Tergagal Posting

Dua tahun sudah saya hiatus dari blog. Sampai sampai saya lupa passwordnya. Untung masih bisa ganti password wordpress via email. Email lama, yang untung (lagi) masih bisa dibuka.

Dua tahun berselang,
Baby Sulthan udah bukan baby lagi. Udah balita, umurnya 33 bulan sekarang. Bahkan dia udah jadi kakak. Adiknya, Rayna umur 9 bulan, giginya dua, lagi aktif merangkak dan merambat.

Dua tahun ini banyak skill dan pengalaman baru yang didapat abinya sulthan. Mulai dari permasjidan (karena tinggal di komplek masjid), mengajar alquran metode ummi (sebelumnya kami belajar metode qiroati), upgrade skill menulis opini dan berita, hingga belajar bahasa inggris di kampung inggris pare.

Lha istrinya?
Dua tahun ini jadi ibu baru untuk sulthan. Nemani tumbuh kembangnya setiap hari. Jadi temannya saat mulai hamil adiknya di usianya 14 bulan. Terpaksa menyapihnya sebelum dua tahun. Lalu menikmati hari hari luarbiyasah di awal awal si adik lahir. Hingga hari ini jadi teman main mereka berdua, sang duo krucil follower sejati: Sulthan dan Rayna.

Dua tahun tidak menulis di blog, sebenarnya tetap menulis di aplikasi note. Sebagian masih tersimpan, sebagian jadi caption di instagram, sebagian tak terselesaikan, tapi sebagian juga hilang. Dan semuanya tergagal posting disini.

Setelah beberapa hari lalu berhasil buka blog ini, rupanya masih ada draft tulisan tahun 2013 yang masih berupa draft. Nah ini nih yang paling tergagal posting. Lima tahun yang lalu kalo tidak salah, saya mau posting tentang perkuliahan perpajakan. Saya gabung dengan kelas kakak angkatan 2009, jadi kelasnya penuh sesak. Ada sedikit obrolan saya dengan Mbak Lungguh (2009), tentang seseorang yang memberi komentar panjang lebar saat itu. Mbak Lungguh bilang, orang yang berkomentar itu dulunya pendiam, tapi akhir akhir ini aktif nanya dan komentar. Orang yang berkomentar itu tiga kali ikut olimpiade ekonomi islam mewakili kampus.

Tapi salah. Setelah folder draft dibuka, tulisan yang tersimpan lima tahun yang lalu bukan itu. Melainkan sepucuk surat dari orang yang berkomentar di kelas perpajakan. Sebuah surat istimewa. Surat yang paling tergagal posting karena kalo diposting cuma bikin baper para jomblo.

Makasih ya, orang yang berkomentar di kelas perpajakan. Uhibbuk fillah jiddan.

Iklan

And We Have a Baby!

Baby Sulthan

Namanya Muhammad Sulthan Muktafibillah. Calon mujahid dan mujtahid yang lahir dari rahimku sendiri, pada hari Jumat 1 Mei 2015 dua menit sebelum pergantian hari menurut kalender masehi.

Skenario Allah memang terbaik, tepat dan luar biasa. Pagi itu Mas Fi datang dari Jogja. Sudah sebulan kami LDR Tulungagung Jogja dan bertemu tiap dua minggu. Sore hari perut saya sudah mulas tiap lima menit sekali. Usai maghrib kami pergi ke bidan. Naik motor, sebab mobil abi dipinjam temannya, dan abi pun sedang perjalanan pulang dari Ponorogo. Saya dicek oleh bidan dan katanya belum pembukaan, kami disuruh pulang lagi. Sekitar pukul setengah sebelas, sudah ada tanda2 akan melahirkan. Saya langsung bangunkan suami dan orangtua. Betapa MahaKuasa Allah, abi sudah datang dari Ponorogo dan mobil yang dipinjam ke Surabaya juga baru saja dikembalikan.

Kami berempat naik mobil. Begitu mobil sampai di Jalan Raya, hujan turun deras. Selama di mobil saya mengaduh aduh tak karuan setiap mulas. Perjalanan lancar sampai kami melewati perlintasan kereta api. Ada kereta yang mau lewat, tapi sungguh timingnya pas sekali, mobil kami sudah melewati perlintasan itu tepat sebelum sirine perlintasan berbunyi.

Singkat cerita sampai di bidan saya sudah pembukaan tujuh, dan sekitar satu jam kemudian bayi dapat lahir dengan normal walaupun bukan kepala bayi yang keluar duluan melainkan kedua kakinya.

Hari hari saya kemudian menjadi begitu…berbeda. Rasa bahagia memiliki bayi bercampur kelelahan mengurusnya. Ibu baru pada umumnya ternyata merasakan hal yang sama. Sejak usia 0 hingga 3 bulan bayi belum memiliki jadwal tidur. Jadi tidak heran kalau siang jadi malam, dia tidur terus padahal banyak tamu yang datang menjenguk. Dan malam jadi siang, ngajak begadang. Ibu baru banyak yang syok menghadapi situasi ini, capek, mengeluh, atau ikut menangis jika bayi menangis.

Padahal anak adalah amanah. Kita hanya perlu sedikit sabar dan sedikit bantuan dalam adaptasi ini. Saya beruntung ada ummii yang selalu bergantian berjaga, bahkan membangunkan saya kalau saya belum bangun juga padahal Sulthan sudah merengek, selalu menggantikan menggendong sambil menyuruh saya segera makan, dan lain lain. Saya juga membaca pengalaman pengalaman para ibu muda di internet. Hasilnya semakin membuat saya semangat dan memahami betapa luar biasanya menjadi ibu. Jika banyak di luar sana wanita yang tidak mau repot dengan anak anak atau menunda menikah dengan alasan belum siap dengan setumpuk tugas ibu, sesungguhnya menjadi ibu itu kebahagiaan dan merupakan tugas yang amat mulia.

#Latepost

Jogja, Nov 2015

Ummu Sulthan

Keep Tawaazun

Beliau pengemban dakwah. Seorang pekerja keras. Setiap harinya beliau bekerja sebagai karyawan sebuah kampus unik ekonomi islam ideologis, STEI Hamfara Yogyakarta. Jangan minta saya menceritakan dimana letak kampus istimewa ini, karena tempatnya terpencilnya memang spesial di sebuah –kami menyebutnya- bukit perjuangan. Lokasinya benar-benar di bukit, bahkan google maps tak mampu mengindranya dengan baik. Oke, kembali pada si beliau ini. Jadi beliau adalah pengemban dakwah sekaligus staf karyawan di sebuah perguruan tinggi. So? Bukan Cuma itu, beliau juga masih menempuh studi S2, siap kapan saja menggantikan dosen mengajar, menyimak hafalan ayat ekonomi santri setiap hari, juga punya amanah mengajar ma’had bahasa arab dan kadang diminta mengisi bimbingan belajar SD. So? Lagi-lagi anak autis (baca:apatis) jaman sekarang melontarkan pertanyaan ketidakpeduliannya: masalah buat loe??

Coba deh kita bayangkan sejenak. Waktu seharian dua puluh empat jam harus dibagi dengan banyaknya tugas beliau. Pagi sebelum beliau berangkat ke UGM, harus mengajar bahasa arab dulu. Persiapan kuliah beliau sendiri tentu harus sudah menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Lalu ke kantor untuk mengurusi pekerjaan. Pekerjaan kantor sering kali membuat dirinya jatuh bangun kleleran karena banyak pekerjaan yang diamanahkan untuknya, sebagai asisten kaprodi, apalagi waktu itu masa-masa akreditasi yang menyedot banyak waktu, tenaga, pikiran, dan segenap perasaan dan jiwanya (yang terakhir agak lebay sih).

Sore hari baru selesai untuk menyimak hafalan ayat ekonomi atau untuk mengajar bimbel privat. Belum lagi waktu-waktu untuk kajian intensif, untuk menyebar buletin islam, untuk diskusi, berbagai agenda organisasi dakwah, juga waktu-waktu untuk kebutuhan beliau pribadi. Oh!
Nangis. Biasalah, senjatanya kaum hawa. Pun juga beliau. Tak terhitung sudah berapa bulir bening air mata yang menetes. (Yaiyalah, masa mau dihitungin?)

Setiap hari waktunya hanya untuk kuliah-dakwah-kerja. Masing-masing menuntut porsi yang cukup, dan beliau merasa tidak bisa proposional. Harus dikorbankan salah satu, pikir beliau. Menghentikan kuliah pilihan mustahil, karena kalau beliau berhenti dalam studi beasiswa S2, beliau justru harus membayar denda. Baca lebih lanjut

Blog Cinta

Dan akhirnya kami benar benar dipertemukanNya. ❤

Semangat Berbagi

Mulanya tak sengaja mata menyapa paras wajah seseorang dengan kekhasan mimiknya. Mungkin bukan sekedar tak sengaja, namun jua bisa karena terpaksa melihatnya.

Bagaimana tidak, begitulah adanya? Dalam tiga semester dipersuakan oleh mata kuliah yang sama. Entah berapa mata kuliah waktu itu yang bisa membuat perjumpaan itu ada. Dari sapaan kedua bola mata kala itu, rasanya ada yang berbeda.

Sesekali mungkin biasa saja. Akan tetapi, berlanjutnya waktu serasa ada yang,mengganjal dalam dada. Tidak seperti biasanya. Rasa penasaran lahir laksana ombak menyapu ketenangan lautan di sore hari dengan derasnya. Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hati dan relung fikir, siapa gerangan pemilik paras wajah itu biasa disapa? Allah lah Maha Pengatur segalanya. Tiada satupun debu dalam perjalanan hidup seseorang yang luput dari naungan-Nya. Semua sudah terekam dalam ilmu-Nya. Dialah yang mempertemukan segalanya.

Atas kehendaknya ‘rasa berbeda’ kepada lawan jenis pun bersemi dengan kuatnya. Karena kehendak-Nya sajalah pertanyaan siapa gerangan dia terjawab dengan jelasnya. Ternyata…

Lihat pos aslinya 274 kata lagi

The Wedding Part 3 (habis)

Sambungan The Wedding Part 2

Souvenir

Buku mini warna pink dengan judul besar “Our life is dakwah” kami buat sendiri untuk dijadikan souvenir. Isinya tentang bagaimana pernikahan islami, dan bagaimana menjadikan pernikahan atau apapun aktivitas kita tetap untuk dakwah. Nantinya buku mini itu akan benar benar kami bukukan menjadi buku hehe. Tunggu saja tanggal mainnya.

Lokasi

Akad nikah dilakukan di mushola sumeleh, mushola kecil tapi mempesona. Letaknya tak jauh dari rumah. Mempelai pria, wali mempelai wanita, petugas dari KUA, saksi, dan tamu laki laki berada di dalam mushola. Saya, umi, adik adik perempuan, dan tamu tamu perempuan ada di terasnya. Lalu walimahnya dilangsungkan di gedung olahraga di samping mushola. Tamu pria dan wanita dipisah, dengan pintu masuk yang berbeda. Di dalam gedung hanya ada karpet untuk duduk lesehan mendengarkan pengajian dari ustadz shiddiq al jawi sambil makan kacang rebus, pisang rebus, dan ketela rebus yang disajikan. Setelah itu boleh makan siang prasmanan di tempat yang disediakan, dengan tamu pria wanita tetap dipisah dengan hijab yang tinggi.

25th may is the day

Pagi pagi pukul setengah tujuh, rombongan dari Jogja datang. Dua bus rombongan itu membawa pengantin pria dan keluarga dari Purbalingga sekaligus teman teman akhwat dari hamfara. Sedangkan teman teman ikhwan hamfara sebagian besar sudah sampai tadi malamnya, konvoi naik motor. Jadi sekitar tiga puluhan akhwat hamfara dan tiga puluhan ikhwan hamfara datang di pernikahan kami. Istimewa sekali rasanya seperti hamfara pindah ke Tulungagung. Teman teman angkatan bahkan adik adik angkatan juga banyak yang ikut.
Sekitar pukul setengah sepuluh pagi kami sudah siap di mushola sumeleh. Ijab diucapkan oleh abi saya sendiri, dan beliau grogi sampai dua kali salah. Sedangkan qabulnya dengan lancar dikatakan oleh suami saya. Dan sontak semua hadirin di mushola itu berteriak, “Sah, Alhamdulillah”. Saya dibawa masuk ke dalam mushola untuk tandatangan, lalu mencium tangan lakilaki yang tadi mengucap qabul. Riuh teman teman ikhwan menggoda kami sambil mengabadikan dengan kameranya masing masing. Seperti artis saja.
Kemudian kami temui orangtua kami masing masing, berpelukan dan menangis. Lalu keluar dari mushola untuk menuju tempat berganti pakaian, menumpang di tetangga. Berjalan berdua, kikuk, dan dipaksa untuk bergandengan tangan di depan para tamu dan tentunya teman teman kampus. Usai berganti pakaian walimah, yang warna kuning emas, kami berjalan diiringi teman teman akhwat dari depan belakang, kiri kanan, sambil senyam senyum melihat kami yang bergandengan tangan lagi dengan kaku.
Sampai di gedung, kami langsung berpisah, berjalan sendiri sendiri ke pintu masing masing. Tidak untuk dipajang, melainkan berbaur dengan tamu tamu yang lain. Sebelum dzuhur acara usai. Sesi berfoto ada di rumah, di ruang tamu yang sudah dipasang backdrop besar pernikahan kami.

The Wedding Part 2

Sambungan dari The Wedding Part 1

Khitbah dan Taaruf

Suatu malam, saya mendapati ada pesan di inbox facebook saya. Saya curiga dengan pengirimnya, yaitu akun usaha milik seorang ikhwan kakak angkatan yang saya tau siapa. Lebih mencurigakan lagi, dia melampirkan file word dengan judul “teramat rahasia”. Saya unduh filenya, saya baca, dan saya terperangah. Beberapa hari kemudian saya konfirmasi kepada nomor yang dicantumkan di surat itu, untuk langsung menghubungi ayah saya. Dan selanjutnya, sang ikhwan datang ke rumah saya langsung untuk meminta saya dari orangtua saya.

Rasanya campur aduk. Saya belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saya bertemu dengannya nanti di kampus. Dalam beberapa bulan kemudian, saya dan dia terikat sebuah ikatan khitbah. Kami berkomunikasi dengan email dan whatsapp. Pada awalnya dia saya minta untuk membuat proposal pernikahan. Sekitar empat puluh halaman dia buat, termasuk di dalamnya cv, cerita tentang keluarganya, timeline aktivitasnya, dan lainnya. Dia tidak meminta saya balik membuat cv. Saya hanya diminta untuk mengomentari proposalnya, sehingga kami berdiskusi tentang hak kewajiban istri suami, kondisi kondisi tertentu, rencana tempat tinggal, profesi suami, jika istri bekerja, melanjutkan studi, dan sebagainya. Kami sering bertemu -lebih tepatnya melihat- ketika di kampus. Segera membuang muka, berpura pura tidak terjadi apapun. Lucu kalau diingat, kadang dia yang terkesan kabur menghindari saya. Hehehe.

Undangan

Untuk minimasi biaya pernikahan, kami memilih undangan yang sederhana dengan balutan lembut warna cokelat tua dan krem. Untuk jumlahnya, bisa diperkirakan secukupnya saja. Undangan biasanya disebar dua atau tiga minggu sebelum hari H. Tapi spesial teman teman dan dosen di kampus, kami membagi undangannya pada hari sabtu 17 mei 2014 alias H-8. Sebab, saya masih menyelesaikan ujian pendadaran pada H-9. Saya harus menyelesaikan revisi dan mengurus berkas berkas yudisium sebelum saya pulang. Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya? Beberapa hari lagi menikah, masih di kampus, dan sesekali terpaksa bertemu calon suami (karena dia menjadi karyawan di kampus), dan kami tetap berlaku seolah tidak kenal? Aaaaaak. H-4 saya baru bisa menyelesaikan semuanya dan segera pulang ke Tulungagung.

Gaun

Sekitar satu bulan sebelum hari H, kami menghadap KUA Tulungagung untuk menyelesaikan administrasi. Juga ke toko kain untuk dijahit menjadi gaun pernikahan, serta ke puskesmas untuk pengecekan kesehatan. Tidak pernah hanya berdua, tentu ditemani kedua orangtua saya. Saya memilih kain satin warna kuning keemasan dan dipadukan dengan broklat emas. Sedangkan untuk calon saya umi memilihkan warna coklat bata untuk atasannya, karena di kain broklat saya ada sedikit warna coklat batanya. Ada kejadian unik di toko kain itu, saat mbak mbak penjaganya mengetahui bahwa kami membeli kain untuk baju pernikahan. Si mbak mbak itu bilang sama umi saya, “Anaknya yang laki laki ya Bu?” Waaak?

Kain untuk gaun saya dijahitkan di teman umi, dan untuk calon saya ke penjahit pria. Jadilah gaun sederhana saya berupa gamis lebar paduan satin dan broklat, lalu memakai kerudung yang sama dengan bahan satin. Kerudungnya hanya saya pakai seperti biasanya, tetap lebar menjulur, tanpa memakai konde, tanpa punuk, tanpa melati, hanya pakai bros yang agak besar di bagian atas samping kepala. Riasan hanya bedak, celak dan sedikit pelembap bibir, yang semuanya mudah hilang sekejab. Jadilah kalau di foto hampir hampir seperti tidak pakai riasan apa apa. Suami saya pakai kemeja semi jas warna coklat bata dan celana panjang warna coklat tua, dan peci yang sewarna dengan kerudung saya. Akad dan walimah berlangsung berurutan, tidak berganti pakaianpun tidak masalah. Tapi ternyata saya dapat kado spesial beberapa hari menjelang pernikahan. Sahabat saya yang di Kalimantan mengirimkan paket berisi gaun pengantin putih. Satin putih polos, lalu dirangkap dengan kain yang full manik manik, kerudung satin putih serta selendangnya. Waaaaaah alhamdulillah mau saya pakai untuk prosesi akad nikah.
Beberapa hari mencarikan jas untuk pengantin pria sulit, akhirnya jreng jreng, pakai jas punya ayah saya. Jangan salah, dulu ayah saya juga sekurus suami saya hehe. Dan alhamdulillahnya pas, walaupun agak sedikit kurang panjang lengannya. Jadi untuk urusan gaun, gak usahlah ribet2, yang penting syar’i. Yang penting saaaaaaaaaaaaah. Alhamdulillah.
(bersambung)

The Wedding Part 1

Sebelum menikah, saya kerap sekali membuka situs situs atau blog tentang pernikahan, baju walimah, serta cerita cerita para pengantin utamanya ketika pesta pernikahan. Nah, sekarang giliran saya untuk menceritakan tentang pernikahan saya sendiri. Baragkali, ya barangkali, nanti ada akhwat akhwat yang mau menikah dan sedang browsing tentang pernikahan syar’i.

Menikah memang hal yang penuh pertimbangan. Mulai dari pertimbangan menerima atau menolak sang ikhwan yang datang melamar, menentukan tanggal pernikahan, membahas segala administrasi ke KUA, serta riweuhnya pesta pernikahan itu sendiri. Gaunnya, misalnya, undangannya, makanannya, pemisahan tamu laki laki dan perempuannya, souvenirnya, dan segala macam perniknya. Yang paling penting adalah bagaimana mengkondisikan keluarga agar mau mengadakan acara walimah yang syar’i, sesuai tuntunan islam itu.

The first: Siap, nggak?
Di kalangan aktivis islam, termasuk di kampus saya, menikah adalah impian para jombloers. Melayakkan diri, upgrade diri, selalu dilakukan agar mendapat jodoh yang “layak” pula. Tidak mengherankan jika ada yang menikah ketika belum lulus, atau bahkan sebelum kuliah. Hanya saja di kampus saya menikah itu menjadi hal yang sangat menghebohkan sebab dari angkatan 2010 hingga 2013 ada larangan menikah dari kampus. Bagi pelanggarnya? Ada denda.

Suasana sebaliknya terjadi di kalangan mahasiswa konvensional. Seorang mahasiswi non aktivis pernah mempertanyakan kepada saya tentang keputusan saya untuk menikah. Apalagi menikah dengan orang yang cukup asing. Ya, walaupun suami saya adalah kakak angkatan saya sendiri, pernah beberapa kali satu kelas dan satu kepanitiaan, tetap saja saya menjaga jarak seperti kepada ikhwan ikhwan yang lain, dan tidak berkomunikasi tanpa alasan syar’i. Masyarakat umumnya menganggap bahwa untuk melangkah ke arah pernikahan, perlu ada proses pengenalan dengan pacaran. Sehingga ketika sudah saling mengenal sifat karakter masing masing dan bisa saling menerima, maka baru diputuskan untuk menikah. Tapi, selain tidak ada ketentuan pacaran dalam islam, nyatanya pacaran lebih banyak hanya untuk hiburan saja, untuk hubungan yang sama sama tidak serius saja.

Dalam islam ada ta’aruf, proses pengenalan dua insan yang ingin menikah, diikat dengan ikatan khitbah, punya kepastian tanggal pernikahan yang disegerakan, pertemuan selalu ditemani oleh wali sang akhwat, dan berkomunikasi seperlunya tanpa ngedate sana sini khalwat yang diharamkan. Taaruf hanya diketahui oleh keluarga dan orang orang dekat, di dalamnya saling bertukar visi misi, harapan, dan lain lain seputar kehidupan pernikahan, kondisi keluarga, gambaran kehidupan setelah menikah, dan lain lain. Proses islam lebih jelas dan simpel, serta tidak merugikan siapapun. Jadi dua orang yang sama sama serius untuk membina rumah tangga, dan dasarnya adalah islam, ya, mengapa tidak segera menikah?

Kembali kepada kesiapan untuk menikah. Siap mental, siap fisik, siap ilmu. So pasti ini hal pertama yang musti jadi pertimbangan untuk menikah. Ketika ada seorang ikhwan sejati yang mendatangi orangtua kita untuk ‘meminta’ kita, pertanyaan pertamanya adalah apakah kita sudah siap untuk menikah? Sebab pernikahan bukan sekedar menjadi pengantin. Tapi setelahnya kita menjadi makmum, orang pertama yang wajib menaati perintah suami, orang pertama yang menjadi penentram hatinya, pengobat lukanya, pengingat segala kelupaannya, pemerhati kesehatannya, pemerhati kebersihan dan kerapihan rumahnya, ibu dan madrasah pertama bagi anak anaknya, menantu bagi orangtuanya, ipar bagi saudaranya, dsb, dsb.

Kesiapan itu tak ada patokan umur. Kalau sudah baligh, seorang muslim sudah dibebani hukum, semua kewajiban syariat sudah ada pada pundaknya, dosanya tidak dipikul orangtuanya lagi. Siap dalam arti menyanggupi akan melaksanakan segala kewajiban berumahtangga nanti. Menjadi istri atau suami. Sama sama siap menjalankan syariat ketika sudah berumahtangga? Siap untuk saling cinta karena Allah? Siap mendidik anak anak dengan islam? Siap menjadikan keluarga adalah keluarga dakwah? Ya hayuk atuh.
(bersambung)