

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s